almuhtada.org – Malam adalah waktu yang Allah ciptakan untuk ketenangan dan istirahat. Setelah seharian manusia sibuk dengan urusan dunia, malam hadir sebagai waktu untuk menenangkan tubuh dan hati. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang justru merasa pikirannya semakin ramai ketika malam tiba.
Hal-hal yang siang tadi berhasil dilupakan tiba-tiba muncul kembali. Kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan masa lalu, rasa takut, kecewa, hingga percakapan kecil yang terus terulang di kepala. Bahkan terkadang, semakin malam suasana menjadi sunyi, semakin keras isi pikiran berbicara.
Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (untuk beristirahat).” (QS. An-Naba’: 10)
Dalam ayat lain Allah juga berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ
“Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat padanya.” (QS. Yunus: 67)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa malam diciptakan sebagai waktu ketenangan. Namun ketika hati terlalu penuh dengan urusan dunia, dosa, kegelisahan, dan jauhnya diri dari Allah, maka ketenangan malam menjadi sulit dirasakan. Tidak sedikit orang yang akhirnya sulit tidur bukan karena tubuhnya belum lelah, tetapi karena pikirannya terlalu penuh.
Terkadang yang membuat pikiran semakin ramai di malam hari bukan karena masalahnya terlalu besar, tetapi karena hati terlalu lama menanggung semuanya sendirian. Terlalu banyak dipendam, terlalu jarang diceritakan kepada Allah.
Rasulullah juga mengajarkan bahwa hati manusia dapat menjadi lelah dan gelisah. Karena itu, Islam memberikan banyak amalan malam yang dapat menenangkan jiwa, seperti dzikir sebelum tidur, membaca Al-Qur’an, istighfar, dan shalat malam.
Di antara dzikir yang diajarkan Rasulullah sebelum tidur adalah membaca tasbih, tahmid, dan takbir
“Bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertakbirlah 34 kali sebelum tidur.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Terkadang pikiran menjadi semakin ramai di malam hari karena hati terlalu jarang diajak mengingat Allah. Siang hari dipenuhi kesibukan dunia, sementara malam pun diisi dengan distraksi yang membuat hati semakin jauh dari ketenangan. Padahal Allah telah menjelaskan:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Malam juga merupakan waktu yang istimewa untuk berdoa. Dalam hadits disebutkan:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini seakan menjadi pengingat bahwa saat manusia merasa paling sepi di malam hari, sebenarnya Allah membuka pintu-Nya paling dekat. Mungkin selama ini, ketika pikiran mulai ramai di malam hari, manusia lebih sering mencari distraksi agar cepat lupa. Padahal bisa jadi, hati hanya sedang ingin diajak kembali kepada Allah.
Ada hati yang menjadi lebih tenang setelah menangis dalam doa. Ada pikiran yang perlahan reda setelah istighfar yang panjang. Dan ada jiwa yang akhirnya merasa ringan setelah menceritakan semuanya kepada Allah dalam sujud malam.
Penulis: [Fitri Novita Sari]











