almuhtada.org – Di sadari atau tidak, kita tidak pernah terlepas dari nikmat Allah Swt. Mulai dari bangun tidur hingga beranjak tidur lagi, Allah selalu memenuhi apa yang kita butuhkan.
Bahkan, dalam keadaan tidur sekalipun, Allah mampukan tubuh kita untuk bernapas dan bermetabolisme, serta mengizinkan kita untuk membuka mata kembali.
Tanpa kita minta, Allah telah memberikan semuanya. Nikmat berupa kedipan mata, gerakan tangan dan kaki, kemampuan berpikir, bahkan oksigen yang Allah berikan kepada kita secara gratis. Nikmat Allah yang diberikan kepada kita jauh lebih besar dari apa yang kita ketahui. Lebih nikmat dari apa yang kita rasakan. Sesungguhnya, kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Allah Swt. berfirman:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ ٣٤
Artinya: “Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya. Namun, sering kali kita lalai dan tidak menyadari besarnya karunia yang telah Allah berikan kepada kita. Kita terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita.
Kenikmatan adalah pemberian dari Allah yang sudah sepantasnya kita syukuri. Rasa syukur seorang hamba kepada Allah bukanlah bentuk ganti rugi atau balas jasa terhadap nikmat pemberian Allah, akan tetapi sebagai implementasi rasa syukur kepada-Nya. Syukur adalah bentuk penghambaan, pengakuan, dan kesadaran bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah. Pahalanya akan kembali lagi kepada kita yang bersyukur. Allah Swt. berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur adalah sebab bertambahnya nikmat. Sebaliknya, kufur nikmat dapat mengundang hilangnya keberkahan dan datangnya azab Allah Swt. Kufur nikmat berarti menutup, melupakan, dan tidak mengakui bahwa nikmat yang didapat sesungguhnya berasal dari Allah Swt.
Manusia yang kufur nikmat berarti dia telah menyingkirkan peran Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pemberi. Mereka beranggapan bahwa apa yang ia peroleh tidak lain adalah hasil jerih payahnya sepanjang hari dan malam.
Allah telah menyiapkan dan memberikan kepada setiap hamba-Nya yang meminta. Baik itu dikabulkan Allah secara langsung lewat upaya hamba-Nya, atau melalui perantara lain.
Seandainya apa yang kita minta tidak Allah kabulkan, maka itu artinya Allah telah menyiapkan hal lain yang lebih baik untuk kita. Di balik tidak terpenuhinya permintaan seorang hamba, pasti ada hikmahnya. Allah adalah sebaik-baiknya sutradara.
Dia tahu apa yang baik dan tidak untuk hamba-Nya. Boleh jadi, apabila kita mengetahui hikmah dari apa yang kita minta tidak terkabul, maka kita tidak akan memintanya. Oleh karenanya, hendaknya kita berhusnudzan dan bersyukur atas apa yang terjadi kepada kita. [] Nihayatur Rif’ah











