Mengapa Mengendalikan Emosi Menjadi Salah Satu Ujian Terberat dalam Hidup?

Gambaran orang selalu dekat dengan Allah swt (https://freepik.com-almuhtada.org).

Almuhtada.org  Manusia bukanlah Nabi yang diberi kesempurnaan dalam mengendalikan emosi.

Nabi Muhammad SAW pernah menghadapi ujian yang berat,  namun beliau tetap menunjukkan ketenangan dan kesabaran yang luar biasa.

Berbeda dengan kebanyakan kita, saat masalah datang, amarah sering dilampiaskan dengan cara yang salah.

Ada yang membenturkan kepala ke tembok, melempar kursi, memaki, bahkan menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Pertanyaannya, apakah melampiaskan amarah dengan cara-cara seperti itu benar-benar bisa menenangkan diri? Menurut saya, tidak.

Melampiaskan amarah dengan kekerasan justru tidak membuat hati tenang dan tidak pula membuat amarah hilang.

Yang terjadi justru sebaliknya: hati semakin panas, penyesalan datang belakangan, dan hubungan dengan orang lain bisa rusak.

Amarah yang tidak dikelola hanya memindahkan luka dari satu tempat ke tempat lain.

Maka cobalah alihkan amarah dengan cara yang lebih baik, baik dari sisi psikologi maupun ajaran Islam.

Inilah bentuk nyata dari self healing Islam yang menenangkan jiwa sekaligus menjaga spiritualitas.

Pertama, ingat selalu hadis terkenal tentang larangan marah.

لا تغضب ولك الجنة

Jangianlah engkau marah, maka bagimu surga.” (HR. At-Tabrani)  dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa bukan berarti kita tidak boleh merasa marah sama sekali.

Marah adalah emosi manusiawi.

Namun, yang ditekankan adalah mengontrol luapan marah itu.

Mengendalikan diri saat amarah memuncak adalah perkara sulit, tapi Allah SWT  menjanjikan hadiah yang sangat istimewa: surga.

Baca Juga:  Refleksi Sosial di Balik Ketegangan Pengepungan di Bukit Duri Garapan Joko Anwar

Ketika kita memilih diam, menarik napas, dan menahan lisan, sebenarnya kita sedang berjuang melawan ego.

Dan perjuangan itu tidak pernah sia-sia di sisi Allah.

Kedua, praktikkan langkah praktis yang diajarkan Rasulullah SAW untuk meredam amarah. 

Jika sedang marah, ubahlah posisi tubuh.

Jika awalnya berdiri, maka duduklah.

Jika duduk belum cukup meredakan, maka berbaringlah.

Perubahan posisi ini secara psikologis membantu menurunkan intensitas emosi karena tubuh mendapat sinyal untuk melambat.

Jika cara itu belum berhasil, cara terakhir yang paling mujarab adalah berwudhu.

Air wudhu memiliki efek menenangkan, seperti api yang tersiram air.

Secara ilmiah, membasuh wajah, tangan, dan kepala dengan air dingin membantu menurunkan detak jantung dan meredakan ketegangan otot.

Secara spiritual, wudhu mengingatkan kita bahwa kita sedang berada di hadapan Allah.

Kesadaran ini membuat hati kembali tenang dan pikiran lebih jernih.

Ketiga, arahkan hati pada dzikir dan muhasabah

Ketenangan hati tidak akan datang dari melampiaskan amarah, tapi dari mengingat Allah.

Saat amarah datang,  Ucapkan istighfar dan sholawat.

Aktivitas ini mengalihkan fokus dari kemarahan ke hal yang lebih besar dari masalah kita.

Inilah inti dari spiritual Islam  menjadikan setiap emosi sebagai pintu untuk mendekat kepada Allah, bukan menjauh.

Menahan amarah memang berat, tapi hasilnya adalah hati yang lebih ringan dan hidup yang lebih damai.

Baca Juga:  Seorang Nenek :)

Jangan tunggu sampai amarah merusak hubungan dan kesehatan mentalmu.

Mulailah dengan langkah kecil: diam sejenak, tarik napas, dan ingat bahwa surga menanti orang yang mampu mengendalikan dirinya. [Azizah Fiqriyatul Mujahidah]

Related Posts

Latest Post