Almuhtada.org – Saat kita kecil atau ketika beranjak remaja, kita sering merasa bahwa orang tua selalu mengekang.
Mereka selalu melarang ini, melarang itu, memarahi kita ketika melakukan suatu kesalahan, bahkan terkadang mengambil keputusan yang selalu tidak kita sukai.
Dalam pikiran seorang anak tentu hal tersebut sangat lah menyebalkan.
Kita tentu merasa tidak dipahami, merasa selalu dibandingkan, atau bahkan merasa orang tua terlalu keras terhadap hidup kita.
Ketika kita beranjak dewasa, seseorang akan semakin paham hidup dan bahkan mengerti alasan di balik sikap orang tuanya.
Banyak hal yang dulu terasa seperti kebencian, ternyata adalah sebuah bentuk kasih sayang yang belum pernah kita mengerti di usia dini di kala itu.
Larangan pulang malam mungkin bukan karena orang tua ingin mengatur hidup kita, tetapi karena takut terjadi sesuatu.
Teguran tentang suatu pergaulan bukan muncul karena ketidakpercayaan kepada anaknya, namun karena keinginan untuk menjaga dari perbuatan yang mungkin tidak di inginkan.
Terkadang seorang anak hanya melihat kemarahan orang tuanya.
Seorang anak belum tentu melihat kecemasan dan perjuangan yang orang tua sembunyikan.
Hingga dalam islam, orang tua memiliki kedudukan yang sangatlah mulia.
Allah subhanahu wataala berfirman;
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Q.S. Al-Isra’:23)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi seorang anak.
Ayat tersebut juga menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua di sisi-Nya.
Terlepas dari benar atau salah, orang tua juga seorang manusia.
Orang tua juga bisa merasakan lelah, emosi, atau bahkan salah dalam mengambil keputusan.
Orang tua juga tidak hidup dengan buku panduan untuk tata cara menjadi ayah atau ibu yang benar-benar sempurna.
Bahkan banyak dari para orang tua yang belajar sambil berjuang membesarkan anak-anaknya.
Terkadang cara mereka menyampaikan kasih dan sayang memang tidak selalu lembut.
Ada orang tua yang menunjukkan cintanya melalui kerja keras, ada yang menunjukkan lewat nasihat, bahkan ada yang terlihat keras karena takut anaknya jatuh pada kesalahan yang sama seperti yang pernah mereka alami.
Rasullullah pernah bersabda;
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (H.R. Tirmizi)
Hadist ini bukan berarti seorang anak harus membenarkan semua tindakan orang tua tanpa berpikir, tetapi mengajarkan bahwasannya menghormati orang tua dan menjaga hatinya adalah bagian penting dari akhlak seorang muslim.
Seiring bertambahnya usia, banyak anak akhirnya menyadari betapa beratnya menjadi orang tua.
Ketika mulai menghadapi kehidupan sendiri, mencari nafkah, memikirkan masa depan, dan memikul tanggung jawab besar, hingga seseorang mengerti mengapa orang tua dulu sering khawatir.
Kedewasaan sering kali mengajarkan bahwa orang tua bukan ingin menyulitkan hidup kita. Mereka hanya ingin memastikan anaknya tidak hancur oleh dunia yang keras.
Mungkin ada luka. Mungkin ada kesalahpahaman.
Lain dari itu semua, sebagai seorang anak kita bisa melihat sudut pandang yang lebih luas.
Bisa jadi, dari keputusan-keputusan yang kadang kita benci, mungkin ada doa-doa yang terselip di setiap malam, yang mereka panjatkan secara diam-diam untuk anaknya.
Oleh karena itu, mari kita kembali memperbaiki apa-apa yang mestinya bisa kita perbaiki.
Karena ketika kita memuliakan dan senantiasa bersikap baik pada kedua orang tua, maka ridha Allah pun akan kita dapatkan.
Dan itu pasti. Barakallah fii kum.
Wallahu a’lam bissawab. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk senantiasa bersikap baik pada orang tua hingga mendapat ridha-Nya selalu. Aamiiin. [] Rosi Daruniah.











