almuhtada.org – Pernahkah kamu merasa sudah memiliki segalanya? misalnya memiliki pekerjaan mapan, gadget terbaru, atau sekadar waktu luang? Namun, pada sisi lain hati kamu tetap merasa kosong? Dalam psikologi modern, kita sering terjebak dalam hedonic treadmill, di mana kita terus berlari mengejar kesenangan namun tingkat kebahagiaan kita tetap di situ-situ saja.
Menariknya, Al-Qur’an melalui Surah Al-Ashr sudah memberikan spoiler tentang siapa sebenarnya orang yang tidak akan merugi atau orang yang benar-benar bahagia. Dalam Surah Al-Ashr, Allah menggunakan kata “Lafii khusr” (benar-benar dalam kerugian).
Para mufasir (ahli tafsir) menjelaskan bahwa lawan dari rugi adalah keberuntungan dan kebahagiaan yang sempurna.Imam Syafi’i bahkan pernah berkata bahwa seandainya manusia merenungkan surah ini saja, maka itu sudah cukup bagi mereka.
Lalu, apa saja ciri orang yang berbahagia menurut surah pendek ini?
- Memiliki “Jangkar” Iman
Ciri pertama orang bahagia adalah mereka yang memiliki iman. Secara psikologis, iman berfungsi sebagai “jangkar”. Orang yang beriman tidak mudah terombang-ambing oleh tren atau validasi orang lain. Mereka bahagia karena tahu bahwa hidupnya memiliki tujuan besar. Kebahagiaan mereka tidak bersifat sementara karena didasarkan pada hubungan dengan Sang Pencipta.
- Sibuk Menanam Amal Saleh
Bahagia itu bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita lakukan. Al-Ashr menyebutkan wa ‘amilush-shalihat. Orang yang bahagia adalah mereka yang produktif. Mereka mengubah waktu menjadi karya atau bantuan bagi sesama. Mereka paham bahwa rasa puas muncul saat kita menjadi solusi bagi lingkungan sekitar, bukan sekadar penikmat fasilitas.
- Menjadi Bagian dari Ekosistem Positif (Tawashau bil Haqq)
Manusia adalah makhluk sosial. Namun, orang yang bahagia tidak sekadar bergaul, mereka membangun komunitas yang saling menasihati dalam kebenaran. Ciri orang bahagia adalah mereka yang terbuka terhadap saran dan berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik. Tidak ada drama berlebihan atau kepura-puraan dalam hidupnya, karena lingkungannya didasari oleh kejujuran dan ketulusan.
- Memiliki Napas Panjang dalam Kesabaran (Tawashau bish Shabr)
Dunia tidak selalu berjalan sesuai rencana kita. Itulah mengapa ciri terakhir orang bahagia adalah sabar. Sabar di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan memiliki daya tahan (resilience). Mereka bahagia karena tidak mudah hancur saat gagal dan tidak sombong saat berhasil. Mereka sadar bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses pendewasaan.[]Lailia Lutfi Fathin











