Viral Minus 5 LCC Pontianak, Saat Nilai dan Keadilan Dipertanyakan

Ilustrasi papan skor -5 pada lomba LCC yang disaksikan para siswa lomba tersebut (magnific.com-almuhtada.org)

Almuhtada.org – Belakangan ini, publik dibuat ramai oleh kontroversi dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi di Pontianak, Kalimantan Barat.

Seorang siswa dari SMAN 1 Pontianak mendapat pengurangan nilai minus 5 karena dianggap salah menjawab pertanyaan tentang tata cara pemilihan anggota BPK.

Namun yang membuat banyak orang geleng kepala, jawaban yang sama justru dinyatakan benar ketika dilempar kepada kelompok lain dan diberikan nilai penuh.

Insiden ini kemudian memicu protes dari peserta karena merasa dirugikan. Sayangnya, yang lebih disorot publik bukan hanya kesalahan penilaian tersebut, tetapi juga respons sebagian pihak yang dinilai kurang bijak dalam menyikapi keberatan peserta.

Di tengah era ketika rekaman video bisa dengan mudah diputar ulang untuk memastikan kebenaran, keputusan yang terkesan mengabaikan klarifikasi justru memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang keadilan dalam dunia pendidikan.

Pendidikan Bukan Hanya Tentang Nilai, Tapi Tentang Keadilan

Lomba cerdas cermat sejatinya bukan sekadar ajang adu cepat menjawab pertanyaan.

Di dalamnya ada nilai sportivitas, kejujuran, ketelitian, dan penghargaan terhadap usaha peserta.

Karena itu, ketika ada keputusan yang terasa tidak adil, dampaknya bukan hanya pada angka di papan skor, tetapi juga pada kepercayaan siswa terhadap sistem.

Kesalahan tentu bisa terjadi pada siapa saja, termasuk juri.

Namun yang paling penting adalah bagaimana sebuah kesalahan disikapi.

Baca Juga:  Piknik Islami

Mengakui kekeliruan bukanlah bentuk kelemahan, justru itu tanda kedewasaan dan integritas.

Islam sendiri sangat menekankan pentingnya berlaku adil, bahkan dalam perkara kecil sekalipun. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90)

Keadilan bukan hanya soal hukum besar atau pengadilan negara.

Dalam ruang kelas, perlombaan, bahkan penilaian sederhana sekalipun, nilai keadilan tetap harus dijaga.

Di era digital saat ini, rekaman ulang dapat menjadi alat klarifikasi yang objektif.

Kesalahan teknis adalah hal yang mungkin terjadi, tetapi ketidaksiapan menerima evaluasi justru dapat melukai peserta yang sudah berusaha dengan jujur.

Apakah perasaan harus selalu disalahkan ketika bisa beres dengan melihat rekaman ulang?

Pertanyaan ini bukan sekadar kritik terhadap lomba tersebut, tetapi juga refleksi untuk dunia pendidikan secara luas.

Sebab terkadang, yang paling membekas dalam ingatan siswa bukan soal sulitnya pertanyaan, melainkan rasa tidak didengar ketika mereka merasa benar.

Ketika Kebenaran Bergantung pada “Terdengar”

Dalam banyak situasi pendidikan, siswa sering diajarkan untuk berani berpikir kritis, percaya diri, dan menyampaikan pendapat.

Namun ironi muncul ketika suara mereka justru diabaikan saat mencoba membela kebenaran.

Apakah menjawab yang benar itu tidak benar jika tidak terdengar?

Kalimat ini terasa sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang dalam.

Baca Juga:  Salah Satu Kunci Kesuksesan Adalah Rasa Percaya Diri

Sebab pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan siswa untuk mencari jawaban yang benar, tetapi juga memastikan bahwa keadilan tetap hadir ketika jawaban itu disampaikan.

Hal yang sering dilupakan adalah bahwa anak-anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari sikap orang dewasa di sekitar mereka.

Mereka memperhatikan bagaimana guru, juri, dan penyelenggara menghadapi kritik, menerima masukan, atau mengakui kesalahan.

Jika sejak kecil mereka melihat bahwa suara yang benar bisa diabaikan, maka yang dikhawatirkan bukan hanya soal lomba hari itu, tetapi tentang pelajaran apa yang tertanam dalam benak mereka tentang keadilan dan keberanian berbicara.

Padahal dalam Islam, mendengarkan dan memverifikasi informasi adalah bagian dari akhlak yang diajarkan. Allah SWT berfirman:

فَتَبَيَّنُوا

Artinya: “Maka telitilah (periksalah dengan benar).” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan pentingnya klarifikasi sebelum mengambil keputusan, terlebih ketika keputusan tersebut menyangkut hak orang lain.

Bukan Soal Kesalahan Semata

Mungkin yang paling disayangkan dari sebuah kesalahan bukanlah salahnya itu sendiri, melainkan ketika tidak ada ruang untuk mengevaluasi dan memperbaikinya.

Padahal pendidikan semestinya menjadi tempat paling aman untuk belajar, termasuk belajar mengakui kekeliruan.

Karena pada akhirnya, anak-anak tidak akan selalu mengingat berapa nilai yang mereka dapatkan.

Tetapi mereka akan mengingat bagaimana mereka diperlakukan dapat mendapat nilai tersebut.

Dan terkadang, satu keputusan yang tidak adil bisa tinggal jauh lebih lama dalam ingatan dibanding satu piala kemenangan.

Baca Juga:  Yuk Hadapi Rasa Lelah Kita dengan Mengingat Allah Yang Maha Penyayang

Wallahu a’lam bishawab, barakallah fiikum [] Rezza Salsabella Putri

Related Posts

Latest Post