almuhtada.org – Pertama, Sabar menjadi Nafas Panjang untuk Menjaga Iman dan juga Amal Saleh
Hukum ketetapan Allah Swt. mengajarkan kepada kita semua bahwasanya iman bukan sekadar keyakinan yang diam di dalam hati begitu saja, akan tetapi iman itu seperti api kecil yang perlu dijaga agar tidak padam oleh angin atau apapun itu.
Maka dari itu perlu kita tahu bersama bahwa keimanan di dalam hati kita pasti akan diuji kemudian juga amal saleh akan diguncang sebagai bentuk penyaringan niat benar-benar hanya karena Allah Swt.
Kadang melalui rasa kekecewaan, kehilangan, atau bahkan kadang melalui kesempitan yang membuat diri kita hingga hampir putus asa.
Maka disinilah sabar berdiri sebagai tiang penyangga utama. Sebagaimana Allah Swt. berfirman di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Qashash ayat ke-80 yang artinya:
Orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, “Celakalah kamu! (Ketahuilah bahwa) pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. (Pahala yang besar) itu hanya diperoleh orang-orang yang sabar.”
Oke mulai sekarang kita renungkan ayat diatas bahwasanya sabar bukan bentuk kepasrahan yang kosong.
Kesabaran merupakan langkah pelan kita yang senantiasa belajar untuk memperbaiki dirinya meskipun diri kita sering jatuh pada kesalahan yang sama.
Itu artinya kemampuan kita untuk tetap berbuat baik ketika dunia terlihat tidak menghargai kebaikan itu sendiri.
Kedua, Meyakini bahwa Iman dan juga Amal Saleh Itu Mampu untuk Kita Lakukan
Mungkin dari kebanyakan diri kita sering merasa ketika ingin beramal saleh itu terasa berat dan juga menjaga iman itu sulit.
Padahal sesungguhnya Allah Swt. sudah menghapus alasan kita jauh sebelum kita mengatakannya. Sebagaimana Allah Swt. berfirman di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-A’raf ayat ke-42:
لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Kami tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya.
Dari ayat diatas seperti menjadi sebuah pintu yang membuka ruang lapang di dalam dada kita.
Itu artinya Allah Swt. tidak menuntut kita menjadi sempurna, hanya meminta kita terus kembali.
Dan juga Allah Swt. lebih mengetahui kemampuan kita lebih daripada diri kita sendiri.
Iman dan juga amal saleh bukanlah menjadi beban, akan tetapi kesempatan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.
Maka dari itu tugas kita bukan hanya bertanya, “Mampu atau tidak?”, akan tetapi tugas kita adalah berani untuk menjawab, “Kita mau atau tidak?”.
Ketiga, Keberuntungan Itu Tidak Pernah Datang Secara Kebetulan
Jika kita perhatikan perjalanan hidup orang-orang saleh, maka sejatinya diri kita akan melihat pola yang sama:
Mereka sabar, tekun dalam iman, konsisten dalam amal saleh. Oleh karena itu keberuntungan yang menyusul mereka, bukan mereka yang mengejarnya.
Begitu pula dengan kita ketika hati kita lurus, semoga Allah Swt. luruskan dan juga mudahkan jalannya.
Kemudian ketika kita membersihkan niat, semoga Allah Swt. membersihkan dan juga menyucikan hati kita melalui berbagai macam ujian hidup.
Dan ketika kita selalu menjaga iman dan juga amal saleh, semoga Allah Swt. selalu jaga kehidupan kita di dunia dan juga kelak di akhirat.
Keberuntungan menurut hukum ketetapan Allah Swt. bukan “kebetulan manis” semata, akan tetapi hasil dari perjalanan panjang hidup kita di dunia ini yang diisi dengan iman, kemudian amal saleh, dan juga sabar.
Hal itu seperti akar yang mengakar kuat di dalam tanah, ia tidak terlihat. Akan tetapi suatu saat dari akar itu akan tumbuh batang, lalu daun, dan bunga yang mekar serta buah-buahan.
Maka begitulah dengan amal saleh yang bekerjan di dalam hidup kita, diam-diam menumbuhkan kebahagiaan dan juga keberuntungan yang suatu hari datang dalam bentuk yang tak kita sangka-sangka.
Oke, mari mulai sekarang kita bertanya pada diri kita masing-masing, sudahkah hari ini diri kita bersabar dalam menjaga iman dan juga amal saleh kita?, Kemudian sudahkah kita mengusahakan amal-amal saleh meskipun kecil akan tetapi konsisten?, Dan sudahkah kita yakin bahwa Allah Swt. tidak membebani diri kita di luar batas kemampuan kita?.
Apabila belum, mari kita bersama mulai dari langkah paling kecil sederhana yang mampu untuk kita lakukan hari ini dengan senyuman yang tulus, saling mendoakan yang tulus dalam kebaikan, sedekah yang ringan, istighfar setiap berbuat kemaksiatan, serta hati yang terus kita jaga dengan iman dan juga amal saleh.
Terakhir semoga Allah Swt. memasukkan diri kita kedalam golongan orang-orang yang beruntung bukan karena dunia memuji kita, akan tetapi karena janji akan kebenaran Firman Allah Swt. selalu menyertai langkah kita hingga akhir hidup kita. Aamiin. Semoga Bermanfaat. [] Alfian Hidayat











