Almuhtada.org – Pernahkah Anda merasa sangat berat untuk memulai ibadah, namun di sisi lain merasa sangat bersalah setelah melakukan kesalahan? Itu adalah tanda bahwa jiwa Anda sedang berkomunikasi.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengibaratkan jiwa manusia seperti kuda dan kita adalah penunggangnya.
Kualitas perjalanan hidup kita sangat bergantung pada siapa yang memegang kendali: Apakah kita yang mengatur kuda tersebut, atau justru kita yang dikendalikan ke mana pun kuda itu berlari?
Berikut adalah tiga tingkatan jiwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai panduan untuk mengenali diri kita lebih dalam.
1. Nafsu Ammarah
Pada level terendah, ada yang disebut sebagai Nafsu Ammarah bis-su’. Kata Ammar dalam bahasa Arab menunjukkan bentuk mubalaghah, yang artinya jiwa ini terus menerus dan sangat sering memerintahkan kepada keburukan.
Jika tidak dididik dengan pengajian atau siraman rohani, jiwa ini secara alami akan condong pada kemaksiatan, hal-hal yang haram, dan rasa malas dalam ketaatan.
Dalil Al-Qur’an:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku…” (QS. Yusuf: 53).
Seni Mendidik Jiwa
Untuk naik kelas, kita tidak boleh mengikuti kemauan jiwa begitu saja. Kita harus berani menolak kemauan diri sendiri.
Para ulama Salaf terdahulu sangat tegas dalam urusan ini. Ada yang menghukum diri sendiri dengan bersedekah selama tiga hari berturut-turut hanya karena tertinggal satu kali shalat berjamaah.
Prinsipnya sederhana: Jangan biarkan jiwa yang memimpin. Jika jiwa berkata “nanti saja shalatnya”, Anda harus menjawab “tidak, sekarang!” Inilah fase pendidikan karakter yang paling menentukan.
2. Nafsu Lawwamah
Jika Anda sudah mulai terbiasa mendidik diri, Anda akan sampai pada level Nafsu Lawwamah.
Ini adalah jiwa yang mulai memiliki tingkat kesadaran tinggi. Ia akan menjadi “alarm” internal yang mencela diri sendiri saat melakukan kesalahan. Pada tahap ini, Anda akan merasa tidak tenang setelah berbuat dosa.
Ada dialog batin yang muncul, “Kenapa tadi saya bicara seperti itu?” atau “Mengapa saya melihat yang haram?”
Penyesalan ini adalah rahmat karena jiwa Anda mulai hidup.
Dalil Al-Qur’an:
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2).
3. Nafsu Muthmainnah
Level tertinggi yang kita tuju adalah Nafsu Muthmainnah. Ini adalah fase di mana seseorang sudah merasa nikmat dan tenang dalam ibadah.
Jika biasanya shalat terasa seperti beban, di level ini shalat justru menjadi tempat istirahat. Orang dengan jiwa yang tenang tidak lagi dipusingkan oleh duniawi karena fokusnya telah fokus pada ridha Allah. Inilah jiwa yang mendapatkan “undangan istimewa” saat maut menjemput.
Janji Allah Bagi Jiwa yang Tenang
Allah Swt. memberikan apresiasi yang luar biasa bagi mereka yang berhasil mendidik jiwanya hingga mencapai titik ketenangan (Muthmainnah).
Di akhir hayatnya, mereka akan dipanggil dengan panggilan yang sangat menyentuh.
Dalil Al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Kesimpulan
Perjalanan dari Ammarah menuju Muthmainnah memang tidaklah mudah. Perlu adanya keistiqomahan untuk terus “memaksa” diri dalam kebaikan sehingga paksaan itu berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu berubah menjadi ketenangan. [Azizah Fiqriyatul Mujahidah]











