Almuhtada.org – Surah Al-Baqarah merupakan surah terpanjang dalam Al-Qur’an, dan sebagian besar isinya membahas kisah Bani Israil, yang merupakan keturunan dari Nabi Ya’qub a.s. Mereka adalah kaum yang mendapat perhatian besar dari Allah. Buktinya, Allah Swt. Mengutus banyak Nabi kepada mereka, menurunkan kitab suci untuk mereka, dan memperlihatkan berbagai mukjizat.
Namun, dalam catatan Al-Qur’an, respons mereka terhadap semua itu sering kali justru seakan meremehkan. Allah menyebutkan kisah-kisah mereka di dalam Al-Quran bukan untuk dicela, melainkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya, termasuk generasi kita saat ini.
Bagian yang membahas Bani Israil dimulai ketika Allah mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat yang pernah diberikan, sekaligus meminta memenuhi perjanjian lama yang pernah mereka ikrarkan untuk beriman kepada wahyu yang turun, yaitu: tidak menyekutukan Allah, dan tidak menjual ayat-ayat-Nya demi keuntungan duniawi.
Peringatan ini menjadi semacam pembuka yang melatarbelakangi seluruh kisah yang akan diuraikan selanjutnya.
- (QS. Al-Baqarah: 40–46)
Sapi Betina dan Asal Nama Surahnya
Nama “Al-Baqarah” yang berarti sapi betina berasal dari kisah ini. Berawal dari seorang laki-laki yang ditemukan terbunuh, sementara pelakunya tidak diketahui. Allah lalu memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi betina, kemudian memukul tubuh si mayat dengan bagian dari sapi tersebut dengan izin Allah, mayat itu bisa hidup kembali dan menyebutkan siapa pembunuhnya.
- (QS. Al-Baqarah: 67–73)
Perintah tersebut sebenarnya sederhana. Tapi alih-alih langsung menjalankannya, Bani Israil justru mengajukan pertanyaan beruntun, seperti: sapi seperti apa, usianya berapa, apa warnanya, apakah pernah dipakai bekerja. Setiap kali mereka bertanya, spesifikasinya pun menjadi semakin banyak hingga sulit ditemukan. Jika saja mereka langsung menyembelih sapi apa pun dari awal, perintah itu sudah terpenuhi. Tapi karena mereka terus bertanya dan menunda, Allah pun membiarkan kesulitan itu sebagai konsekuensi dari sikap mereka sendiri.
Pada akhirnya sapi itu ditemukan milik seorang anak yatim dengan harga yang sangat mahal. Setelah disembelih dan dipukulkan ke mayat, dengan kehendak Allah mayat tersebut pun hidup kembali dan pembunuhnya terungkap. Mukjizat dari kisah ini memang terjadi, tapi momen yang lebih diingat dari kisah ini justru adalah pelajaran tentang ketaatan yang dipersulit sendiri. “Kalau mereka langsung menyembelih sapi apa pun, perintah itu sudah terpenuhi. Tapi mereka yang memilih mempersulit diri sendiri.”
Gunung Sinai Diangkat di Atas Mereka
Suatu ketika Allah memberikan kitab Taurat dan memerintahkan Bani Israil untuk berpegang teguh padanya, namun mereka menolak. Allah lalu mengangkat Gunung Sinai tepat di atas kepala mereka seolah gunung itu akan dijatuhkan sebagai peringatan keras agar mereka mau menerima. Barulah di bawah ancaman itu mereka akhirnya setuju.
- (QS. Al-Baqarah: 63, 93)
Allah Swt. mengetahui bahwa penerimaan itu tidak lahir dari kesadaran. Mereka setuju karena terancam, bukan karena memahami dan meyakini. Ini menggambarkan sebuah kondisi yang bermasalah: menerima perintah hanya ketika tidak ada pilihan lain, bukan karena iman yang sungguh-sungguh.
Menyembah Anak Sapi dari Emas
Nabi Musa meninggalkan Bani Israil selama empat puluh malam untuk menerima wahyu di Bukit Sinai. Dalam rentang waktu itu, seseorang bernama Samiri membuat patung anak sapi dari emas dan mengklaim bahwa itulah tuhan mereka. Sebagian besar Bani Israil pun menyembahnya.
- (QS. Al-Baqarah: 51–54)
Satu hal yang membuat peristiwa ini penting untuk dicatat adalah konteksnya. Bani Israil bukan orang-orang yang belum pernah menyaksikan bukti kebesaran Allah. Mereka baru saja melewati Laut Merah yang terbelah, baru saja terbebas dari perbudakan Firaun.
Mukjizat-mukjizat itu mereka saksikan secara langsung. Namun, empat puluh malam ditinggal nabi Musa, iman mereka tidak cukup kuat untuk bertahan. Ketika Musa kembali, Allah membuka jalan taubat tapi taubat dengan konsekuensi amat berat, yaitu mereka yang bersalah harus dibunuh oleh sesama mereka sendiri. Setelah hukuman itu dijalankan Allah baru mengampuni mereka. Tapi peristiwa ini tetap tercatat sebagai titik gelap dalam sejarah Bani Israil.
Meminta Melihat Allah Secara Langsung
Para pemimpin Bani Israil pernah secara terang-terangan berkata kepada Musa bahwa mereka tidak akan percaya sampai mereka melihat Allah dengan mata kepala sendiri. Permintaan ini bukan permintaan yang lahir dari rasa ingin tahu yang jujur, melainkan bentuk pembangkangan yang berkedok sebagai alasan saja.
- (QS. Al-Baqarah: 55–56)
Akibatnya, petir menyambar dan mereka mati seketika. Allah kemudian menghidupkan mereka kembali, sebuah pemberian kesempatan kedua yang luar biasa. Tapi kisah selanjutnya menunjukkan bahwa pengalaman mati dan hidup kembali pun tidak otomatis mengubah sikap seseorang.
Mengubah Isi Kitab Suci dengan Tangan Sendiri
Di antara pelanggaran yang paling serius, Al-Qur’an menyebutkan bahwa sebagian dari kalangan Bani Israil terutama para pemimpin agama mereka mengubah isi Taurat secara sengaja. Mereka menghapus atau mengganti bagian-bagian tertentu, termasuk bagian yang memuat berita tentang kedatangan nabi sesudah mereka, lalu menjual hasil perubahan itu untuk mendapatkan keuntungan materi.
- (QS. Al-Baqarah: 75–79)
Yang dipermasalahkan Allah bukan hanya tindakan pemalsuan itu sendiri, tapi juga bahwa mereka kemudian mengklaim hasil perubahan itu sebagai wahyu dari Allah. Mereka memberi label agama pada sesuatu yang sepenuhnya merupakan produk tangan dan kepentingan mereka sendiri.
Perjanjian yang Dilanggar Satu per Satu
Allah pernah mengambil perjanjian dari Bani Israil untuk menjalankan beberapa hal mendasar seperti: tidak menyembah selain Allah, berbuat baik kepada orang tua dan kerabat, tidak menumpahkan darah sesama mereka, dan tidak mengusir sesama mereka dari kampung halaman.
Perjanjian ini bukan hal kecil, perjanjian ini adalah bentuk fondasi dari kehidupan mereka sebagai kaum yang berada di bawah bimbingan Allah.
- (QS. Al-Baqarah: 83–86)
Namun kenyataannya, perjanjian itu dilanggar hampir seluruhnya. Sesama Bani Israil saling berperang dan saling mengusir dari kampung halaman. Ketika ada yang tertawan musuh, barulah mereka mau turun tangan untuk menebus seolah hanya satu bagian dari perjanjian itu yang mereka anggap masih berlaku. Allah menegur keras sikap ini (Mengambil sebagian perintah dan membuang sebagian yang lain bukan pilihan yang bisa diterima).
Pelajaran dari Kisah-Kisah Ini
Kisah-kisah ini menggambarkan kecenderungan manusia secara umum, yaitu menerima nikmat tanpa rasa syukur yang mendalam, mengetahui kebenaran tapi tetap memilih yang mudah dan menguntungkan, dan mematuhi perintah hanya ketika tidak ada pilihan lain.
Pola yang paling mencolok dari kisah-kisah ini adalah siklus yang terus berulang. Allah memberikan nikmat dan petunjuk, Bani Israil membangkang, azab atau konsekuensi datang, mereka bertobat, Allah mengampuni lalu siklus yang sama dimulai kembali. Ini menunjukkan bahwa masalah utama mereka bukan pada kurangnya bukti atau petunjuk, melainkan pada kondisi hati yang tidak mau terbuka.
Maka dari itu, nauzubillah mindzalik, jangan sampai kita juga menutup hati dari Allah. Jangan sampai kita berulang kali membuat kesalahan yang sama tanpa berubah. Belajarlah dari kisah ini agar kita tidak menjadi seperti Bani Israil yang hatinya sudah tertutup. []Dani Hasan Ahmad











