Membahas Akhlak Dalam Kitab Bulughul Maram: 3 Tema yang Paling Relevan bagi Kehidupan kita

Ilustrasi kitab bulughul maram (pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Apa yang membuat sebuah tatanan masyarakat dianggap kuat dan bermartabat? Bukan semata-mata karena kemajuan ekonomi atau kecanggihan teknologi saja, melainkan kualitas akhlak dari setiap individu juga berperan penting dalam pembentukanya.

Islam memahami hal ini dengan sangat baik, dan Rasulullah Saw. pun menegaskan bahwa beliau diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak bagi kita semua. Ajaran-ajaran tentang akhlak dari Rasulullah terdokumentasi dengan baik dalam berbagai kitab hadits, salah satunya terdapat dalam kitab Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dari sekian banyak hadits yang termuat di dalamnya, terdapat tiga hadist tentang akhlak yang terasa paling relevan untuk direnungkan kembali oleh masyarakat kita di masa kini.

  1. Menjaga Lisan – Ketika Satu Ucapan Bisa Berdampak Diluar Dugaan

Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Artinya: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. juga bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Artinya: ”Sesungguhnya seseorang mengucapkan sebuah kata yang ia anggap tidak berbahaya, namun karenanya ia terjerumus ke dalam neraka sejauh tujuh puluh musim gugur.”(HR. Tirmidzi)

Kedua hadits ini terdengar sederhana, namun maknanya semakin berat di era sekarang. Kita hidup di tengah arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Baca Juga:  Menelusuri Makna dan Sejarah Nama Siti di Indonesia

Setiap hari, ratusan pesan masuk melalui berbagai platform dari grup keluarga di WhatsApp hingga linimasa media sosial yang penuh konten dari berbagai sumber. Sayangnya, kemudahan berkomunikasi tidak selalu berjalan beriringan dengan kehati-hatian.

Banyak informasi yang disebarkan tanpa sempat diperiksa kebenarannya, dan dampaknya bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan nama baik seseorang rusak, hubungan retak, hingga mengakibatkan keresahan sosial.

Indonesia sudah berkali-kali menyaksikan bagaimana hoaks dan ujaran kebencian bisa membelah masyarakat, terutama dalam musim politik. Hadits-hadits ini sebenarnya sudah memberikan panduan yang sangat jelas sejak berabad-abad lalu, maka dari itu sebelum kita hendak berbicara atau meneruskan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri apakah ini benar-benar perlu untuk diucapkan dan apakah dampaknya akan baik? Kalau tidak, maka diam mungkin akan menjadi pilihan yang baik.

  1. Menjauhi Hasad – Penyakit Hati yang Tumbuh tanpa kita tahu

Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Artinya: ”Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”(HR. Abu Dawud)

Beliau juga bersabda dalam riwayat yang lain:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya: ”Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Baca Juga:  Menghadapi, Bukan Menghindar: Jalan Kuat Seorang Muslim dalam Ujian Hidup

Yang membuat hasad berbahaya adalah sifatnya yang halus dan sering kali tidak kita sadari. Ia tidak selalu hadir sebagai kebencian yang terang-terangan, melainkan bisa berupa rasa tidak nyaman melihat orang lain berhasil, atau sebaliknya, merasa lega mendengar kabar buruk tentang seseorang yang lebih beruntung. Perasaan-perasaan kecil seperti ini, jika dibiarkan, perlahan menggerogoti ketenangan jiwa dan merusak hubungan sosial.

Di tengah budaya pamer yang kian marak di media sosial, godaan untuk merasa iri memang semakin besar. Melihat pencapaian orang lain yang tampak begitu mudah dan menyilaukan, sementara perjuangan kita sendiri terasa berat dan kurang dihargai.

Islam menawarkan jalan keluar yang jauh lebih menyehatkan, yaitu bersyukur atas apa yang dimiliki dan melatih diri untuk ikut bergembira atas keberhasilan orang lain. Sikap ini bukan hanya baik secara spiritual, tetapi juga terbukti dapat menenangkan secara psikologis.

  1. Menjaga Silaturahmi – Fondasi Keluarga yang Perlu Terus Dirawat

Rasulullah Saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Jubair bin Muth’im RA:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Artinya: ”Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.”(HR. Muttafaq ‘Alaih)

Dalam riwayat lain yang juga termuat dalam Bulughul Maram, dari Anas bin Malik RA, Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: ”Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”HR. Muttafaq ‘Alaih)

Baca Juga:  Berubahlah dengan cara sholat Taubat!

Silaturahmi sejatinya adalah salah satu kekuatan terbesar dalam budaya Indonesia. Tradisi saling mengunjungi, gotong royong, dan kebersamaan dalam momen-momen penting sudah lama menjadi perekat masyarakat kita.

Namun belakangan, nilai ini kerap menghadapi tekanan. Urbanisasi membuat banyak orang terpisah jauh dari keluarga besar. Kesibukan sehari-hari menyisakan sedikit ruang untuk sekadar menyapa kerabat. Dan tidak jarang, konflik kecil yang tidak diselesaikan dengan baik soal warisan, perbedaan pandangan, atau kesalahpahaman lama berubah menjadi jarak yang melebar bertahun-tahun.

Yang ironis adalah, di saat hubungan dengan keluarga sendiri semakin renggang, kita justru sibuk membangun pergaulan di dunia digital dengan orang-orang yang bahkan belum pernah kita temui.

Hadits-hadits ini mengingatkan kita bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi yang baik untuk dibicarakan, melainkan sebuah tanggung jawab yang berdampak nyata, baik bagi kualitas kehidupan sosial maupun kehidupan spiritual kita.

Ketiga nilai ini (menjaga lisan, menjauhi hasad, dan merawat silaturahmi) bukanlah ajaran yang ketinggalan zaman. Di tengah kompleksitas kehidupan sosial Indonesia saat ini, ketiganya terasa semakin mendesak untuk kembali kita hidupkan.[]Dani Hasan Ahmad

 

Related Posts

Latest Post