Kisah Memilukan : Rasulullah SAW Dihukum Cambuk Menjelang Kematiannya

Kisah Nabi Muhammad Menjelang Wafatnya
Gambar Ilustrasi Kisah Nabi Muhammad Menjelang Wafatnya (Freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Kisah ini terjadi menjelang kematian Rasulullah SAW. Beliau telah jatuh sakit dengan waktu yang cukup lama, sehingga membuat kondisi beliau terlihat sangat lemah. Suatu ketika Rasulullauh meminta Bilal bin Rabbah memanggil semua sahabatnya untuk berkumpul di masjid.

Tak berselang lama sahabat-sahabat Rasulullah mulai berdatangan ke masjid hingga memenuhi masjid. Mereka sangat gembira akan mendapatkan khutbah dari Rasulullah setelah cukup lama tidak mendengarkan khutbah dari beliau.

Rasulullah duduk diatas mimbar dengan keadaan lemah, terlihat wajahnya yang sangat pucat. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sahabat-sahabatu, aku ingin bertanya. Apakah telah aku sampaikan kepada kalian bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya tuhan yang layak disembah?”

Semua sahabat menjawab dengan penuh semangat, “Benar wahai Rasulullah, engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya tuhan yang layak disembah”. Kemudian Rasulullah bersabda: “Saksikanlah Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka”.

Rasulullah SAW kemudian melanjutkan sabdanya dan setiap apa yang belau sabdakan selalu dibenarkan oleh sahabat-sahabatnya.

Sampailah pada pertanyaan yang membuat sahabat-sahabat Rasulullah bersedih hingga meneteskan air mata. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya, aku akn pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua, adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia”.

Ketika itu semua sahabat langsung terdiam dan merasa bersedih, dalam hati masing-masing berkata, mana ada Rasulullah berhutang dengan kita, Kamilah yang banyak berhutang dengan Rasulullah”. Taka da satupun sahabat Rasulullah yang menjawab pertanyaan tersebut, samapi-sampai Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.

Baca Juga:  Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah SAW yang Patut Kita Pelajari

Ditengah keheningan tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki bernama Ukasyah, seorang mantan preman sebelum masuk islam, ia berkata: “Ya Rasulullah aku ingin sampaikan masalah ini, seandainya ini dianggap hutang maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlu engkau berbuat apa-apa”.

Maka Rasulullah berkata: “Sampaikan wahai Ukasyah”

Maka Ukasyah pun mulai bercerita: “Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah”. Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”

Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.” Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian. Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. “Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Rasulullah sedang sakit!?” Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?” Bilal menjawab dengan nada sedih: “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah” Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata: “Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya”. Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Baca Juga:  Adzan Terakhir Bilal bin Rabah dan Kesedihannya

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah. Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambal berkata: “Ukasyah! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku”. Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku!” Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”,

Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba-tiba berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”. Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah” Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah.

Tiba-tiba tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen. Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. “Wahai paman, pukullah kami paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai paman.” Lalu Rasulullah SAW berkata: “Wahai cucu-cucu kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan kakek dengan paman Ukasyah”.

Baca Juga:  Kiat Meraih Cinta Nabi dengan Mengikuti Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata: “Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini.”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi: “Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah”

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah. Tanpa berlama-lama dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata: “Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu.” Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh-jauh, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya.

Sambil menangis sejadi-jadinyanya, Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah”.

Rasulullah SAW dengan senyum berkata: “Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah! Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat bergantian memeluk Rasulullah SAW. [] Dela Kurniawati

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post