Mengapa Muharram Menjadi Bulan Pertama dalam Kalender Islam?

Gambar ilustrasi hijrah ke Madinah (freepik.com-almuhtada.org)

almuhtada.org – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jika kalender Islam dimulai dari masa awal diutusnya Nabi Muhammad Saw., atau dari Bulan Ramadhan? Jika itu yang terjadi, mungkin hari ini kita merayakan tahun baru di bulan yang berbeda. Namun, penetapan kalender Hijriah lahir dari sebuah dinamika musyawarah yang luar biasa di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab r.a. pada tahun 17 Hijriyah.

Kisah ini bermula ketika Gubernur Abu Musa al-Asy’ari mengirimkan surat kepada Khalifah Umar. Beliau mengeluhkan surat-surat resmi negara dari pusat yang membingungkan karena tidak memiliki tanggal dan tahun. Menanggapi persoalan tersebut, Khalifah Umar mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan resmi bagi umat Islam.

Dalam forum tersebut, muncul dua usulan kuat dari para sahabat:

  1. Dimulai dari masa diutusnya Nabi Muhammad Saw., (Al-Mab’ats): Momen ketika wahyu pertama turun dan beliau resmi diangkat menjadi Rasul.
  2. Dimulai dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw., : Momen perpindahan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah.

Setelah mempertimbangkan berbagai usulan, para sahabat bersepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. sebagai titik awal penanggalan Islam. Umar r.a. menegaskan alasannya:

“Hijrah itulah yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, maka tetapkanlah penanggalan dengannya.” Para sahabat pun sepakat bahwa “tahun pertama” dalam Islam dihitung sejak peristiwa hijrah. Namun, diskusi tidak berhenti di sana. Muncul perdebatan baru mengenai bulan apa yang harus dijadikan sebagai bulan pertama (awal tahun).

Baca Juga:  Pernahkah Kita Tahu Seberapa Berat Perjuangan Seorang Penuntut Ilmu?

Sebagian sahabat mengusulkan, “Mulailah dari bulan Ramadhan.” Usulan ini terbilang logis mengingat Ramadhan adalah bulan paling mulia dan bulan turunnya Al-Qur’an.

Namun, Khalifah Umar bin Khattab kembali memberikan keputusan yang bijak. Beliau menyanggah, “Tidak, tetapi dari bulan Muharram, karena bulan itu adalah saat kembalinya orang-orang dari ibadah haji.” Pilihan ini didasarkan pada fakta sosiologis dan spiritual umat Islam saat itu. Bulan Muharram berada persis setelah bulan Dzulhijjah. Muharram menjadi waktu yang tenang dan aman bagi para jamaah haji untuk pulang ke rumah masing-masing, sekaligus menjadi momen yang bersih untuk membuka lembaran baru.

Meski peristiwa hijrah Nabi Saw. terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, para sahabat tetap memilih Muharram sebagai awal tahun karena bulan tersebut berada setelah musim haji dan dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memulai lembaran baru.

Dari keputusan para sahabat tersebut, Tahun Baru Islam tidak sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia lahir dari semangat hijrah, yaitu keberanian untuk meninggalkan keburukan menuju keadaan yang lebih baik. Karena itu, setiap datangnya 1 Muharram, umat Islam tidak hanya mengingat sejarah penanggalan, tetapi juga merenungkan kembali makna hijrah dalam kehidupan sahabat. [] LAILIA LUTFI FATHIN

Related Posts

Latest Post