Mengapa Kita Sulit Konsisten? Beginilah Menurut Pandangan Islam dan Psikologi

Ilustrasi gambar konsistensi (Pinterest.com – al-muhtada.org)

almuhtada.org – Mengapa begitu banyak orang gagal membangun kebiasaan produktif, padahal niat sudah kuat dan rencana sudah matang? Jawabannya sering kali bukan karena malas atau kurang disiplin, melainkan karena perubahan perilaku hanya ditopang oleh motivasi sesaat, bukan oleh mekanisme yang kokoh. Dalam psikologi perilaku, dikenal satu kesimpulan penting, yakni motivation-driven change is unstable atau motivasi mudah naik, tetapi juga sangat mudah turun.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kegagalan membangun habit umumnya dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama, ego depletion, yaitu kondisi ketika energi kendali diri cepat terkuras. Seseorang bisa sangat disiplin di pagi hari, tetapi melemah di sore atau malam karena kapasitas pengendalian diri bukan sumber daya yang tak terbatas. Kedua, overgoal setting, target yang terlalu besar sejak awal justru membuat otak merasa terancam dan kewalahan. Ketiga, poor cue system, lingkungan yang tidak mendukung perilaku baru. Kebiasaan tidak pernah lahir di ruang hampa, ia sangat bergantung pada isyarat (cue) yang memicu tindakan. Kombinasi faktor-faktor ini membuat perubahan perilaku sulit bertahan dalam jangka panjang.

Di sinilah menariknya perspektif Islam. Al-Qur’an tidak memulai perubahan dari hasil, tetapi dari niat dan orientasi diri. Islam tidak bertanya, “Apa yang ingin kamu capai?”, melainkan, “Siapa dirimu dan untuk siapa hidupmu dijalani?” Hal ini selaras dengan konsep identity-based habit, yang mana dalam psikologi modern, maksudnya perilaku yang bertahan lama lahir dari identitas, bukan dari paksaan. Ketika seseorang memandang dirinya sebagai hamba Allah, maka konsistensi ibadah dan kebaikan bukan lagi tuntutan eksternal, melainkan ekspresi dari siapa dirinya.

Baca Juga:  Ini Dia Keistimewaan Menjadi Umat Nabi Muhammad

Islam bahkan telah membangun sistem habit jauh sebelum istilah psikologi perilaku populer. Dalam psikologi dikenal dengan pola cue – routine – reward. Dalam Islam, pola ini hadir secara alami dan terstruktur. Adzan dan waktu shalat berfungsi sebagai cue yang konsisten dan tidak bergantung pada suasana hati. Ibadah seperti shalat dan dzikir menjadi routine yang jelas, terukur, dan berulang setiap hari. Sementara itu, reward-nya tidak hanya seperti pahala, tetapi juga dalam hal psikologis seperti ketenangan batin (sakinah) dan keteraturan hidup.

Lebih dari itu, Islam membangun habit melalui ritme harian yang selaras dengan sistem biologis dan psikologis manusia. Pergantian waktu shalat mengatur jeda aktivitas, membantu regulasi fokus, dan mencegah kelelahan mental. Tanpa disadari, ini adalah bentuk behavioral design yang sangat canggih. Konsistensi tidak dipaksakan lewat target ekstrem, tetapi ditumbuhkan melalui pengulangan yang stabil.

Psikologi menegaskan bahwa konsistensi mengalahkan intensitas. Al-Qur’an dan hadis Nabi SAW. menegaskan hal yang sama, yaitu amal kecil yang dilakukan secara istiqamah lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengejar ledakan produktivitas sesaat, melainkan keberlanjutan perilaku baik sepanjang hidup. Pada akhirnya, produktivitas dalam perspektif Islam bukan sekadar soal manajemen waktu atau efisiensi kerja. Di situlah habit tidak hanya terbentuk, tetapi juga bertahan. [] Aisyatul Latifah

Baca Juga:  Simak Mengusir Kemalasan ala Madilog dengan Mengikuti 6 Cara Menemukan Kembali Semangat Hidup Gen Z

Related Posts

Latest Post