almuhtada.org – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terus berhadapan dengan berbagai informasi dan nasihat dari beragam sumber.
Penilaian terhadap suatu pernyataan sering kali tidak hanya didasarkan pada isi, tetapi juga pada siapa yang menyampaikannya.
Akibatnya, kebenaran terkadang ditolak karena datang dari pihak yang dianggap kurang kredibel, atau sebaliknya, kesalahan diterima karena disampaikan oleh figur yang dihormati.
Ungkapan “ أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ” (Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan lihat siapa yang mengatakan) sering dianggap sebagai hadits, padahal tidak memiliki dasar yang kuat dalam literatur hadits.
Ungkapan ini lebih dikenal sebagai kata hikmah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, meskipun sanadnya tidak pasti.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah kebenaran cukup dinilai dari isi tanpa mempertimbangkan sumbernya?
Antara Keterbukaan dan Selektivitas dalam Islam
Islam mengajarkan keseimbangan antara keterbukaan dan kehati-hatian dalam menerima informasi.
Al-Qur’an menyatakan: “…yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya…” (QS. Az-Zumar: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa proses menerima informasi melibatkan dua tahap: mendengar secara terbuka dan menyeleksi secara kritis.
Selain itu, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
Hal ini menegaskan bahwa kualitas isi menjadi aspek utama dalam komunikasi, namun tetap dalam kerangka tanggung jawab moral.
Isi atau Sumber: Mana yang Lebih Utama?
Secara makna, ungkapan tersebut mendorong objektivitas dalam menilai kebenaran.
Seseorang tidak seharusnya menolak kebenaran hanya karena tidak menyukai penyampainya.
Namun, memahami ungkapan ini secara mutlak tanpa mempertimbangkan sumber dapat menimbulkan kesalahan.
Dalam tradisi keilmuan Islam, terutama ilmu hadits, kredibilitas sumber merupakan aspek penting dalam menentukan keabsahan informasi.
Oleh karena itu, pendekatan yang tepat adalah menjadikan isi sebagai tolak ukur utama, sekaligus mempertimbangkan sumber sebagai bentuk kehati-hatian.
Bersikap Bijak: Menerima Tanpa Terjebak
Dalam praktik kehidupan, prinsip ini menuntut sikap yang seimbang.
Pertama, seseorang perlu terbuka terhadap kebenaran, bahkan jika datang dari individu yang memiliki kekurangan.
Kedua, diperlukan sikap selektif agar tidak mudah menerima informasi tanpa verifikasi.
Ketiga, penting untuk membedakan antara menerima kebenaran dan menjadikan seseorang sebagai teladan.
Keempat, menjaga jarak dari pengaruh buruk merupakan bentuk kehati-hatian, bukan penghakiman.
Ungkapan “lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan” bukanlah hadits, melainkan hikmah yang sejalan dengan nilai Islam.
Namun, penerapannya harus disertai dengan keseimbangan antara isi dan sumber.
Kebijaksanaan terletak pada kemampuan untuk mendengar secara terbuka, menilai secara kritis, dan memilih secara proporsional.
Dengan demikian, kebenaran tidak hanya diterima, tetapi juga dipahami secara utuh dan ditempatkan secara tepat dalam kehidupan. []Muhammad Fadli Noor











