almuhtada.org – Hukum ketetapan Allah Swt. bukan hanya sekadar konsep semata, akan tetapi Ia merupakan cermin panjang sebagai tempat kita untuk melihat diri kita apa adanya yang kadang sering merasa rapuh dan juga sering lupa, akan tetapi selalu diberikan kesempatan untuk kembali pulang kepada-Nya. Berikut penjelasannya:.
Pertama, Menyadari Bahwa Setiap Dosa Memiliki Konsekuensi
Ketika kita melakukan perbuatan dosa, maka itu sebenarnya bukan hanya catatan amal saja yang berubah saja. Akan ada sesuatu di dalam diri kita yang ikut retak di dalam hati kita dengan membuat perasaan tenang berubah menjadi gelisa.
Seperti halnya gelas kaca yang dijatuhkan secara tidak sengaja, nah retaknya tidak selalu langsung pecah, akan tetapi membentuk garis-garis kecil yang mana cukup membuat air tak lagi tertampung dengan sempurna.
Sebagaimana Allah Swt. sudah memperingatkan di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Thaahaa ayat ke-48 :
إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى
Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.
Dari ayat diatas seakan-akan berbicara langsung kepada diri kita semua yaitu “Setiap pilihan membawa arah, dan juga setiap arah membawa akibat.”
Maka dari itu dosa bukan hanya sebuah kesalahan, akan tetapi ia ialah belokan yang salah dalam perjalanan hidup manusia di dunia ini.
Dan hukum ketetapan Allah Swt. mengajarkan kepada kita, jalan yang salah tidak akan membawa kita ke tempat yang benar.
Namun indahnya ajaran agama Islam, yaitu Allah Swt. tidak menciptakan kita untuk tenggelam dalam dosa dan juga kesalahan. Ia memberi kita pintu kesempatan kedua untuk bertobat kembali kepada-Nya.
Kedua, Ketika Kita Cepat Ingat maka Pintu Taubat Terbuka Lebar
Ada satu karunia besar yang mungkin seringkali tidak kita sadari selama ini yaitu kemampuan untuk ingat. Ingat kepada Allah Swt.dan juga ingat kepada dosa kesalahan diri sendiri.
Allah Swt. menggambarkan hamba pilihan-Nya dengan keindahan yang tak terlukiskan di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat ke-135 yang artinya:
Demikian (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan (perbuatan dosa itu) sedangkan mereka mengetahui(-nya).
Dari ayat diatas dapat kita ambil hikmah yaitu yang membuat kita mulia bukan karena tidak pernah jatuh kesalahan, akan tetapi karena kita tidak rela berlama-lama di tanah saat jatuh.
Maka dari itu taubat merupakan jalan pulang kita kepada Allah Swt. Hal tersebut seperti perjalanan seorang anak yang lama menghilang, kemudian suatu hari menemukan jalan kembali ke rumahnya dan juga melihat ibunya menunggu dengan pintu terbuka menyambutnya kembali ke pelukannya. Begitu pula dengan Allah Swt. lebih lembut dari semua kelembutan.
Ketiga, Doa sebagai Bahasa Hati yang Mengarah ke Cahaya
Di antara doa yang Allah Swt. ajarkan, ada satu yang seolah mengandung seluruh kegelisahan dan juga kerinduan manusia di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat ke-16:
رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami benar-benar telah beriman. Maka, ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari azab neraka.”
Doa diatas sangat singkat, akan tetapi sejatinya kita sedang memohon kepada Allah Swt:
“Ya Allah, aku lemah. Tapi aku ingin menjadi lebih baik. Ampunilah dosa-dosa aku, dan juga jauhkan aku dari akibat buruk diriku sendiri.”
Karena dengan berdoa merupakan bentuk pengakuan bahwa kita tidak sanggup berjalan sendirian di muka bumi ini tanpa pertolongan Allah Swt.. Dan juga tidak ada manusia yang benar-benar kuat tanpa bersandar kepada-Nya.
Keempat, Belajar dari Orang-Orang yang Telah Mendahului Kita
Hukum ketetapan Allah Swt. juga mengajarkan kepada kita semua untuk membuka buku sejarah kehidupan umat manusia di dalam Kitab Suci Al-Quran. Bukan sejarah di lembaran buku semata, akan tetapi sejarah yang Allah Swt. sendiri tuturkan melalui Firman-Nya Surat Ghafir ayat ke-21 yang artinya:
“Apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peninggalan (peradaban)-nya di bumi. Akan tetapi, Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya. Tidak ada sesuatupun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.”
Dari ayat diatas Allah Swt. mengajak kita untuk senantiasa memperhatikan dan juga merenungkan dengan melihat apa apa yang terjadi pada kaum sebelum kita. Betapa kuatnya mereka, kemudian juga betapa besar negeri mereka, akan tetapi itu semua runtuh bukan karena musuh-musuh mereka, melainkan oleh perbuatan dosa mereka sendiri.”
Jadi, ketika kita membaca kisah sejarah di dalam Kitab Suci Al-Quran, maka sejatinya kita sedang membaca diri kita sendiri dalam versi yang lain.
Dan perlu kita ketahui jika kita tidak bisa mengambil hikmah pelajarannya maka kita hanya akan mengulang cerita yang sama dengan tokoh yang berbeda saja
Dengan memahami hukum ketetapan Allah Swt. bukan untuk membuat kita menjadi takut, akan tetapi menjadi lebih sadar.
Mulai sekarang kita harus menyadari bahwa hidup di dunia bukan seperti ruang gelap yang membuat kita bingung, akan tetapi sebagai taman yang penuh rambu yang membimbing kita agar selamat.
Dosa mengingatkan kepada kita semua bahwa kita sebagai manusia tidak luput dari kesalahan. Kemudian taubat mengingatkan kepada kita bahwa kita tetap dicintai walaupun pernah berbuat salah. Dan bahwa doa mengingatkan kita bahwa diri kita ini tidak sendiri dan dibiarkan begitu saja. Serta kisah sejarah mengingatkan bahwa arah hidup selalu bisa diperbaiki menjadi lebih baik.
Mari sekarang kita mulai perjalanan baru kita dengan perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih hati-hati lagi dan juga lebih dekat kepada Allah Swt. Semoga bermanfaat. []Alfian Hidayat











