almuhtada.org – Pernahkah diri kita selama ini bertanya di dalam lubuk hati, mengapa orang yang berbuat salah kadang tampak tetap tenang-tenang saja, hidupnya lapang, dan juga seolah-olah langit membiarkan mereka melangkah tanpa balasan begitu saja?
Mungkin dari kita sering melihat ketidakadilan yang terjadi di hadapan mata, namun apakah benar langit sedang diam saja?, ataukah ada hukum Allah Swt. yang bekerja tanpa adanya hiruk-pikuk suara, akan tetapi pasti dan juga tidak pernah meleset sedikitpun?
Nah, di sinilah kita mulai mengenal hukum ketetapan Allah Swt. yang tidak akan berubah oleh zaman, kemudian tidak tergoyahkan oleh waktu, dan juga tidak bisa ditawar oleh siapa pun itu. Yuk simak penjelasan selengkapnya berikut ini:
Pertama, Hukum Allah Swt. yang Tidak Akan Pernah Tidur
Sunnatullah merupakan jantung daripada keteraturan kehidupan alam semesta ini.
Ia bukan sekadar konsep secara teologis semata, melainkan bagaimana cara Allah Swt. memperjalankan kehidupan kita di dunia ini.
Bahwasanya setiap amal akan kembali kepada setiap pelakunya masing-masing sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya, baik itu secara cepat ataupun lambat.
Dalam sifatnya yang pasti ini, sebagaimana Allah Swt. menyampaikan firman-Nya di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Isra’ ayat ke-58 yang artinya:
“Tak ada suatu negeri pun yang durhaka melainkan Kami binasakan sebelum kiamat, atau Kami azab dengan azab yang keras. Itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh.”
Dari ayat diatas merupakan pintu gerbang pertama yang mengajak kita semua untuk senantiasa merenung bahwasanya kehidupan di dunia yang kita pijak sekarang ini adalah sebagai panggung ujian hidup, dan juga setiap akting kita di atas panggung kehidupan dunia ini sedang dicatat secara teliti oleh Yang Maha Melihat.
Mungkin saja balasannya tampak di dunia secara langsung, ataupun kadang menunggu kelak di akhirat, akan tetapi satu hal akan kepastiannya tidak akan pernah hilang balasannya.
Contoh sederhananya ketika kita melihat seseorang yang bergelimang harta padahal dia juga bergelimang maksiat, maka itu bukan berarti ia lolos dari hukum Allah Swt.
Bisa jadi ia sedang diberi waktu untuk “menumpuk” dosanya. Sebagaimana Allah Swt. sendirilah yang menegaskan firman-Nya di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat ke-178 yang artinya:
“Kami memberi tangguh kepada mereka agar bertambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
Dari titik inilah kita diajak untuk senantiasa bercermin atas diri kita sendiri yaitu jangan sampai diri kita ini iri kepada orang yang jalan hidupnya tampak mulus-mulus aja, padahal sejatinya langkahnya sedang menuju jurang.
Kedua, Kisah-Kisah Azab: Cermin bagi Zaman Kita
Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an penuh hikmah dengan kisah kaum-kaum terdahulu, tujuannya bukan hanya untuk menghiasi mushaf saja, akan tetapi juga untuk mengajarkan kepada kita untuk membaca pola hidup manusia di muka bumi ini.
Kaum Tsamud, ‘Ad, dan juga penduduk Madyan, serta para pembesar Fir’aun, mereka semuanya pernah berdiri tegak dengan penuh keangkuhan, sampai-sampai Allah Swt. menunjukkan bahwasanya kekuasaan manusia sebesar apapun tidak bisa menjadi pelindung dan juga penghalang dari hukuman-Nya.
Sebagaimana Firman Allah Swt. didalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-’Ankabut ayat ke-40 yang artinya:
“Maka masing-masing Kami siksa karena dosanya; ada yang ditimpa hujan batu, ada yang dibenamkan, ada yang ditenggelamkan.”
Satu pelajaran dari ayat diatas seperti mengetuk detak nadi kita, jangan sampai diri kita ini mengira masih aman-aman saja hanya karena dosa-dosa kita belum menampakkan akibatnya.
Perlu kita ingat satu hal yaitu ada orang yang ditimpa azab secara cepat, kemudian ada juga yang ditangguhkan, dan ada yang dihancurkan jasadnya, serta ada yang dihancurkan hatinya.
Yang paling mengerikan adalah ketika azab itu datang kepada kita dalam bentuk kenikmatan-kenikmatan dunia yaitu berupa harta, jabatan, dan juga popularitas yang justru menyeret pelakunya semakin jauh dari Allah Swt.
Ketiga, Ketika Dosa Berjalan Diam di Dalam Diri dan Hati Kita
Terkadang azab datang itu bukan dalam bentuk petir yang menyambar, ataupun bukan tanah yang longsor.
Ia bisa jadi berupa hati yang sakit atau mati, mata yang tidak bisa menangis kepada Allah Swt., dan juga telinga yang tidak lagi peka terhadap suatu kebenaran. Itu merupakan azab datang diam-diam tanpa kita sadari.
Sering kali, kita merasa tidak sadar bahwasanya kelalaian yang berkepanjangan juga bentuk daripada hukuman, yang seharusnya kita bisa melakukan kebaikan akan tetapi kita lebih untuk menyia-nyiakannya begitu saja.
Contoh sederhananya yang dekat dengan kehidupan kita yaitu ketika shalat terasa berat, kemudian zikir terasa asing di hati dan lidah kita, dan juga membaca Kitab Suci Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup manusia justru terasa hambar, itu semua bukan sekedar “turunnya iman” semata.
Itu bisa jadi peringatan dari Allah Swt. bahwasanya kita selama ini sedang berjalan terlalu jauh dari cahaya-Nya.
Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda: “Jika engkau tidak malu, lakukanlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Dari hadis diatas bukan izin untuk berbuat apapun sesuka kita begitu saja, akan tetapi peringatan keras bahwa hilangnya rasa malu merupakan tanda azab hati.
Keempat, Kenapa Kita Harus Sadar sebelum Semua Terlambat?
Sebagaimana Allah Swt. mengingatkan kepada kita semua bahwasanya siapa saja yang melakukan kezaliman di Masjidil Haram saja akan segera mencicipi azab-Nya, sebelum azab akhirat kelak, di dalam Kitab Suci Al-Quran Surat Al-Hajj ayat ke-25 yang artinya:
“Siapa yang bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan padanya sebagian azab yang pedih.”
Jika di tanah suci saja berlaku hukum seperti itu, maka bagaimana dengan diri kita yang berbuat dosa di luar sana, di tempat mana saja di mana kita merasa “aman-aman saja”?
Karena sejatinya Hukum Allah Swt. berjalan di mana pun kita berada, tidak mengenal batas geografis sedikitpun.
Kelima, Saatnya Kita Sadar Sebelum Hukum Itu Datang Kepada Kita
Sekarang ini kita hidup di zaman di mana peluang dosa mudah untuk kita lakukan, akan tetapi justru rasa takut kepada Allah Swt. semakin langka bahkan hilang.
Mungkin itulah sebabnya dengan adanya tulisan seperti ini yang hadir kepada diri kita bukan bertujuan untuk menakut-nakuti semata, akan tetapi senantiasa untuk saling mengingatkan bahwasanya cinta Allah Swt. juga hadir kepada diri kita dalam bentuk peringatan.
Maka dari itu mulai sekarang ketika Allah Swt. mengizinkan kita untuk memahami Hukum Ketetapan-Nya, itu tandanya Dia masih memberikan kesempatan kepada kita untuk kembali sebelum terlambat kepada-Nya. Semoga Bermanfaat. [] Alfian Hidayat – Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Angkatan 5











