Kenapa Kita Lebih Takut Kehilangan Dia daripada Kehilangan Allah?

Ilustrasi siluet wanita dengan laki laki (pinterest.com - Al-Muhtada.org)

Almuhtada.org – Coba jujur pada diri sendiri. Mana yang lebih membuatmu gelisah: pesan dari dia yang tak kunjung dibalas, atau hati yang sudah lama tak benar-benar khusyuk saat shalat? Mana yang lebih membuatmu panik: hubungan yang mulai renggang, atau iman yang perlahan terasa kosong?

Tanpa kita sadari, banyak dari kita lebih takut kehilangan manusia daripada kehilangan Allah. Kita cemas jika ia menjauh, tapi tenang-tenang saja saat jarak dengan Allah makin jauh. Kita berusaha keras menjaga hubungan dengan seseorang, tetapi lalai menjaga hubungan dengan Rabb yang memberi kita segalanya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِۙ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ ۝١٦٥

Artinya : ”Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).” QS. Al-Baqarah: 165 )

Ayat ini bukan melarang mencintai manusia, tetapi mengingatkan agar cinta itu tidak melebihi cinta kepada Allah. Karena ketika cinta kepada manusia lebih besar daripada cinta kepada Allah, hati menjadi rapuh. Kita menggantungkan kebahagiaan pada makhluk yang bisa pergi kapan saja.

Baca Juga:  Telisik Kisah Zaid bin Haritsah dalam Al-Qur’an

Manusia diciptakan dengan fitrah untuk mencintai. Kita ingin diperhatikan, dihargai, dan disayangi. Ketika seseorang hadir dan mengisi ruang kosong itu, kita merasa utuh. Maka wajar jika muncul rasa takut kehilangan.

Namun masalahnya muncul ketika rasa takut itu mengalahkan rasa takut kepada Allah. Kita takut ia pergi, tetapi tidak takut ketika maksiat mendekatkan kita pada murka Allah. Kita takut ia kecewa, tetapi tidak takut saat Allah kecewa karena kelalaian kita.

Kehilangan manusia memang menyakitkan. Tapi kehilangan Allah jauh lebih berbahaya. Kehilangan Allah bukan berarti Allah pergi, melainkan hati kita yang menjauh. Shalat terasa hampa, doa terasa biasa saja, Al-Qur’an tak lagi menyentuh dan menenangkan pemiliknya.

Padahal Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya: “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

Jika kita takut kehilangan Allah, kita akan menjaga dzikir. Kita akan menjaga shalat. Kita akan lebih takut kehilangan iman daripada kehilangan seseorang yang belum tentu menjadi takdir kita.

Islam tidak melarang mencintai manusia. Cinta adalah fitrah. Namun cinta harus ditempatkan di bawah cinta kepada Allah. Jika Allah menjadi pusat, maka kehilangan manusia tidak akan menghancurkan kita sepenuhnya.

Ketika Allah menjadi sandaran, kita tidak akan menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu sosok. Kita mencintai dengan sehat, bukan dengan ketergantungan yang berlebihan. Kita menjaga hubungan dengan manusia, tetapi tidak mengorbankan hubungan dengan Allah.

Baca Juga:  Kisah Seorang Nelayan dan Sholawat

Jika hari ini kamu merasa sangat takut kehilangan seseorang, itu wajar. Tapi tanyakan pada dirimu: apakah kamu juga takut kehilangan Allah? Apakah kamu sudah menjaga hubungan dengan-Nya sebaik kamu menjaga hubungan dengan dia?

Jangan sampai kita menangis karena manusia yang pergi, tetapi tidak menangis saat hati menjauh dari Allah. Karena jika Allah tetap bersama kita, kehilangan apa pun tidak akan benar-benar menghancurkan.

Maka belajarlah mencintai manusia secukupnya, dan mencintai Allah sepenuh hati. Karena yang paling layak kita takutkan kehilangannya bukanlah dia melainkan kedekatan kita dengan Allah.

Penulis: [Fitri Novita Sari]

 

 

 

Related Posts

Latest Post