Ragam Karakteristik Pada Ulama

Oleh: Rayyan Al-Khair

Dalam agama Islam, syari’at yang diturunkan oleh Allah.swt disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada anbiyaa dan mursaliin. Para utusan ini kemudian menerima dan mengajak serta mengajarkan muatan agama yang diberikan kepada mereka untuk umatnya pada periode tertentu. Melalui para Navi dan Rasul lah manusia mengenal kebenaran dan sang maha benar. 

Setelah para utusan wafat, umat Masih memiliki para sahabat untuk memimpin urusan agama dan negara demi memperbaiki keadaan manusia di bumi. Para sahabat pun memiliki murid yang akan meneruskan dakwah di muka bumi setelah mereka wafat. Selanjutnya , mereka ini disebut para ‘ulama yang mewarisi dan mengemban amanah menyebarkan kebenaran dalam Islam. 

Melalui para ulama yang ilmunya bersanad sampai Rasul.saw, kita mengenal Islam meski sudah sekian lama Rasulullah wafat. Ulama jumlahnya sangat banyak, begitupun karakteristik yang ada pada diri mereka seperti sifat bawaan dan sifat yang terbentuk dari pendidikan atau proses belajar. Singkatnya ada beragam karakteristik para ulama dalam menyampaikan kebenaran agama. 

Ada ulama yang dalam menyampaikan kebenaran sangat lantang suaranya seperti pengeras suara berjalan, Jika bertemu dengan orang-orang yang membenci dan melawan mereka, mereka akan marah. Ada ulama yang berkebalikan , yakni berbicara sangat lembut, saking pelannya suaranya, kita harus mendekatkan diri ke pengeras suara untuk mendengar apa yang disampaikan. Ada ulama yang humoris, ada yang serius dan ada yang sangat akrab seperti teman. 

Baca Juga:  Inilah Tiga Cobaan Ketika Seseorang Menjauhi Ulama

Bagaimana kita memandang hal ini ? Pertama, kita harus memaklumi bahwa manusia diciptakan dengan sifat bawaan, mungkin bisa didapatkan dari turunan orangtua yang melahirkan atau pengaruh kuat gen dominant dari seseorang. Kedua, alasan teologis, yakni bahwa banyaknya karakteristik para ulama adalah tajalli dari asma Allah alhusna sebagaimana dikatakan oleh alhabib Muhammad bin alwi alhaddad. Ada asma Allah yakni ar-rahiim, Maha penyayang, ar-rahmaan, Maha pengasih, al-muntaqim, Maha pembalas dendam, al-mutakabbir, Maha besar (patut utk membesarkan diri), dll. 

Ketiga, ini adalah suatu bentuk dari Rahmat Allah.swt, sebagaimana Nabi mengatakan “perbedaan diantara umatku adalah Rahmat”, ada banyak manusia ada pula ragam karakteristik yang dimiliki. Semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk menyebarkan Islam, menjadi orang yang bertaqwa, shalih serta untuk menggapai ridho Allah.swt. para ulama juga mengatakan “Jalan menuju Allah sebanyak nafas dri para makhluk”. 

Keragaman ini dialami juga oleh para Nabi dan sahabat dahulu. Seperti Nabi Isa a.s yang dalam dakwahnya cenderung mendekati orang-orang yang tidak baik, sedangkan Nabi Yahya a.s cenderung mendekati orang-orang baik, dengan alasan “wa kuunuu ma’asshadiqiin”. Begitu juga Abu Bakr dan Umar radiyallahu ahuma yang memiliki sifat dikotomis namun sama-sama bertujuan untuk menggapai ridho Allah.swt.

Maka, sebagai umat Islam kita harus bijak melihat hal ini dan jangan mau dipecah belah dengan hanya memaksakan utk menyukai karakteristik tertentu, wallahu ‘alam bis shawwab.

Baca Juga:  Syariat Islam Mulai Dianggap Aneh Bahkan Terkesan Asing?

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post