Tirakatku untuk Menggapai Syurga-Mu

Oleh:

Rikha Zulia

 

Pernakah kalian mendengar kata “tirakat” sobat? Sebagian orang akan merasa asing dengan 7 huruf yang dirangkai menjadi kata “tirakat” ini. Namun banyak pula telinga yang sangat familiar dengan kata tirakat. Tirakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menahan hawa nafsu. Ya menahan hawa nafsu yang dapat mengganggu dan menjerumuskan manusia kelembah setan. Tujuan dari tirakat yaitu untuk membentengi diri dan membawa diri kejannah-Nya.

Pelaksanaan tirakat memang tak semudah mengucapkannya. Tanpa niat, tekad dan cinta tirakat takkan menjadi indah dan penuh berkah. Walau demikian, banyak sekali para pencari berkah dan penuntut ilmu ruhaniyah yang gigih dan semangat menjalankannya. Pengaplikasian tirakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berpuasa, sholat malam, membaca Al-Quran, dzikir, hingga hidup sederhanapun menjadi bagiannya. Golongan manusia yang sangat gigih menjalankan tirakat ini adalah mereka para tholabulilmi ( penuntutilmu) khususnya para santri. Para penuntut ilmu ini bagai seorang pertapa yang harus menjaga diri, fokus, tenang, dan meninggalkan kemewahan dunia yang fana. Mengapa? Karena sepanjang proses menuntut ilmu akan ada berjuta kesenangan yang melalaikan, kemewahan yang menjerumuskan dan kebathilan yang menjadikan salah jalan. Disinilah seorang tholabulilmi harus mampu menjalankan tirakatnya, agar kelak dapat tercapailah cita-cita dan kemuliaan ilmunya.

Menurut para kiyai salaf (yakni para kiyai yang sangat berpegang teguh pada Al-Quran, hadist, dan kitab-kitab salaf karangan ulama-ulama alim yang mulia) tirakat sangat menentukan keberhasilan atas ikhtiyar (usaha) yang dijalankannya. Seorang pelajar yang ingin ilmunya barokah, manfaat dan mulia maka hendaklah menyertakan tirakat dalam proses belajarnya. Seorang wanita yang ingin memilki keturunan cerdas, sholih, sholikhah dan berilmu pengetahuan juga harus memperbanyak tirakatnya. Tirakat seorang wanita inilah yang sangat manjur dan insya Allah diijabah oleh sang Maha Pencipta. Tirakat seorang wanita yang paling mustajab (terkabul) ialah senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis serta sholat malam yang istiqomah (terus-menerus).

Baca Juga:  Taukah Kamu Tugas Pembimbing dan Pengajar Kepada Muridnya, Simak Penjelasan Berikut Ini!

Ada sebuah falsafah jawa mengenai keutamaan tirakat ini “ bapa tapa, anak nampa, putu melu, buyut katut, canggah munggah” yang artinya yaitu“ orang tua yang tirakat, anak ikut mendapatkan barokahnya, cucu ikut menikmati, buyut pun dapat, canggah harus mampu meningkatkan tirakatnya lagi. Falsafah ini seirama dengan sebuah dalil dalam Al-Quran yaitu pada QS. Ath-Thurr: 21 yang artinya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Semoga bermanfaat.

Wallahua’alamubissowab

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Related Posts

Latest Post