Terbiasalah dalam Keniscayaan

Oleh:

Gema Aditya Mahendra

Apa sebenarnya arti dari hidup? Apa yang ingin kita lakukan didalam hidup? Saya sekarang kuliah, setelah lulus bisa akan punya kesibukkan baru berupa pekerjaan. Mungkin di masa depan saya akan menikah. Kalau beruntung mungkin saya akan memiliki beberapa anak, mendapatkan uang pensiun, meratapi kehidupan yang mulai menua, dan kemudian saya mati. Tujuan hidup saya adalah mati, atau bahkan tujuan semua orang yang hidup.

Lantas untuk apa saya repot-repot untuk belajar, bekerja, atau bahkan hidup jika pada akhirnya saya akan terkubur didalam tanah, di gerogoti oleh beberapa hewan dekomposer, dalam kata lain mati?. Untuk apa saya bekerja? Tidak jelas. Untuk apa juga saya beribadah? Padahal sampai sekarang pun belum ada bukti empiris apakah surga dan neraka itu ada atau tidak. Untuk apa saya melakukan ritual? Untuk apa sayaa berbudaya? Untuk apa ksaya melakukan kebaikan? Untuk apa saya eksis di dalam hidup ini?
Semua hal yang ada saat ini tidak memiliki tujuan dan artinya. Hidup adalah suatu kenihilan. Tidak ada pandangan moral, nilai dan norma, atau agama apapun yang benar di dunia ini. Nothing really matters. Perasaan seperti ini menurut saya merupakan sebuah fase yang pernah atau akan dialami oleh seseorang dalam hidup, setidaknya sekali. Umur semakin bertambah, pemikiran semakin bertumbuh. Alhasil banyak orang yang sadar akan ketidakbermaknaan dalam hidup atau mungkin ada.

Hidup itu memang kadang membingungkan, random, dan pekat untuk dipahami, mungkin saja kita hanya kebetulan. Kebetulan saja karena dari triliunan bintang yang ada di alam semesta ini kita eksis. Kebetulan pula kita memiliki otak yang hebat, bisa berpikir lebih jauh daripada spesies yang lain. Sesekali saya bertanya kepada diri sendiri, mengenai apakah ada sesuatu yang membedakan kita sebagai manusia daripada spesies lain. Pertanyaan terjawab dengan kematian adalah jawabannya. Bahwa semua makhluk pada akhirnya akan mati, dan ketika mati, semua hal yang telah kita lakukan didalam hidup menjadi tidak penting. Meaningless.

Baca Juga:  Perihal Pinta

Peristiwa semacam kena marah oleh atasan, masalah dengan pergaulan, mendapat nilai jelek saat kuliah, dibenci oleh orang yang kita sukai, kehilangan uang, kecurian motor. Atau mungkin sebaliknya, mendapatkan penghargaan, dipuja orang, menghasilkan banyak uang, dan lain sebagainya. Semua pencapaian mu tersebut tidak akan lagi bermakna terhadap kematian. Kematian adalah keniscayaan. Semua perasaan yang kamu alami seperti malu, sedih, senang, akan menjadi kosong dihadapan kematian. Dan ketika kamu merasa semua hal yang kamu lakukan adalah kosong dan tidak penting, maka kamu akan memutuskan untuk bunuh diri sekalian atau sebaliknya, melakukan sesuatu yang kamu sukai di dunia ini. Kita bisa memilih tujuan apapun dalam hidup yang kita mau. Kita bisa memilih untuk hidup seperti apapun yang kita inginkan.

Albert Camus, menulis fenomena semacam ini didalam bukunya yang berjudul. The Myth Sysyphus. Ia menceritakan seorang raja yang dihukum oleh alam untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung didalam hidupnya, selamanya. Namun batu besar itu tidak akan pernah sampai ke puncak, batu yang akan hampir mendekati ke puncak akan jatuh tergelinding menuju dasar tanah. Ketika batu besar tersebut berada didasar tanah, Sysyphus akan turun dari gunung dan mendorong batu itu kembali ke puncak gunung. Sysyphus akan terus mendorong batu tersebut terus menerus selama hidupnya meskipun tujuannya tidak akan pernah tercapai.

Baca Juga:  Jangan Anti Dulu! Ternyata Begini Politik Ala Islam

Realita yang kita hadapi didunia ini kurang lebih sama seperti nasib Sysyphus. Misal ketika hari senin mungkin kita akan sedih dimarahi oleh orangtua karena mendapat nilai ujian yang jelek. Kemudian hari selasa mungkin saja kita akan gembira karena diberi uang jajan berlebih, dan karena hal itu kita bisa pergi makan bersama teman untuk di traktir. Hari-hari berikutnya mungkin kita akan sedih lagi atau bahkan senang kembali. Begitupun Sysyphus, pada awalnya ketika ia mendorong batu dia merasa sedih akibat jauhnya dasar gunung ke puncak gunung. Ketika mendekati puncak gunung, Sysyphus akan merasa gembira karena merasa ia akan selesai mendorong batu. Namun ketika batu tersebut jatuh k permukaan, Sysyphus akan menjadi sangat sedih, dan akan menjadi senang kembali ketika batu tersebut mendekati puncak kembali, dan begitu seterusnya. Hidup kita ibarat sebuah siklus.

Meskipun kita hidup merasa bahagia atau dibawah tekanan. Kita harus tetap mendorong batunya. Kita harus menerima kenyataan bahwa hidup tidak memiliki makna yang spesial, meaningless. Kalau kita tidak mendorong batu nya, kita tidak akan pernah merasakan yang namanya sebuah kebahagiaan, kita tidak pernah merasakan sebuah kegagalan, kesedihan, dan lain sebagainya. Hanya dengan menerima untuk terus mendorong batu, kita bisa memiliki tujuan didalam hidup kita, dengan begitu hidup yang tampak sia-sia ini terlihat lebih berarti. Meaningful.

Baca Juga:  Benarkah Baju yang Digantung Jadi Sarang Jin?

Ketika kita tidak lagi percaya sama apapun, tidak lagi terikat oleh dogma apapun, dan menanggap bahwa semua yang eksis di dunia ini adalah ketidakbermaknaan. Semua yang kita lakukan ini seharusnya MUNGKIN untuk dilakukan. Dan tidak ada alasan untuk kita tidak melakukan hal yang sebetulnya berarti untuk kita. Kita bisa menemukan dan membuat arti didalam hidup kita.Pada dasarnya memang hidup ini adalah kanvas kosong yang tidak memiliki makna, maka maknailah kehidupanmu sendiri dengan warna yang kamu inginkan. Setidaknya itu akan membuat mu merdeka bahwa kamu bisa menentukan bagaimana mati mu kelak.

Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan. Tidak ada yang spesial. Maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan ataupun di takjubkan dalam menjalani hidup. Tidak perlu ada yang dikecewakan ataupun dikagumi. Tidak perlu di syukuri ataupun di sesali. Hukum alam telah mengatur sebagaimana kita hidup ataupun mati. Manusia hanyalah suatu komponen kecil yang tidak signifikan keberadaannya didunia ini. Tidak ada yang spesial. Hanya ada kehidupan sebagai awalan dan kematian sebagai akhiran, keduanya merupakan sebuah keniscayaan. Maka terbiasalah dalam keniscayaan.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Related Posts

Latest Post