Hari Pertama Kuliah

Oleh: Mohamad Agus Setiono

Embun masih menyelimuti pagi. Kokok ayam mulai terdengar ditelingaku. Sang mentari sudah lebih dulu keluar dengan sedikit malu-malu. Angin hari ini terasa agak sedikit dingin dari biasanya. rasanya aku malas untuk mandi, tetapi ini adalah hari pertamaku untuk mengikuti perkuliahan. Aku segera mandi dan sarapan dengan keluarga. Aku kuliah di Universitas Negeri Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Yaa, kuliah perdana akan dilakukan secara daring, pandemi menghambat kami semua dalam hal ini. Mau tidak mau kami harus melakukan aktivitas dari rumah. Kuliah tatap muka memang menjadi harapan semua mahasiswa baru, terutama saya sendiri. Kuliah secara daring akan terasa berbeda bagi mahasiswa baru, akan ada tugas online, penjelasan online, dan masih banyak lagi yang berbau online lainnya. Tentu saja kami harus cepat beradaptasi dengan keadaan seperti sekarang. Kami harus siap dengan segala kemungkinan.

“Selamat pagi pak, bu.” Tegurku memulai obrolan.
“Iyaa” jawab Ibu dengan nada lembut.
“Sarapan dulu sini” ucap bapak kepadaku.
“Iya pak, ini juga mau sarapan” jawabku menghampiri mereka.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya adik perempuan dan laki-laki. Bapak bekerja sebagai karyawan swasta di perkebunan sawit PT. SINAR MAS. Ibu tidak bekerja, tetapi kadang ikut bekerja juga. Ia di rumah mengurusi adikku dan juga pekerjaan rumah.

Setelah sarapan, aku langsung bersiap untuk kuliah. “Bu, lihat pulpen ku gak?” tanyaku.
“Coba cari di meja belajar” jawab Ibu. “Gak ada bu,” sambungku. “Coba cari di tasmu atau
kalo gak ada yaa beli lagi.” Ucap Ibu. “Yaudah kalo gitu aku lihat dulu” jawabku.

Aku mencari pulpen di tas, ternyata memang ada di dalam tas. Tak terasa hari sudah pukul 07.03 WIB. harusnya sudah masuk mata kuliah pertama hari ini. “Tok..” bunyi dari grup wa. Ternyata dosen sudah menunggu, kuliah kali ini akan menggunakan aplikasi zoom, untuk sekedar perkenalan dan pemaparan materi yang akan dipelajari. “Ini bakal langsung ada tugas gak yaaa?” tanyaku dalam hati “Semoga saja belum, hehehe” sambungku dengan sedikit bergurau dalam hati. Satu persatu mahasiswa baru memperkenalkan diri dan saatnya giliranku.

“Silahkan itu yang pakai baju merah, Agus yaa namanya?” pak dosen mulai berbicara.
“Iya pak” jawabku.
“Silahkan memperkenalkan diri yaa!” sambungnya
“Baik pak. Assalamualaikum. Wr. Wb. Perkenalkan nama saya Mohamad Agus Setiono. Berasal dari Bangka Belitung, sudah pak. Wassalamualaikum. Wr. Wb.”
“Baik gus, terima kasih. Jauh juga yaa dari Bangka kuliah ke semarang” pak dosen kembali menyambung obrolannya
“Hahaha, iyaa pak. Cari pengalaman baru juga.”

Tak terasa jam mata kuliah telah berakhir. Ternyata benar dugaanku, ada tugas. Setelah ini bakal ada kuliah lagi, masih lama sih pukul 15.00, aku masih bisa istirahat dulu. 30 menit lagi kuliah kedua hari ini bakal dimulai, aku masih makan, setelah itu langsung ke tempat biasa untuk kuliah, yaitu ruang tamu. Ini adalah kuliah kedua, aku masih semangat, meskipun tadi sudah diberikan tugas.
“Tok..” grup wa kembali berbunyi. Ku kira bakal ada pertemuan di zoom lagi, ternyata tidak. Pak dosen sudah memberi tugas terlebih dulu kepada kami.
“Tugas lagi?” tanyaku dalam hati. Ahhh, rasanya aku belum siap jika harus ada tugas disetiap pertemuan.
“Padahal tugas yang tadi aja belum dikerjaiin, ini udah mau ada lagi. Gimana dengan besok? Pasti sama juga.” Aku berbicara sendiri.

“Teman-teman, ini tugas dari dosen kapan ngumpulinnya yaa?” tanyaku di grup wa.
“Minggu depan gus” jawab salah satu teman.
“Ohh gitu, oke dehh. Makasih yaa” jawabku kembali.
“Kita baru pertemuan pertama saja sudah ada tugas” lanjut temanku yang lain.

“Semangat dong teman-teman” ucap salah satu teman.
“Ku menangisss….” sambung lagi dengan sedikit bergurau.
Syukurlah tugas tidak harus dikumpulkan hari ini, tetapi aku harus mengerjakan sekarang karena besok pasti ada tugas lagi dari dosen. Aku benar-benar terkejut dengan tugas hari ini, tidak biasanya aku mendapat tugas yang sebanyak ini, belum lagi tugas ospek dan masih banyak lagi tugas lain yang harus aku selesaikan. Ini tentu akan menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk kami kedepannya. Kami juga akan terbiasa dengan tugas-tugas seperti ini. Itu lah gunanya beradaptasi, kami harus bisa beradaptasi dengan baik. Kuliah di hari pertama sangat diluar ekspektasi, tetapi tak mengapa bukan masalah juga. Justru ini menjadi modal berarti bagi kami mahasiswa baru.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Saintis dan Pendidik

Oleh:

Fafi Masiroh

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa di antara saintis dan pendidik memiliki perbedaan yang sangat kontras. Tidak sedikit orang berargumen bahwa saintis adalah seorang yang sudah terjun dalam suatu lingkup ilmu pengetahuan, atau bahkan sudah menjadi ahli dalam suatu rumpun ilmu. Dalam hal ini misalnya, seseorang yang memiliki kemampuan mendalam terkait disiplin ilmu seperti fisika, biologi, geografi, dan disiplin ilmu lainnya baik mendalami secara material ataupun melalui riset. Sedangkan pendidik merupakan seseorang yang mendidik, yakni membagikan ilmunya kepada orang lain secara kontinu dan berkesinambugan. Dalam hal ini, pendidik berkaitan dengan guru, dosen, konselor dan lainnya. Dari argumen tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa saintis cenderung berpeluang untuk dianggap sebagai seorang ilmuwan, yang disertifikasi mampu untuk menciptakan pengetahuan baru. Lain halnya dengan pendidik, yang hanya sekedar membagikan atau memberikan ilmu pengetahuan yang sudah berkembang dan mereka mampu menguasainya. Hal demikianlah yang membuat di antara saintis dan pendidik memiliki perbedaan yang kontras.

Melihat dari sudut pandang secara luas, bahwa di antara saintis dan pendidik, mereka sebenarnya juga memiliki persamaan. Tentu pastinya, karena setiap kali terdapat perbedaan juga terdapat persamaan. Montessori, seorang doktor wanita pertama dari Italia yang berperan sebagai seorang saintis sekaligus pendidik. Ia merupakan seorang saintis yang berjiwa pendidik, seta seorang pendidik yang selalu memperdalam ilmu. Menurutnya, jika ia menjadi saintis, maka ia seorang pendidik. Mengapa demikian? Karena pendidik, bukanlah hanya semata-mata sebagai sebuah profesi. Pendidik selalu memiliki spirit dalam berbagi ilmu, berkontribusi dalam bidang pendidikan, serta saintis sangatlah perlu memiliki jiwa tersebut. Jiwa untuk membagi ilmu. Bagaimana jika saintis tidak memiliki jiwa pendidik? Lantas bagaimana bisa ilmu pengetahuan yang telah mereka temukan dapat diketahui dan dipahami oleh khalayak umum? Jika demikian, untuk apa mereka menciptakan ilmu pengetahuan baru? Oleh karen itu, saintis, ialah juga pendidik. Demikian juga, menurut Montessori jika ia pendidik, maka ia juga saintis. Seorang pendidik perlu memiliki karakter sebagai saintis, yaitu mereka selalu memiliki semangat dan keinginan besar dalam mengggali dan mendalami ilmu. Jika pendidik menguasai penuh serta mendalami ilmu pengetahuan secara lebih luas, tidak menutup kemungkinan bahwa pendidik akan membagikan ilmu lebih luas da lebih dalam. Bagaimana jika pendidik tidak semangat dalam menggali dan mendalami ilmu? Lantas apa yang akan mereka bagikan jika ilmunya tidak dalam? Oleh karena itu, pendidik pun perlu disebut sebagai saintis.

Lepas dari penjelasan tersebut, baik saintis dan pendidik merupakan tokoh yang sebenarnya penting dalam kehidupan ini, terlebih terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan kemjuan suatu bangsa serta dalam melahirkan generasi bangsa yang berkualitas.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang