Sisi Positif dibalik Pandemi Covid-19

Oleh: Mohammad Naelul A.

Berbicara mengenai pandemi Covid-19, memang tak lepas dari kebiasaan sosial yang kita alami selama kurang lebih 5 bulan lamanya berubah seketika. Kebiasaan lama seperti berkerja, belajar, dan aktivitas sosial lainnya yang berjalan normal sebelumnya, tiba-tiba harus disesuaikan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mencegah tersebar luasnya wabah pandemi ini. Mulai dari aktivitas keseharian yang diharuskan untuk sering mencuci tangan, membatasi bersentuhan fisik dengan orang lain, dan senantiasa untuk menggunakan masker dan APD lainnya guna menghindar dari kemungkinan buruk tertular virus yang mewabah keseluruh belahan dunia ini. Kemudian beberapa kegiatan sosial seperti bekerja dan belajar pun menjadi terhambat, sehingga alternatif yang digunakan untuk tetap berjalan adalah dengan melalui daring, jejaring internet.

Memang banyak sekali hal negatif yang menimpa masyarakat dimasa sekarang, namun setelah berjalan kurang lebih lima bulan lamanya, sisi posistif dari wabah pandemi ini pun semakin terlihat. Baik disadari maupun tidak disadari masyarakat tumbuh menjadi lebih disiplin dari keadaan sebelum pandemi ini mewabah, contoh kecilnya kebiasaan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitarnya, lalu kebiasaan patuh terhadap aturan yang diterapkan dimasyarakat seperti mengunakan masker saat akan berpergian dan menjaga kontak berlebih dengan orang lain. Selain itu wabah ini menjadikan hubungan antar keluarga menjadi semain erat dan meminimalisasi adanya ego antar keluarga. Orang tua semakin dekat, lebih peduli, lebih sering meluangkan waktu dengan anaknya, dimana dikeadaan normal orang tua harus sibuk berkerja dan sempit sekali waktu untuk diluangkan kepada keluarganya.

Lalu semakin banyak pula orang yang lebih peduli terhadap sesama, dengan memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan saling menjaga antar sesama dalam meawan pertumbuhan virus yang semkin menjadi-jadi yakni dengan membagikan APD secara gratis yang notabenya juga berasal dari sumbangan kepedulian masyarakat kepada masyarakat yang membutuhkan. Dan terlihat jelas pula orang semakin sadar dengan menyediakan tempat-tempat mencuci tangan yang sebelumnya sangat jarang sekali ditemui. Karena orang semakin sadar, bahwa untuk melawan pandemi ini harus dengan kekuatan kerjasama yang kuat. Maka kepedulian, kerjasama, saling bantu-membantu semakin terlihat di masyarakat.

Kemudian aktivitas belajar mengajar yang diubah dari awalnya pertemuan tatap muka menjadi pembelajaran daring. Mau tidak mau baik guru maupun murid diharuskan belajar menggunakan teknologi yang ada, baik computer maupun gawai, semisal pembelajaran melalui aplikasi atau tools e-learning seperti google classroom, whatsapp group, email, google meet, maupun zoom meeting sebagai alternatif media pembelajaran jarak jauh. Dengan begitu, guru maupun murid menjadi semakin akrab dengan teknologi, yang semula masih asing dengan e-learning kini semakin terbiasa menggunakan media-media daring tersebut. Karena pada akhirnya kita harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, dan dengan semakin terbiasanya menggunakan teknologi maka semakin maju pula perkembangan pendidikan di negeri ini.

Selain kebiasaan umum yang menjadi lebih baik, kebiasaan-kebiasaan baru pun mulai bermunculan. Salah satunya kebiasaan seseorang untuk berolahraga, terutama yang menjadi perhatian saat ini adalah bersepeda. Mungkin bukan sepenuhnya kebiasaan baru, namun sebagai sebuah kebiasaan yang kompak diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, begitupun dengan orang berskala menengah kebawah hingga kalangan menengah keatas, kompak dengan kebiasaan baru ini. Selain menjadikan masyarakat hidup sehat, dampak positif lainnya yaitu semakin berkurangnya polusi udara di perkotaan terutama di jalan raya sehingga udara yang kita hirup pun semakin baik karena kadar CO2 menurun drastis. Tentunya dengan tetap mengenakan APD sesuai aturan yang berlaku.

Kebiasaan bersepeda ini pun menjadi kesempatan emas bagi pelaku bisnis kendaraan beroda dua ini, semakin banyak orang mau bersepeda semakin banyak pula keuntugan bagi mereka yang berada di bisnis ini. Tentu saja dengan keadaan seperti ini banyak orang mengambil inisiatif untuk ambil bagian dalam bisnis ini. Sebagai contoh banyak kalangan muda yang mengubah sepeda bekas yang sudah usang didaur ulang kembali menjadi sepeda yang baru dan bernilai jual tinggi, di sisi lain masyarakat juga yang memiliki kesempatan untuk menjual sepeda bekasnya dengan harga yang tebilang cukup tinggi dari biasanya. Tentu saja ini sangat membantu masyarakat dari segi ekonominya.

Dari berbagai sisi positif yang penulis sebutkan, tentunya masih banyak sisi positif lain yang timbul dari pademi ini meskipun sisi negetifnya tidak bisa dielak. Namun dari kesemua ini, dapat diambil kesimpulan bahwa bukan berarti sebuah wabah penyakit menghancurkan segala hal, tentunya ada hikmah dibaliknya. Tidak ada sesuatu yang sia-sia dari penciptaan Allah (QS. 3:191), begitu yang tertulis dalam Alquran, hikmah selalu ada dibalik sebuah peristiwa. Yang bisa kita lakukan adalah tawakal, doa, dan selalu berusaha agar pandemi yang menimpa kita segera cepat terselesaikan, dan kembali pada keadaan normal seperti sediakala.

Penulis merupakan salah satu mahasantri Pesantren Rist Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Petani dan Pandemi

Oleh:

Anur Wahyu Ningtyas

Negara Indonesia merupakan Negara yang terkenal kaya akan sumber daya alam. Selain sebagai Negara maritim Indonesia juga terkenal sebagai Negara agraris dengan hasil pertanian yang melimpah. Bahkan mata pencaharian sebagian besar masyarakat Indonesia masih didominasi oleh petani terlebih pada beberapa daerah yang berada di pedesaan yang masih sangat mengandalkan hasil pertanian sebagai sumber mata pencaharian. Selain di dukung dengan tanah yang subur Indonesia juga memiliki dua pergantian musim yaitu musim penghujan dan kemarau yang mana hal tersebut sangat berpengaruh terhadap proses kegiatan bercocok tanah. Jenis tanaman yang ditanam oleh petani di setiap daerah tentu beraneka ragam yang disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah dan juga suhu udaranya.

Sistem pertanian yang digunakan masyarakat Indonesia pada masa dulu dengan sekarang sangat berbeda. Pada saat ini hampir sebagian besar petani di Indonesia sudah menggunakan berbagai alat yang jauh lebih modern akibat adanya perkembangan teknologi yang semakin canggih. Tanaman yang ditanam saat ini juga lebih beragam tidak hanya terfokus pada padi, palawija serta sayur-sayuran, hal ini diakibatkan karena semakin meningkatnya permintaan bahan pangan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi.

Pada masa pandemi seperti saat ini tentu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para petani. Berbagai kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah tampaknya tidak berlaku bagi petani. Para petani mau tak mau harus tetap pergi ke sawah, padahal jika dilihat sebagian besar penduduk yang bekerja di sektor pertanian sudah banyak yang berusia lanjut akibat minimnya regenerasi petani muda yang ada di Indonesia. Panen raya yang seharusnya menjadi peluang emas bagi petani dengan harapan besar akan mendapatkan keuntungan selama bercocok tanam harus sirna akibat pandemi covid-19 yang cukup menjadi beban bagi para petani. Kerugian yang dialami petani pada tahun ini tentu cukup besar, hal ini dikarenakan terganggunya proses distribusi hasil pertanian, harga yang semakin menurun ditambah dengan menurunnya permintaan hasil pertanian oleh masyarakat Indonesia.

Sebagian besar petani terpaksa harus menjual hasil panennya walaupun dengan harga yang semakin menurun untuk tetap dapat melangsungkan kehidupannya serta sebagai modal untuk melaksanakan proses produksi tanaman selanjutnya. Hal ini harus didukung adanya kerja sama serta uluran tangan dari pemerintah untuk tetap memperhatikan kesejahteraan petani dengan membantu mendistribusikan hasil pertanian kepada masyarakat serta mempermudah penyediaan bibit serta pupuk bagi petani.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang