Santri Al-Muhtada Goes To Klaten & Jogja

Rihlah Bulan Februari Perjalanan Indah Peningkat Ukhuwah

 

 

 

 

 

Rihlah telah menjadi suatu acara tersendiri bagi para santri Pesantren Riset Al-Muhtada sebagai tali untuk meningkatkan keakraban. Rihlah pesantren ini merupakan suatu kegiatan perjalanan yang menjadi acara tahunan sebagai sarana pengurang kejenuhan dan kepenatan dalam memenuhi tugas dan tanggung jawab kegiatan dalam pondok. Pada tahun ini yakni tahun 2020, rihlah diadakan pada tanggal 22-02-2020. Sebuah angka cantik di bulan februari. Acara rihlah ini diikuti oleh 26 santri dan mas Ayon Diniyanto yang merupakan mentor pesantren beserta temannya.

Berdoa sebelum perjalanan menjadi hal awal untuk memohon keselamatan kepada Allah. Hingga akhirnya perjalanan pun dimulai. Rihlah kali ini diawali dengan perjalanan menuju makam Sunan Pandanaran untuk berziarah. Makam ini merupakan salah satu tempat wisata religi yang cukup terkenal di kalangan peziarah yang terdapat di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di  Desa Paseban, Kecamatan Bayat. Kompleks Makam Sunan Pandanaran berlokasi di sebuah bukit dengan makam umum di bagian dasar hingga anak tangga, beserta pasarnya di pinggiran anak tangga tersebut dan kompleks makam utama yang berada di puncak bukit.

Arsitektur kuno yang indah dan keramahan penduduk lokalnya turut menambah kebahagiaan para santri ketika berziarah di tempat bersejarah ini. Hati semakin bahagia ketika para santri sudah mencapai puncak lokasi yang dijadikan tempat ziarah. Tidak hanya arsitektur yang indah, pemandangan hijau yang terlihat dari atas puncak pun turut memanjakan mata. Subhanallah, indah sekali ciptaan-Mu tak pernah berhenti rasanya diri ini untuk mengagungkan Engkau Ya Rabb…. Setelah selesai berziarah, kami menuruni anak tangga dan melanjutkan perjalanan ke lokasi rihlah yang kedua

Baca Juga:  Story of Qais, Who Fainted During Fasting Ramadhan

Benar sekali, tujuan rihlah selanjutnya adalah pantai Indrayanti yang merupakan salah satu pantai indah di Gunung Kidul, Daerah Istimewah Yogyakarta. Pantai ini menjadi pantai kenangan tersendiri bagi para santri karena disinilah segala kepenatan dan kejenuhan itu tersingkirkan sejenak. Menghirup udara segar, memanjat tebing di bibir pantai, bermain air, dan berlarian di sepanjang bibir pantai sungguh sangat menyenangkan. Hmmm, Pantai ini telah menjadi saksi senyuman indah dari para santri.

Perjalanan terakhir adalah malioboro yang merupakan salah satu nama kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Jalan ini merupakan salah satu pusat perbelanjaan terkenal di jogja karena begitu banyak tempat perbelanjaan di sepanjang jalan tersebut. Hanya sebentar kami disini karena hari telah malam. Kami sampai pukul 20.30. WIB dan pulang dari malioboro pukul 22:00  sehingga kami hanya memiliki waktu 1,5 jam untuk menikmati Indahnya hiruk pikuk yang terjadi di sepanjang jalan Malioboro. selanjutnya, para santri pun menuju ke pesantren untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya kembali.

Banyak kenangan dan pelajaran berharga selama perjalanan rihlah berlangsung. Uang memang telah habis untuk memenuhi kebutuhan selama rihlah, namun kenangan indah yang telah tergores selama 20 jam ini tidak akan pernah pudar dalam ingatan. Waktu bersama-sama memang selalu memberikan arti tersendiri bagi pemeran utama di dalamnya. Sampai jumpa di rihlah tahun depan para mahasantri pesantren riset al-muhtada.

Baca Juga:  Jangan sampai terlewat : inilah waktu mustajab untuk berdoa

 

Reportase        : Khoirul Mumtahanah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada

Editor              : Nurjaya Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada

Related Posts

Latest Post