Mengapa Kantuk Datang Saat Kajian Dimulai?

Ilustrasi jamaah yang sedang menghadiri majelis ilmu (Pinterest.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Pernahkah kita mengalami keadaan seperti ini – saat membuka media sosial, menonton video, atau mengobrol dengan teman, mata terasa segar dan sulit mengantuk? Namun, ketika mulai membaca Al-Qur’an atau mendengarkan kajian, rasa kantuk justru datang tanpa diundang.

Kelopak mata terasa berat, konsentrasi berkurang, bahkan terkadang baru beberapa menit mendengarkan ceramah sudah mulai menguap berkali-kali.

Fenomena ini sering dialami banyak orang. Bahkan tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa rasa kantuk justru datang ketika sedang melakukan ibadah atau menuntut ilmu agama?

Dalam Islam, menuntut ilmu dan membaca Al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia. Rasulullah bersabda:

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Karena besarnya keutamaan tersebut, para ulama menjelaskan bahwa setan sangat tidak menyukai aktivitas yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Setan akan berusaha menghalangi manusia dari berbagai bentuk kebaikan, termasuk mengaji dan menghadiri majelis ilmu.

Rasulullah juga bersabda

“Menguap itu dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, maka tahanlah semampunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak berarti setiap kantuk berasal dari setan secara mutlak. Sebab kantuk juga merupakan kebutuhan alami tubuh. Namun para ulama menjelaskan bahwa setan memanfaatkan kondisi tersebut untuk melemahkan semangat seseorang dalam beribadah.

Di sisi lain, rasa kantuk saat mengaji tidak selalu disebabkan oleh gangguan setan. Bisa jadi tubuh memang sedang kelelahan, kurang tidur, atau kondisi fisik yang tidak prima. Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan antara menjaga kesehatan tubuh dan memperbanyak ibadah.

Baca Juga:  Mulianya orang yang mendatangi majelis ilmu

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّى فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لاَ يَدْرِى لَعَلَّهُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

Jika salah seorang di antara kalian dalam keadaan mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur terlebih dahulu hingga hilang ngantuknya. Karena jika salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ternyata ia malah mencela dirinya sendiri.”(HR. Bukhari no. 212  dan Muslim no. 786).

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis. Jika kantuk muncul karena faktor fisik, maka tubuh juga memiliki hak untuk beristirahat.

Namun, ada satu hal yang perlu menjadi bahan muhasabah. Mengapa terkadang kita bisa bertahan berjam-jam menonton, bermain ponsel, atau melakukan hal yang kita sukai, tetapi baru beberapa menit membaca Al-Qur’an sudah merasa berat?

Bisa jadi masalahnya bukan pada tubuh, melainkan pada hati.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hati yang jauh dari Allah akan lebih mudah merasa berat dalam ketaatan. Sebaliknya, hati yang dekat kepada Allah akan menemukan kenikmatan dalam ibadah.

Karena itu, ketika rasa kantuk datang saat mengaji atau kajian, jangan langsung menyerah. Periksa kondisi tubuh, perbaiki pola istirahat, dan yang lebih penting, perbaiki hubungan dengan Allah. Perbanyak doa agar diberikan hati yang mencintai Al-Qur’an dan ilmu agama.

Baca Juga:  Balasan untuk Orang-orang yang Sengaja Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan

Sebab sejatinya, bukan Al-Qur’an yang membosankan. Bukan pula kajian yang membuat lelah. Namun terkadang hati kita yang masih membutuhkan waktu untuk kembali merasakan manisnya dekat dengan Allah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang dimudahkan dalam membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, dan menikmati setiap ibadah yang dilakukan karena-Nya

Penulis: Fitri Novita Sari

 

 

Related Posts

Latest Post