almuhtada.org – Berbicara tentang ‘bahagia’, coba tanya ke diri sendiri, kapan terakhir kali kamu benar-benar merasakannya? Apakah kemarin ketika dapat diskon, atau kemarinnya lagi karena semua pekerjaan sudah selesai dikerjakan?
Banyak dari kita menghabiskan hari-hari untuk mengejar hal-hal duniawi : karier, cinta, hiburan. Hal-hal tersebut mampu membuat kita bahagia, karena manusia memang makhluk yang membutuhkan kepuasan. Akan tetapi, ada salah satu makna kebahagiaan yang tidak semua orang tahu, bisa memahami, dan mensyukurinya, yaitu makna kebahagiaan versi Imam Al-Ghazali.
Di masa mudanya, beliau adalah guru besar di Baghdad, universitas paling bergengsi di dunia Islam kala itu. Muridnya ratusan, bukunya dibaca di mana-mana, hidupnya nyaman dan terpandang. Tapi di dalam hatinya, beliau merasakan gelisah, kosong, dan bertanya-tanya: inikah yang sesungguhnya membuat hidup bermakna?
Akhirnya, beliau merantau, meninggalkan semua jabatan dan kemewahan yang beliau miliki, membuat banyak orang terkejut. Beliau mencari sebuah jawaban: apa yang membuat hati benar-benar tenang? Pada akhirnya, pencariannya berhasil, beliau menemukan jawabannya. Jawaban itu beliau tulis dalam sebuah karya yang ia namai Kimiya’ al-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan).
Isi karya tersebut menjelaskan tentang analogi menarik yang dimiliki Imam Al-Ghazali. Beliau berkata bahwa setiap bagian dari diri kita punya ‘bahagia’-nya masing-masing. Mata bahagia melihat pemandangan indah. Telinga bahagia mendengar suara merdu. Lidah bahagia merasakan makanan enak. Tapi hati? Hati berbeda. Hati diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kepuasan indra. Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa kenikmatan hati hanya bisa dirasakan ketika diri kita mengenal Allah, karena memang untuk itulah hati diciptakan.
Itulah mengapa sebagian orang yang punya segalanya secara materi, terkadang selalu merasa ada yang kurang. Karena dia memberi makan semua bagian dari dirinya, kecuali hati. Dan hati yang tidak terpenuhi fitrahnya akan terus merasa lapar, seberapapun banyak yang kita kejar di luar sana. Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Karya Imam Al-Ghazali dan ayat Al-Quran tersebut adalah jawaban atas pertanyaan yang dipendam oleh sebagian orang: kenapa sih, aku tidak pernah merasa cukup?
Imam Al-Ghazali juga menyebutkan enam langkah nyata yang bisa membawa kita menuju kepada ketenangan hati, yaitu:
- Tobat, mulai dari lembaran bersih. Berhenti menyalahkan diri berlebihan atas masa lalu. Tobat bukan soal kesedihan, tapi soal niat dan keberanian untuk memulai lagi.
- Sabar, tidak semua harus hari ini. Sabar bukan pasrah tanpa usaha. Ini soal tetap tenang dan percaya ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana kita.
- Zuhud, tidak diperbudak keinginan. Zuhud bukan berarti harus miskin. Zuhud bisa diartikan kita yang memegang dunia, bukan dunia yang memegang kita.
- Tawakkal, mengoptimalkan usaha dan memasrahkan hasil. Lakukan yang terbaik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Ketenangan datang ketika kita berhenti mengontrol semua yang ada di luar kendali kita.
- Cinta, menjadikan allah dan akhirat sebagai orientasi hidup. Ketika kita sungguh-sungguh mengenal Allah, cinta itu tumbuh sendiri. Dan dari cinta itulah lahir ketenangan yang tidak bergantung pada situasi dan kondisi hidup kita.
- Ikhlas, berbuat tanpa pamrih. Ketika kita tidak lagi butuh tepuk tangan orang lain untuk merasa cukup, hidup terasa jauh lebih ringan.
Semua langkah tersebut tidak harus dilakukan sekaligus. Karena berubah ke arah yang lebih baik butuh usaha perlahan-lahan yang konsisten. Satu langkah kecil yang istiqomah jauh lebih bermakna daripada langkah besar yang tidak membawa dampak berkelanjutan.
Saat ini, kita hidup di zaman tekonologi yang menawarkan segalanya dengan cepat, sehingga mungkin tidak pernah benar-benar duduk merenungkan dan merefleksikan hati kita sendiri. Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan tentang menambah terus, akan tetapi tentang membersihkan terlebih dahulu apa yang menghalangi hati kita untuk tenang. Sebagaimana cermin berdebu yang seberapapun indah cahaya di depannya, pantulannya tidak akan jernih kalau permukaannya kotor.
Membersihkan hati bisa dimulai dari hal yang kecil: duduk sejenak setelah sholat tanpa langsung meraih handphone, bersyukur atas tiga hal kecil sebelum tidur, memaafkan kesalahan seseorang kepada kita, dan lain sebagainya.
Kebahagiaan sejati bukan terletak di ujung pencapaian berikutnya. Ia ada di dalam hati yang bersih, yang tenang, dan yang tahu ke mana ia pulang.
Penulis: Nihayatur Rif’ah











