almuhtada.org – Pernah mendengar imam yang ketika membaca Surat Al-Fatihah, ayat ketiga mimnya dibaca panjang? Namun, imam lain ada yang membacanya pendek? Atau pernahkah kalian mengalami ketika ingin mendengar murottal merdu melalui YouTube, lalu di sana ada banyak pilihan merdu seperti nada jiharkah, nada nawahand dan lainnya?
Jika kalian masih belum memahami apa maksudnya dan apa bedanya di antara istilah-istilah tersebut, maka mari kita simak bersama penjelasan mengenai istilah-istilah tadi.
Qira’ah Sab’ah: Teks dan Aturan Bahasa, Bukan Lagu!
Pertama, kita bahas Qira’ah Sab’ah. Secara bahasa, ‘Qira’ah’ itu artinya bacaan dan ‘Sab’ah’ itu artinya tujuh. Jadi, yang dimaksud di sini adalah 7 cara atau mazhab membaca Al-Qur’an yang sanadnya bersambung langsung ke Nabi Muhammad SAW.
Ingatlah bahwa Qira’ah Sab’ah murni berkaitan dengan urusan linguistik, tajwid, dan dialek bahasa Arab. Tidak ada hubungannya dengan nada, lagu, atau merdunya suara. Bedanya ada pada cara pengucapan atau harakat. Contohnya:
- Di surat Al-Fatihah, ada imam qira’ah yang membaca “Maaliki” (mimnya panjang), ada juga yang baca “Maliki” (mimnya pendek).
- Atau ada juga beberapa orang yang membaca “Wad-duhaa” jadi “Wad-duhee” (memiringkan bunyi ‘a’ ke ‘e’ yang disebut Imalah).
Kesemua itu adalah bagian dari variasi Qira’ah Sab’ah. Ibaratnya, ini adalah naskah asli dan aturan bahasanya.
Langgam (Maqamat): Payung Seni Melodinya
Jika Qira’ah Sab’ah adalah teksnya, maka langgam, atau dalam tradisi Timur Tengah sering disebut Maqamat, merupakan seni cara menyanyikannya.
Langgam ini adalah wadah besar untuk semua melodi atau irama saat membaca Al-Qur’an. Tujuannya adalah agar bacaannya terdengar lebih indah, tidak monoton, dan maknanya makin meresap ke dalam hati yang mendengar.
Tapi ada syarat dalam penggunaan langgam atau maqamat ini, yaitu menggunakan langgam apa pun, aturan tajwid tetap harus diutamakan. Tidak boleh demi mengejar nada tinggi, aturan panjang-pendek tajwid menjadi rusak. Jadi, jika ditanya langgam itu apa, jawabannya adalah genre seni melodi tilawah itu sendiri.
Lalu, di mana posisi Jiharkah? Apakah ini adalah salah satu jenis spesifik dari keluarga Langgam tadi? Dalam seni membaca Al-Qur’an, ada 7 langgam utama yang populer. Biasanya qari memiliki rumus singkatan Bihajarin Sika, yaitu: Bayati, Hijaz, Jiharkah, Rast, Nahawand, Sika, dan Kurd.
Sebagai contoh, ciri khas nada Jiharkah ini manis, syahdu, lembut, dan terkadang terasa agak melankolis. Biasanya, nada ini cocok dan akan membuat merinding jika dipakai ketika qari membaca ayat-ayat tentang kasih sayang Allah, surga, atau ayat-ayat yang berisi doa.
Kesimpulan yang Dapat Ditangkap
Agar lebih mudah diingat, mari kita analogikan. Qira’ah Sab’ah diibaratkan sebagai lirik lagu dan tata bahasanya, maka mencakup apakah menggunakan bahasa Indonesia baku atau ada aksen daerahnya.
Langgam kita ibaratkan sebagai genre musik secara umum, maka langgam mencakup pop, jazz, atau akustik. Lalu di dalamnya ada nada jiharkah yang diibaratkan sebagai satu aliran spesifik di dalam genre secara umum tadi.
Jadi, secara praktiknya dapat dibayangkan seperti ini. Seorang qari membaca Al-Qur’an mematuhi aturan teks Qira’ah Sab’ah, misalnya ia mengikuti riwayat Imam ‘Ashim yang paling umum di Indonesia, lalu ia melagukannya dengan langgam Arab dan memilih nada jiharkah sebagai melodi utamanya. Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini].











