Ketika Perempuan Mengejar Ilmu dan Karier, Apakah Peran “Madrasatul Ula” Terabaikan?

Gambar Ilustrasi Orang yang sedang merencanakan sesuatu (Freepik.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Di tengah perkembangan zaman, semakin banyak perempuan yang menempuh pendidikan tinggi dan berkarier di berbagai bidang. Sebagian orang kemudian bertanya, apakah hal tersebut dapat mengganggu peran perempuan sebagai Madrasatul Ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya? Dalam pandangan Islam, pendidikan dan karier perempuan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan fitrah maupun syariat, selama tetap dijalankan dalam koridor yang benar.

Islam justru sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Rasulullah Saw. bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki hak dan kewajiban untuk memperoleh pendidikan. Bahkan, sejarah Islam mencatat banyak perempuan berilmu yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Salah satunya adalah Aisyah binti Abu Bakar yang menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Pendidikan tinggi dan karier tidak serta-merta menghilangkan peran seorang ibu, yang menjadi persoalan bukanlah tingkat pendidikan atau pekerjaannya, melainkan bagaimana ia mengatur prioritas dan tanggung jawabnya. Seorang ibu yang berilmu justru memiliki bekal lebih baik untuk mendidik anak-anaknya. Ia mampu menanamkan nilai agama, akhlak, serta wawasan yang luas kepada generasi berikutnya.

Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa pendidikan keluarga merupakan amanah yang harus dijaga. Amanah tersebut tidak gugur hanya karena seorang perempuan memiliki karier. Sebaliknya, karier dapat menjadi sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat selama tidak membuatnya melalaikan kewajiban utama terhadap keluarga.

Baca Juga:  Perlu Diketahui, Amalan yang Bisa Dilakukan Ketika Menghadapi Masalah Dunia!

Peran sebagai Madrasatul Ula bukan berarti seorang ibu harus selalu berada di rumah sepanjang waktu. Yang lebih penting adalah kualitas pendidikan, perhatian, keteladanan, dan kedekatan yang diberikan kepada anak. Banyak ibu yang tidak bekerja namun kurang hadir dalam pengasuhan, dan sebaliknya terdapat ibu yang berkarier tetapi tetap mampu mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik.

Pada akhirnya, Islam mengajarkan keseimbangan. Perempuan berpendidikan tinggi dan berkarier dapat tetap menjadi Madrasatul Ula yang baik apabila ia mampu menempatkan ilmu, pekerjaan, dan keluarganya secara proporsional. Sebab ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah profesi atau gelar yang dimiliki, melainkan ketakwaan dan tanggung jawab yang ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishawab. [] Aisyatul Latifah

Related Posts

Latest Post