White Lie: Bolehkah Berbohong Demi Menjaga Perasaan? Ini Penjelasan Menurut Islam

Ilustrasi seorang ayah yang mengucapkan kebuhongan untuk menjaga perasaan anaknya (Magnific.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Dalam hidup, terkadang kita merasa perlu berbohong demi kebaikan orang yang kita sayangi atau orang yang dekat dengan kita. Ada kalanya kita berbohong tentang sesuatu untuk menjaga perasaan orang lain.

Ada kalanya juga kita berbohong tentang sesuatu demi kebaikan orang lain. Seperti halnya orang tua yang berbohong tentang kondisi tubuhnya agar anaknya tidak merasa khawatir dan gelisah.

Kebohongan-kebohongan yang didasari oleh niat baik tersebut sering kita kenal dengan istilah white lie. Lantas, apakah Islam memperbolehkan kita untuk mengucapkan white lie untuk menjaga perasaan orang terdekat kita? Simak artikel berikut dengan seksama untuk mengetahui jawabannya!

Sebelum membahas lebih dalam, ada satu hal yang diingat, yaitu Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran. Hal tersebut dapat dilihat dari betapa banyaknya dalil dari Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan tentang perintah hingga keutamaan jujur.

Salah satu dalil tentang perintah jujur dapat dilihat pada Q.S. Al-Ahzab ayat 70 yang berbunyi:

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيم

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. Al-Ahzab:70)

Seperti yang telah dijelaskan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 70 di atas, Allah Swt. memerintahkan kita untuk senantiasa mengucapkan perkataan yang benar (jujur). Masih banyak dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran, bahkan jika kebenaran yang diutarakan terasa sangat pahit rasanya. Hal serupa dijelaskan dalam hadis riwayat Ahmad yang berbunyi:

Baca Juga:  Ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah swt pada hambanya

قُلِ الْحَقَّ، وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Artinya: “…Katakanlah kebenaran itu, walaupun itu pahit.” (HR. Ahmad)

Penggalan hadis di atas menjelaskan bahwasannya Islam tetap menjunjung tinggi kejujuran, meskipun kebenaran yang diutarakan terasa sangat pahit. Dengan kata lain, hadis tersebut menjelaskan bahwasanya kebenaran tetap harus diungkapkan meskipun kebenaran tersebut terasa sangat menyakitkan untuk diucapkan dan diterima. Selain itu, di dalam Islam juga terdapat banyak dalil yang menjelaskan tentang larangan untuk berbohong. Lalu, bagaimana dengan hukum white lie dalam Islam?

Berdasarkan sabda Rasulullah Saw., terdapat tiga kondisi ketika seseorang diperbolehkan untuk berbohong. Ketiga kondisi tersebut dijelaskan dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Umi Kulstum yang berbunyi:

 لَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: الْحَرْبُ، وَالْإِصْلَاحُ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

Artinya: “Aku belum pernah mendengar Nabi mentolerir sesuatu yang oleh orang disebut kebohongan kecuali dalam tiga kondisi; pada saat perang, mendamaikan dua orang, dan perkataan suami kepada istri, atau perkataan istri kepada suami.”

Berdasarkan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwasanya seseorang diperbolehkan untuk berbohong jika memenuhi ketiga kondisi di atas, yaitu saat perang, mendamaikan kedua belah pihak yang berselisih, dan percakapan antara suami dan istri.

Tentu kebohongan yang dimaksud dengan niat atau tujuan yang baik, dan tidak menimbulkan dampak buruk. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwasanya hukum dari white lie diperbolehkan dalam Islam dalam kondisi tertentu, yaitu mendamaikan kedua belah pihak yang sedang berselisih, dan percakapan antara suami dan istri selama niat dan tujuannya baik.

Baca Juga:  Produktif Banget, Yuk Cari Tahu Kehebatan Ulama Kita yang Karyanya Masih Dimanfaatkan Hingga Kini!

Namun, perlu diingat bahwasanya Islam lebih mengedepankan kejujuran dibandingkan dengan kebohongan. Jadi apabila suatu permasalahan bisa diselesaikan tanpa mengandalkan kebohongan, maka cara tersebut harus diutamakan. Cukup sekian artikel yang saya tulis, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya termasuk diri saya sendiri. [Muhammad Khoirul Anwar]

Related Posts

Latest Post