almuhtada.org – Pastilah diantara kita semua saat beranjak dewasa pernah di masa mempertanyakan diri sendiri, pertanyaan seperti “siapa saya?”, “apa tujuan hidup ini?”, dan “untuk apa aku ada?” sering muncul dan membuat kita di fase untuk mencari jati diri.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai fase pencarian identitas atau jati diri. Namun, dalam pandangan Islam, pencarian jati diri bukan sekadar proses psikologis, melainkan juga perjalanan spiritual untuk memahami hakikat diri dan tujuan hidup yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Bahwasanya islam mengajarkan bahwa manusia tidak diciptakan tanpa tujuan. Allah SWT berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dari ayat tersebut ditunjukkan bahwa tujuan utama dari manusia hidup adalah beribadah kepada Allah. Oleh karena itu ketika seseorang mulai mencari jati dirinya, sesungguhnya ia sedang berusaha memahami posisinya sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab di dunia, sehingga dalam hal ini islam memberitahu, menemukan jati diri adalah tentang bagaimana juga manusia memahami tujuan penciptaan dirinya.
Di fase ini secara psikologis berkaitan dengan perkembangan akal dan kesadaran, dan seseorang akan mulai berpikir kritis terhadap makna yang telah ia terima sebelumnya, mengapa hal ini dimaknai ini, mengapa kita memahaminya sebagai apa, dan kenapa kita menerimanya Islam memandang proses ini sebagai bagian dari ujian kehidupan. Allah SWT berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-Ankabut: 2)
Dari ayat tersebut, dijelaskan setiap manusia akan dihadapkan ujian untuk membuktikan seberapa jauh keimanan dan pemahamanya kuat. Sehingga wajar segala sesuatu yang berkaitan dengan pencarian makna hidup muncul karena itu adalah bagian dari proses.
Di islam juga telah da konsep fitrah, dimana adanya kecenderungan alami manusia untuk mengenal dan menerima kebenaran. Fitrah akan membuat manusia selalu mencari makna lebih dalam dalam perjalanan hidupnya.
Sehingga mungkin saat manusia mengalami fase mencari jati diri dan segala keluhanya bisa jadi ftrahnya sedang mencoba mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini selaras dengan firman Allah:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.”
(QS. Ar-Rum: 30)
Dalam ayat tersebut dapat dipahami dalam setiap diri manusia terdapat kecenderungan untuk mencari sesuatu yang benar dan kembali ke nilai nilai yang sesuai kehendak Allah. Dan karena itu pencarian jati diri tak selalu berhenti pada hal dunia namun juga tujuan keberadaan manusia.
Dalam sejarah islam, proses yang sama bisa dilihat dari perjalanan Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu. Beliau sering merenung sendiri di gua Hira untuk merenungkan keadaan masyarakat saat itu, dan mencari tentang makna sejati dari kebenaran. Sehingga bisa disimpulkan dari kisah tersebut pencarian jati diri adalah proses manusia menuju kedewasaan dan kebijaksanaan.
Saaat ini, jati diri sering di salah artikan sebagai kebebasan untuk menjadi apapun. Hal itu memang tidak sepenuhnya salah, tetapi dalam islam menawarkan pandangan lebih mendalam. Jati diri tidak hanya dibangun oleh keinginan pribadi, tetapi juga oleh kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah, sesama manusia, dan lingkungan. karena itu alangkah baiknya seorang muslim tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?”, tetapi juga, “Apa yang Allah kehendaki dari saya?”.
Dan pada akhirnya fase mencari jati diri adalah wajar dan bisa dikantakan penting dalam menuju kedewasaan, matangnya akal, dan memaknai arti kehidupan. Islam memandang fase ini sebagai kesempatan untuk mengenali diri, memperkuat iman, dan memahami tujuan hidup yang sebenarnya.
Ketika pencarian tersebut diarahkan oleh nilai-nilai Al-Qur’an dan ajaran Islam, seseorang tidak hanya menemukan siapa dirinya, tetapi juga menemukan untuk apa dirinya diciptakan. Dan dengan demikian diharapkan pencarian jato diri adalah juga cara kita menuju kehidupan yang lebih bermakna, bertanggung jawab, dan dekat dengan Allah SWT. []Nafis Naufal Al Bana.











