Sirah Nabawiyah: Menelisik Kisah Masuknya Umar bin Khattab ke Dalam Islam

Ilustrasi Umar bin Khattab (Dok. Pribadi (Ilustrasi AI) – almuhtada.org)

Almuhtada.org – Ada nama-nama dalam sejarah yang kehadirannya mengubah segalanya. Umar bin Al-Khattab adalah salah satunya. Sebelum memeluk Islam, ia adalah ancaman paling nyata bagi kaum Muslim di Makkah. Sesudahnya, ia menjadi tameng paling kokoh yang pernah dimiliki umat ini.

Kisah masuknya Umar ke dalam Islam bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah bukti bahwa hidayah tidak mengenal batas, bahkan ketika seseorang sudah berdiri di ujung paling gelap dari permusuhannya.

Doa yang Mendahului Segalanya

Jauh sebelum peristiwa besar itu terjadi, Rasulullah sudah lebih dulu berdoa. Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani, beliau memohon kepada Allah agar Islam dikuatkan oleh salah satu dari dua tokoh paling berpengaruh di Quraisy, yaitu Abu Jahl atau Umar bin Al-Khattab. Allah memilih Umar.

Doa itu bukan kebetulan. Rasulullah tahu betul bahwa kekuatan Islam bukan hanya soal jumlah, tapi juga soal siapa yang berdiri di barisannya.

Malam di Baitul Haram

Suatu malam, Umar berjalan tanpa tujuan yang jelas hingga tiba di Baitul Haram. Ia melihat Rasulullah sedang shalat, melantunkan Surah Al-Haqqah dengan suara yang menembus keheningan malam.

Umar menyimak. Pikirannya bergerak cepat, mencari celah untuk menolak. “Ini pasti syair,” batinnya. Tapi ayat berikutnya merespons tepat seolah menjawab bisikan hatinya, bahwa Al-Quran bukan perkataan penyair, bukan pula ucapan tukang tenung. Ia adalah wahyu dari Rabb semesta alam.

Baca Juga:  Simak Keutamaan Membaca Shalawat Nariyah, Salah Satunya yang Mendatangkan Kebahagiaan!

Umar pergi malam itu tanpa mengucapkan satu kata pun. Tapi sesuatu sudah bergeser di dalam dadanya, meski ia belum menyadarinya sepenuhnya.

Pedang yang Berbalik Arah

Beberapa waktu kemudian, Umar keluar dengan pedang terhunus, bertekad mengakhiri dakwah Nabi selamanya. Di tengah jalan, seorang sahabat menegurnya dan menyampaikan kabar yang membuat langkahnya terhenti: adiknya sendiri, Fatimah, telah memeluk Islam.

Umar berbalik arah, kini menuju rumah sang adik. Dari balik dinding, ia mendengar lantunan Al-Quran. Ia masuk, amarahnya meledak. Iparnya dipukul, Fatimah ditampar hingga darah mengalir di wajahnya.

Di titik itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi. Melihat darah di wajah adiknya, amarah Umar luruh berganti rasa. Ia meminta lembaran yang tadi dibaca Fatimah. Setelah mandi, ia membaca Surah Thaha satu per satu, ayat demi ayat, dan berhenti di ayat keempat belas.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tiada ilah selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Kalimat itu tidak sekedar dibaca. Ia meresap, menaklukkan jiwa yang selama ini menolak.

Takbir yang Mengguncang Makkah

Umar menemui Rasulullah di rumah Al-Arqam. Ia mengucapkan syahadat, dan takbir bergema hingga ke Masjidil Haram. Quraisy yang biasanya lantang mendadak terdiam.

Tidak lama setelah itu, Umar tampil terang-terangan, berdakwah bersama Rasulullah, berbaris bersama Hamzah menuju Ka’bah tanpa rasa gentar sedikit pun. Sejak hari itu, ia dikenal dengan julukan Al-Faruq, sang pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Baca Juga:  Learn, Share & Care Tugas Generasional: Banyak Wanita Hebat Berperan, Yuk Sempatkan Baca!

Kisah Umar mengajarkan satu hal yang tidak lekang oleh waktu: hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, bahkan kepada seseorang yang paling keras menentang kebenaran sekalipun. Yang diperlukan hanyalah hati yang akhirnya mau berhenti sejenak dan mendengarkan. [] Raffi Wizdaan Albari

 

Related Posts

Latest Post