Jangan Asal! Fenomena “Please Normalisasi” Bukan Suatu Hal yang Selalu Bisa Diterima

Ilustrasi gambar penolakan fenomena “please normalisasi” (pinterest.com – almuhtada.org)

almuhtada.org – Fenomena “please normalisasi…” kini seperti sudah menjadi hal yang lumrah dilingkungan sekitar. Di media sosial, di tongkrongan, bahkan dalam obrolan santai sehari-hari. Seringkali kita mendengar “Please normalisasi nakal sebelum menikah, supaya nanti setelah punya anak nggak nakal lagi.” “Please normalisasi malas berbaur, karena kita memang lebih nyaman sendiri.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan terkesan penuh empati. Seolah-olah hal itu untuk membangun kenyamanan, agar tak ada lagi yang merasa dihakimi. Pada awal kemunculannya, mungkin memang ada niat baik, mengajak orang untuk lebih memahami perbedaan, menerima kekurangan, dan berhenti saling merendahkan.

Namun perlahan, frasa itu berubah makna. Ia tak lagi sekadar ajakan untuk saling mengerti, melainkan menjadi tameng. Tameng untuk meminta pemakluman massal atas sesuatu yang sejatinya perlu diperbaiki. Alih-alih mengakui bahwa ada perilaku yang harus dibenahi, kita justru beramai-ramai menurunkan standar agar kesalahan terasa ringan. Kata “normalisasi” menjadi alat seakan-akan jika cukup banyak orang melakukannya, maka hal itu otomatis benar. Padahal Allah SWT. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Q.S. Al-An’am ayat 116, bahwa mengikuti kebanyakan orang di bumi bukan jaminan berada di jalan yang lurus. Mayoritas bukan ukuran kebenaran. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa banyak manusia hanya mengikuti prasangka (azh-zhann), bukan ilmu dan petunjuk.

Baca Juga:  Satu Kesalahan Menghapus Seribu Kebaikan?

Jika kita tadabburi lebih dalam, ayat itu seperti rem dalam kehidupan sosial kita. Ia menahan kita agar tidak tergelincir hanya karena arus begitu deras. Dunia sering kali menormalisasi sesuatu berdasarkan perasaan, tren, dan opini yang viral, bukan berdasarkan nilai yang kokoh. Ketika standar moral terasa berat, kita tergoda untuk menyesuaikan standar itu, bukan menyesuaikan diri kita. Kita berkata, “Please normalisasi…” bukan karena hal itu benar, tetapi karena kita ingin berhenti merasa bersalah. Sering kali kampanye “please normalisasi…” lahir bukan dari perjuangan membela yang tertindas, melainkan dari ego yang enggan dikoreksi. Kita lelah berjuang melawan kelemahan diri, lalu mencari teman agar kelemahan itu terasa wajar. Kita tidak sedang mencari kebenaran, tetapi kita sedang mencari kebersamaan dalam pembenaran. Padahal pertumbuhan selalu menuntut ketidaknyamanan. Ia meminta kita mengakui kekurangan, bukan menutupinya dengan label “normal”.

Tidak semua hal bisa dinormalisasi. Ada nilai yang harus tetap tegak meski tidak populer. Ada standar kebaikan yang tetap harus dijaga meski terasa berat. Ego tidak untuk dimaklumi tanpa batas, tetapi untuk dididik. Kesalahan bukan untuk dirayakan bersama, tetapi untuk diperbaiki bersama. Jika segala sesuatu yang salah kita normalisasi, kita berhenti bertumbuh. Kita tidak bergerak menuju versi diri yang lebih baik, kita hanya membangun zona nyaman yang semakin luas untuk menetap dalam kekeliruan. Mungkin yang perlu kita biasakan bukanlah menormalisasi kesalahan, tetapi menormalisasi proses memperbaiki diri. Bukan menurunkan standar, melainkan menaikkan kualitas diri. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukanlah seberapa banyak orang yang setuju dengan kita, melainkan seberapa dekat kita dengan kebenaran di hadapan Sang Pencipta. [] Aisyatul Latifah

Baca Juga:  MasyaAllah! Inilah 10 Fakta Ilmiah dalam Al-Qur’an yang Sangat Mengejutkan Para Ilmuwan

Related Posts

Latest Post