almuhtada.org – Pernahkah kamu merasa benar-benar diterima di suatu tempat? di lingkungan keluarga, kelompok pertemanan, atau komunitas kajian pasti ada perasaan kita, “berada di tempat yang tepat”.
Perasaan tersebut dikenal sebagai sense of belonging atau rasa memiliki. Ini adalah kebutuhan emosional dasar manusia untuk merasa diakui, dicintai, dan dihargai. Namun, ternyata konsep ini sangat diperhatikan dalam Islam?
Jika dikaitkan dengan perspektif Islam, sense of belonging bukanlah sekadar konsep emosional biasa, melainkan nilai spiritual mendalam. Dalam Islam, rasa saling memiliki diwujudkan melalui ikatan akidah dan persaudaraan dikenal dengan Ukhuwah Islamiyah.
Rasulullah Saw. bahkan mengibaratkan ikatan antar umat Islam layaknya satu tubuh yang saling menguatkan. Rasa saling memiliki ini tidak terbentuk dengan sendirinya.
“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seumpama satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya akan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pilar-Pilar Sense of Belonging dalam Islam:
- Silaturahmi
Menjaga tali persaudaraan merupakan perintah Allah Swt. Dalam QS. An-Nisa ayat 1, Allah Swt. berfirman agar manusia bertakwa kepada-Nya dan memelihara hubungan kekerabatan serta silaturahmi. Hal tersebut memastikan tidak ada anggota masyarakat yang merasa terasingkan atau terabaikan.
- Konsep Ta’awun (Tolong-menolong)
Rasa memiliki yang kuat akan memunculkan rasa empati dan kepedulian yang tinggi. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
Lalu, bagaimana kita bisa mengaplikasikan rasa memiliki ini dalam kehidupan sehari-hari? Berikut adalah beberapa langkah sederhana sebagai berikut:
- Meningkatkan kepedulian terhadap sesama, seperti mengecek kabar tetangga, menjenguk kerabat yang sedang sakit, atau berbagi sedikit rezeki dengan yang membutuhkan.
- Menjaga lisan dan prasangka: Ikatan persaudaraan bisa mudah renggang karena hal-hal seperti ghibah, fitnah, atau su’udzon. Menjaga lisan dan pikiran adalah cara terbaik untuk melindungi perasaan antar sesama.
- Aktif dalam kegiatan sosial: Ikut serta dalam gotong royong, meramaikan kegiatan di masjid, atau mendukung komunitas dan lembaga Islam. [] Lailia Lutfi Fathin











