Cinta Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah kepada Allah yang Harus Kita Jadikan Inspirasi

Kisah Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah
Gambar Ilustrasi Kisah Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah (Pinterest - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Rabi’ah Al-Adawiyyah, seorang wanita yang terkenal akan kesucian cintanya kepada Allah Swt. Nama lengkap beliau ialah Sayyidah Rabi’ah binti Ismail Al-Adawiyyah. Dinamakan Rabi’ah karena merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Beliau merupakan seorang sufi wanita yang dijuluki The mother of the grand master yang artinya ibu para sufi besar karena sebab kezuhudannya.

Selain itu, beliau juga dijuluki syahidatul ‘isqillahi yang artinya wanita yang syahid oleh kerinduan Ilahi.

Beliau lahir di abad kedua Hijriah di Kota Basrah, Irak dan wafat di Baitul Maqdis, Palestina. Menjelang kelahiran Sayyidah Rabi’ah, keadaan ekonomi keluarganya sangatlah buruk.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan tentang keterbatasan kelahiran Sayyidah Rabi’ah bahwasanya keluarga Sayyidah Rabi’ah tidak memiliki selimut untuk menyelimuti beliau, tidak memiliki minyak untuk memoles pusar beliau, dan tidak memiliki lampu untuk menerangi kelahiran beliau.

Ujian terus mendera Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah. Ayah dan Ibunya wafat disaat beliau masih muda. Kemudian Sayyidah Rabi’ah yang diasuh oleh Pamannya dijual kepada seorang majikan yang sangat dzalim.

Sayyidah Rabi’ah terus menerus disiksa oleh majikannya tersebut tanpa sebab apapun. Segala jenis siksaan pernah dirasakan oleh Sayyidah Rabi’ah.

Meskipun dengan keadaan yang demikian, Sayyidah Rabi’ah tidak pernah meratapi hidupnya. Beliau senantiasa beribadah kepada Allah dan berdo’a agar apapun yang dikerjakannya selama ini diridhai Allah Swt.

Baca Juga:  Takut, Harap, Dan Cinta dalam Hidup

Setiap malam, Sayyidah Rabi’ah bermunajat kepada Allah dan berdo’a. Dalam sebuah riwayat, diceritakan isi do’a Sayyidah Rabi’ah yaitu “Ya Allah, sesungguhnya aku itu ridha dengan apapun yang terjadi kepadaku, tapi apakah Engkau ridha kepadaku?”.

Dengan keadaan Sayyidah Rabi’ah yang sungguh tersiksa itu, beliau masih mengharapkan ridha Allah semata.

Hingga pada suatu malam, Sayyidah Rabi’ah mengadu kepada Allah yang isinya “ Ya Allah, hamba adalah seorang yatimah mu’adzdzabah, seorang yatim yang disiksa dan juga seorang budak yang terbelenggu dalam siksa tuannya. Namun, ada satu hal yang menggelitik hati hamba dan membuat hamba tidak bisa menampungnya lagi yaitu pertanyaan dalam hati saya, bahwa apakah sesungguhnya Engkau ridha kepadaku?”.

Doa tersebut didengar oleh majikan beliau sehingga membuatnya tersadar kemudian menjadi muallaf dan memerdekakan Sayyidah Rabi’ah.

Kisah cinta Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah kepada Allah sangatlah masyhur. Saking besarnya cinta beliau kepada Allah Swt.

Sayyidah Rabi’ah tidak menikah sampai akhir hayatnya. Padahal diceritakan bahwasanya banyak ulama yang ingin mempersunting Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyyah.

Pernah suatu ketika ada seorang laki-laki yang terpesona oleh mata indahnya Sayyidah Rabi’ah dan ingin meminangnya. Namun oleh Sayyidah Rabi’ah kemudian dibawakan kedua bola matanya kepada laki-laki tersebut.

Setelah merdeka, Sayyidah Rabi’ah hidup sendiri dan mendapat banyak rezeqi. Karena kezuhudannya, beliau berdoa kepada Allah “Ya Allah, apa pun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini berikanlah kepada musuh-musuh-Mu”.

Banyak sekali syair-syair indah karangan Sayyidah Rabi’ah yang mampu melelehkan hati dan memiliki pesan mendalam.

Baca Juga:  Allah SWT Tahu Kamu Lelah, Tapi Itu Adalah Bentuk Cinta dari-Nya

Semoga dengan ini, dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk senantiasa mencari cintanya Allah daripada mencari cinta sesama manusia. [] Nihayatur Rif’ah

Editor: Mohammad Rizal Ardiansyah

Related Posts

Latest Post