Ikhlas Adalah Kunci Agar Menjadi Manusia Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain

Gambar Ilustrasi Ikhlas (freepik.com - Almuhtada.org)

Almuhtada.org – Suatu hari seorang Raja bijak dari Persia keluar istana beserta pengawalnya. Ia melihat seorang kakak renta menanam bibit zaitun, sang raja heran dan bergumam bukankah zaitun adalah tanaman yang lama berbuah, sedangkan yang menanam seorang kakek renta.

Untuk menjawab rasa penasaran kaiser bertanya pada sang kakek, “wahai Pak tua, mengapa menanam pohon zaitun yang lama berbuah, sedangkan Anda seorang yang sudah sangat tua dan pasti tahu tidak akan menikmati buah zaitun ini?” dengan tersenyum lembut sang kakek menjawab, “Wahyu raja, telah menanam para pendahulu kita untuk kita nikmati hasilnya.

an kini saatnya kita tanam untuk anak cucu kita selanjutnya “. Dongeng Persia dari kitab qira’atu-rrasyidah ini sangat populer di kalangan santri, karena di dalamnya terkandung nilai moralitas bagi siapa saja yang harus akan ajaran moralitas.

Kisah ini mengajarkan pelajaran yang amat berharga. Kakek tua tersebut tahu betul jika ia tidak bisa menikmati hasil dari apa yang ia tanam, tapi begitu ikhlas dalam melakukannya, ikhlas dan juga alasan hanya bisa dipahami oleh mereka yang selalu menyucikan hati dan pikiran di setiap tindakan, sedangkan bagi para pencari kepentingan sesaat sikapnya harus bukanlah kekuatan tapi hal utopis.

Pelajaran kedua yakni kebermanfaatan, mari kita ingat kembali hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi

Baca Juga:  Indahnya Ikhlas dalam Beribadah

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Ausath, juz VII, hal. 58, dari Jabir bin Abdullah r.a.. Dishahihkan Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab: As-Silsilah Ash-Shahîhah)

Nilai seorang manusia adalah seberapa besar manfaatnya bagi orang lain, bukan kekayaan atau jabatannya. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain.

Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi. Pelajaran yang dapat kita petik selanjutnya adalah visi besar, orang yang ikhlas secara otomatis bervisi besar dan berpikir jauh kedepan. Sebagaimana kisah kakek tua di atas, ya berpikir jangka panjang bukan sesaat. Ia berpikir nasib anak cucu bukan dirinya sendiri.

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, memberi pinjaman, meringankan beban penderitan, dan lain sebagainya.

Sebuah ironi jika seseorang yang mengaku Sholeh tetapi hanya sibuk melakukan amalan untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain yang mungkin membutuhkan uluran tangan, terkadang kita melewatkan untuk beramal saleh dengan cara ‘memberi manfaat’ pada semua orang yang berinteraksi dengan diri kita, atau (bahkan) beramal saleh dengan cara berbuat baik kepada sesama makhluk Allah.

Baca Juga:  Keistimewaan Ikhlas: Berat, Namun Memiliki Segudang Manfaat

Jadi, agar kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan kita juga mendapatkan dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain, kita harus ikhlas. Ikhlas adalah kunci diterimanya amal. Dan hanya amal yang diterima Allah SWT yang akan memberikan manfaat kepada kita dunia dan akhirat.

Niatkan, bahwa apa yang kita lakukan hanya karena Allah, bukan karena ingin disebut pribadi yang bermanfaat (pujian). Penyakit riyâ’ sungguh tidak terlihat, sangat samar, sehingga kita harus hati-hati. [] Hanum Salsabila

Editor : Moh. Aminudin

Related Posts

Latest Post