Resensi Buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib Oleh Alda G Munadhiroh

Judul Buku :Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib

Penulis : Ahmad Wahib

Penyunting : Djohan Effendi dan Ismed natsir

Penerbit : Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota IKAPI

Cetakan Ketujuh Tahun 2013

Buku ini merupakan kumpulan dari catatan harian sang penulis semenjak tahun 1969 sampai dengan tahun 1973. Catatan-catatan itu merupakan hasil dari diskusi yang penulis ikuti bersama dengan teman-teman aktivisnya dan banyak hal mengenai pergolakan – pergolakan batin yang ia alami. Beberapa catatan yang ia tulis diantaranya;Pemahaman Islam Yang Dinamis. Ditulis pada tanggal 17 januari 1969. Penulis mengungkapkan “ saya pikir islam itu statis, sedang pemahamannya sosiologis dinamis. Maka  das sollen: filsafat islam itu universal dan abadi; das sein: berubah-ubah, yang menunjukkan bahwa konsep filsafat tersebut belum sempurna.” Menurut pandangan penulis, walaupun kita mengatakan diri kita sebagai penganut islam, belum tentu bahwa pikiran kita sudah berjalan sesuai dengan islam. Sering dengan tidak terasa kita telah berfikir sejaan dengan ide-ide lain. Saya pikir hal ini disebabkan oleh kevakuman filsafat islam. Akibatnya kita hanya menjadi muslim emosional.

Hal lain yang ditulis oleh penuls yaitu; sikap dasr kaum intelektual islam. Menurut penulis sikap dasar yang harus dimilikinoleh kaum intelektual islam yaitu“a posteriori” dan “single standard”. Ketajaman kritik kaum intelektual terhadap umat berhubung dengan general attitude-nya. Jangan sampai terjerumus pada sikap  a-priori salah dalam menghadapi suatu masalah. Selain itu juga harus dapat menjauhkan diri dari nilai ganda (double standard), nilai ganda yang memihak orang islam maupun nilai ganda yang memihak orang non-islam.Ada sebuah tulisan yang ditulis pada tanggal 26 maret 1969 yang berjudul; Perbedaan Macam-Macam Ilmuwan. Penulis menjelaskan ada beberapa tipe ilmuwan yaitu; social scientist, aplied natural scientist, dan pure natural scientist.

Social scientist adalah ilmuwan yang mempelajari kehidupan masyarakat dan mencari metode-metode baru untuk memecahkan masalah-masalah yang ada pada masyarakat. Applied natural scientist mereka adalah ilmuwan yang mengubah ciptaan tuhan menjadi sesuatu yang lebih berguna bagi manusia, dengan kata lain mereka mengubah sesuatu yang alami menjadi sesuatu yang belum pernah dibuat manusia (invention). Sedangkan pure natural scientist, adalah ilmuwan yang selalu berusaha mencari dan menemukan apa yang telah diciptakan tuhan, terutama hukum-hukum yang berlaku abadi (discovery). Mereka ialah ahli-ahli fisika, kimia, matematika, biologi yang langsung berbicara pada ciptaan tuhan. Mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui keterbatasan akal manusia, meskipun mereka adalah orang-orang yang paling banyak menggunakan akalnya. Lain halnya dengan “sarjana-sarjana” sosial, ekonomi, politik. Mereka akan sangat percaya pada akalnya. Mereka mengagumi karya atau penemuan-penemuan dari natural scientist sedangkan para natural scientist sendiri tidak pernah silau dengan karyanya. Itulah kenapa menurut penulis neranggapan bahwa para ahli fisika, kimia, biologi, matematika adalah orang-orang yang paling potensial sebagai pengabdi allah, sedangkan para ahli ekonomi, sosial, politik adalah yang paling berpotensi sebagai pemberontak terhadap allah.

Baca Juga:  Mengulik Keindahan melalui Makna Perbedaan

Pada bab-bab bagian tengah buku ini, menjelaskan dan menggambarkan bagaimana saat sang penulis menjadi aktivis. Serta menjelaskan banyak hal mengenai himpunan yang membesarkan namanya yakni, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada bab-bab akhir buku ini dijelaskan bagaimana penulis merasakan kebingungan serta kebimbangan terhadap dirinya sendiri. Catatan catatan yang ia tulis diantaranya; Bagaimana, Bagaimana?(11 maret 1969). Pada catatan ini penulis menuangkan isi hatinya “aku ingin alquran membentuk pola berpikirku. Aku tak tahu apakah selama ini aku sudah islam atau belum. Tapi bagaimana mengintegrasikan alquran itu dalam kepribadianku? Bagaimana? Tuhan, aku rindu akan kebenaranMu.” Ada juga catatan yang berjudulDialog dan Kemanusiaan(24 januari 1970). Melalui tulisannya penulis mengatakan “aku tak tahu apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sendiri. Kalau hal ini betul, tentunya inilah sebagian yang menyebabkan aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku. Tapi bukankah memperbanyak dialog dengan diri sendiri itu justeru menambah kita mengerti arti kemanusiaan diri? Dengan melihat diri kita sebagai manusia.”

Selain kebimbangan dan kebingungan terhadap dirinya sendiri, di akhir catatannya, penulis juga menuliskan masalah-masalah pribadinya dari persoalan keluarga, teman, hingga persoalan cinta. Beberapa diantaranya adalah catatan yang berjudul Adikku (28 juni 1971), yang saat itu sedang berulang tahun, Ayahku (18 desember 1972), pada catatan tersebut penulis mendiskripsikan ayahnya sebagai sosok yang selalu menyembunyikan kesulitan-kesulitan kepada nya. Sosok yang tidak ingin melibatkan anknya dalam kesulitan. Terlihat bahwa penulis mencurahkan kekagumannya terhadap sang ayah. Ada juga catatan pribadi mengenai percintaannya yaitu yang berjudul tentang cinta. Pada catatan tersebut penulis beranggapan cinta adalah sesuatu yang kudus dan syahdu. “penderitaan dan kesulitan yang dia alami kurasakan sebagai penderitaan dan kesulitan ku sendiri. Sayang, sukar sekali aku bisa bertemu dia. Kami tingal pada kota yang lain, dan hanyalah tinta yang bisa jadi juru bicara. Baru dua hari kami berpisah, tapi aduh! Aku tidak tahan menahan kerinduan” (6 juni 1969).

Baca Juga:  Memaafkan Atau Balas Dendam?

Banyak sekali pergolakan-pergolakan pemikiran islam yang diambil dari catatanharian Ahmad Wahib ini . penulis juga menceritakanperjalanan hidupnya selama ia menjadi seorang aktivis. Buku ini juga menceritakan “curhatan-curhatan” ahmad wahib mengenai persoalan pribadinya baik itu tentang keluarga, teman hingga persoalan cinta. Sehingga pembaca tidak dibuat terlalu berfikir keras dengan tema yang diangkat oleh penulis. Dalam mengungkapkan argumennya, Ahmad Wahib menggunakan bahasa yang lugas dan relatif mudah dipahami serta sangat komunikatif dengan pembaca sehingga pembaca tidak akan bosan saat membacanya. Namun ada beberapa kelemahan dari buku ini yaitu tidak adanya penjelasan atau jawaban terkait problem-problem yang dirasakan oleh Ahmad Wahib sebagai penulis. Sehingga seolah-olah pembaca memang diajak untuk ikut memikirkan hal tersebut. Selebihnya buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca yang ingin mempelajari islam secara lebih mendalam tidak sekadar secara teoritis dan emosional.

Related Posts

Latest Post