Pemimpin Cerdas vs Pemimpin Cerdik

Oleh

Zakiyya A Haydar

            Zaman sudah berubah, menjadi semakin maju dan terus berkembang dengan inovasi-inovasi baru yang. Dengan berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan manusia dalam melakukan berbagai hal, maka berkembang pula kemalasan dari kebanyakan orang yang konsumtif akan teknologi tersebut. Begitu pula dengan infrastruktur yang terus dibangun dengan dalih memperbaiki suatu negara dan memudahkan rakyat. Dengan berbagai hal buruk yang seolah diabaikan seperti membakar hutan-hutan dan menggunakan lahan yang seharusnya digunakan sebagai sawah ataupun ladang sehingga semakin berkurang pula resapan untuk air hujan dan akhirnya dapat terjadi banjir dan longsor yang merugikan rakyat.

Tidak hanya pada alam yang semakin terancam. Namun juga pada pertumbuhan ekonomi, pada tahun 2019 ini pertumbuhan ekonomi global telah diprediksi meredup. Hal tersebut berdasarkan jajak pendapat oleh Reuters terhadap sejumlah ekonom. Para ekonom menganggap bahwa penyebab tidak cemerlangnya ekonomi global di tahun 2019 adalah perang dagang antara AS dan China, juga kondisi keuangan global yang semakin mengetat. Bank Dunia pun merevisi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019 ini menjadi 2,9 persen dari 3 persen di 2018 lalu.

Kepala ekonom global di HSBC, Janet Henry berkata bahwa dinamika sederhana yang berperan di dalam perekonomian global saat ini adalah AS dan China yang mengalami booming, sementara negara lainnya melambat bahkan stagnan. Tekanan yang disebabkan divergensi tersebut menyebabkan ketidaknyamanan di berbagai negara berkembang.

Baca Juga:  Ibu

Akibat dari perang dagang tersebut tidak dapat dihindari. Kenaikan harga akan terjadi baik di AS ataupun di China, dengan ditambah menurunnya pula daya beli di kedua negara tersebut.

Selain keadaan alam dan ekonomi, juga ada politik yang mempengaruhi kondisi negara pada saat ini. Tatanan internasional telah berubah menjadi kekacauan. Saat ini, banyak pemimpin yang tergoda untuk menguji batasan, berebut kekuasaan, dan berusaha meningkatkan pengaruh kekuasaan mereka, dengan ikut campur dalam konflik luar negeri.

Dulu, kritik cenderung berakar pada solidaritas internasional. Namun pada saat ini, kritik justru berasal dari populisme yang berpandangan ke dalam, merayakan identitas sosial dan politik yang sempit, menjelekkan kaum minoritas dan para imigran, menyerang aturan hukum dan independensi pers, juga mengangat kedaulatan nasional di atas segalanya. Presiden AS, Trump mungkin adalah pemimpin yang terlihat paling jelas menganut genre kepemimpinan semacam itu.

Pengusiran 700 ribu kaum rohingya di Myanmar, penindasan brutal rezim Suriah atas pemberontakan rakyat, hanyalah sedikit contoh. Juga ada konflik Suriah akan terus berlanjut. Tetapi dengan pembicaraan lewat telepon pada pertengahan Desember dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan yang mengumumkan penarikan pasuka AS, Trump mengubah keseimbangan itu. Meningkatkan kemungkinan konflik berdarah yang melibatkan Turki, sekutunya Suriah, Kurdi Suriah, dan rezim Assad. Dengan melakukan hal tersebut, akan berpotensi memberi ISIS kesempatan hidup baru dengan memicu kekacauan yang berkembang.

Baca Juga:  Memahami Perintah-Nya

Sedangkan di Indonesia, saat ini sedang terjadi masa pemilu yang sangat panas. Berbagai isu dan kampanye hitam sudah sangat sering beredar di masyarakat. Para generasi milenial pun juga menentukan pilihannya di tahun ini. Dan kriteria pemimpin menurut milenialpun juga berbagai macam. Bersama misi dan visi yang positif tentunya. Dengan banyaknya lulusan sarjana namun menganggur tanpa bekerja, tentu saja negara ini membutuhkan solusi agar ekonomi dan SDM tidak jatuh begitu saja. Tidak hanya teknologi yang maju, namun alam dan kebudayaan juga harus tetap bisa dilestarikan agar tidak hilang tanpa arti.

Untuk solusi-solusi dari berbagai macam masalah yang dihadapi oleh suatu negara, tntulah dibutuhkan pemimpin yang tegas dan bertanggung jawab untuk memperbaiki masalah tersebut. Tentu saja pemimpin tersebut harus cerdas dalam memimpin suatu negara. Deputi Presiden Direktur BCA, Armand Wahyudi Hartono dalam acara CEO Speaks on Leadership with BCA, Kamis 12 Desember 2017 di kampus Binus JWC Senayan, mengtakan apabila kita sudah menjadi seorang pemimpin, maka kita tidak bisa bertindak langsung dan seenaknya.

You are no longer in charge. You are in chare of people in charge. Pemimpin bukan orang yang mengerjakan semua pekerjaan. Tetapi orang yang membantu orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan” tambah beliau.

Seorang pemimpin harus memberikan hasil kerja. Tetapi pekerjaan tersebut juga bergantung pada orang lain. Maka dari itu, pemimpin haruslah menjadi pendengar yang baik untuk aspirasi dan saran dari rakyatnya. Pandai dan cerdas untuk memilih mana saran yang membangun dan mana saran yang membunuh. Tidak hanya itu, pemimpin juga harus cerdik dalam menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah lainnya. Bukan hanya cerdik untuk menghindar dari suatu masalah.

Baca Juga:  Menyikapi Bencana Alam dan Menjaga Hubungan dengan Allah di Tengah Pandemi COVID-19

Pemimpin yang baik juga bukanlah pemimpin yang hanya mementingkan pengaruhnya di pandangan masyarakat, bukan pemimpin yang lebih memilih kekuasaan dibandingkan kedamaian rakyatnya, negaranya, dan juga dunia. Seharusnya pemimpin adalah orang-orang yang mementingkan kedamaian dan kebenaran, dan bukan penindasan terhadap kaum tertentu, membantu negara lain yang sedang diserang taupun ditindas oleh rezim, bukan malah berada di pihak rezim tersebut.

Sedangkan untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan SDM di Indonesia, yaitu tentu saja dengan mengajak rakyat agar dapat menciptakan lapangan kerja dam memperbaiki SDM di negara ini. Sehingga tidak ada lagi impor yang berlebihan, dan tidak ada lagi penindasan para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Semoga kepemimpinan di Indonesia ini nantinya dapat dipegang oleh para pemimpin yang cerdas dan cerdik serta bertanggung jawab agar ngeri ini dapat menjadi negara yang maju. Dengan sumber daya manusia dan alamnya yang membaik, juga produk-produknya yang semakin berkualitas.

Daftar Pustaka

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/10/22/125746526/proyeksi-pertumbuhan-ekonomi-dunia-redup-di-2019-ini-sebabnya

https://ekonomi.kompas.com/read/2019/01/09/101500026/bank-dunia–laju-pertumbuhan-ekonomi-global-2019-melemah

https://www.matamatapolitik.com/in-depth-10-konflik-yang-mengancam-dunia-di-tahun-2019/

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181221135450-32-355501/tahun-politik-dan-tensi-panas-2019

bbs.binus.ac.id/2018/02/kepemimpinan-masa-kini-menjadi-contoh-untuk-hadapi-perubahan-eksponensial/

Related Posts

Latest Post