Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Hari Ini Milik Anda

Oleh : Amanatul Khomisah

Hari ini saat matahari menyinari bumi, dan siangnya yang menyinari dengan ceria. Inilah hari anda. Saat pagi hari telah datang jangan menunggu sore datang pula menjelang. Detik ini,pagi ini, hari ini dan saat ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari lalu apalagi hari esok yang masih menjadi misteri.

Umur anda,tak ada yang mengetahui. Mungkin hari ini adalah hari terakhir anda.  Maka pada hari ini pula. Sebaiknya anda mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk lebih peduli,perhatian dan lebih bekerja keras. Pergunakan waktu anda dengan bijak. Tanamlah kebaikan sebanyak banyaknya pada hari ini. Tekadkan dengan sepenuh hati,untuk selalu mendekatkan diri dengan Sang Illahi Rabbi. Mempersembahkan ibadah yang indah nan khusu’, kecantikan akhlak dan keseimbangan dalam segala hal.

Tersenyumlah, jalani hari ini tanpa kesedihan, kemarahan, kegalauan, kedengkian, kegundahan dan kebencian. Percayalah pada diri sendiri,bahwa anda mampu menjalani dengan semangat dan tekad yang kuat. Sibukkanlah diri anda dengan prinsip bahwa ” anda hanya hidup hari ini”. Maka anda akan menyibukkan diri untuk selalu memperbaiki keadaan,mengembangkan bakat dan potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Katakan pada masa lalu ” wahai masa lalu aku tak menangisi kepergianmu,tenggelamlah kamu bersama mentari, dan berjanjilah untuk tak kembali, biarkan aku hidup hari ini untuk menuju masa depan datang.karena hari ini adalah milik aku pribadi ”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Aku Butuh

Oleh: Azkia Shofani Aulia

 

Ketika ku terpuruk

Hariku memburuk

Hatiku tersaruk

Gelisah makin menumpuk

 

Aku ini apa?

Aku siapa?

Aku bisa apa?

Aku punya apa?

 

Bukankah rasa itu selalu hadir?

Dan memang sulit tersingkir?

 

Aku selalu…

Mengadu

 

Aku kembali…

Meminta lagi dan lagi

 

Atas semua pedih yang ada

Atas jatuh yang berkali-kali terasa

Atas semua salah yang tersesali

Dan atas semua rasa butuh ini

 

Ku pinta, tuk berhasil melewati cobaannya

Ku pinta, tuk mampu menjaga amanahnya

Ku ingin, selalu diarahkan ke jalan yang sama

Ku ingin, selalu dijaga pada poros yang sama

 

Tangan ini menengadah

Bibir meluapkan semua gundah

Hati merintih

Suaraku terdengar lirih

 

Tak pernah dapat lepas

Terlepas? Justru ku terhempas

 

Pada yang berkehendak, aku takut

Pada yang berkuasa, aku berlutut

Bukan dzat yang menakutkan

Namun akan selalu memberi kedamaian

 

Tempatku berhenti setelah berlari

Tujuan sujudku yang tak pernah henti

 

Aku butuh

Selalu butuh

Selamanya butuh

Dan rasa butuh ini akan selalu utuh

 

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Zaman Semakin Modern Adab Menjadi Berkurang

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Semakin terlihat majunya zaman sekarang, bisa terlihat dari fashion-fashion sekarang, barang-barang yang semakin canggih, hingga gadget yang terus meluncurkan merek dan model terbaru, bahkan ilmu pun kita bisa mendapatkan secara canggih, seperti melalui internet atau referensi lainnya. Mungkin sejenak kita dapat berpikir bahwa semua itu, pentingkah?

Atau hanya membuat kita bertanya-tanya tentang kemajuan semua itu. Mungkin menurut kita mengikuti alur zaman yang semakin maju itu mudah, namun bukankah itu menjadikan sulit bagi kita untuk mendapatkan ilmu yang mendalam?

Banyak di antara kita atau di sekeliling kita orang yang berilmu, misalnya orang tersebut memiliki prestasi atau orang tersebut memang mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan ilmu. Namun kebanyakan dari mereka di zaman modern ini, mereka sering kali tidak memperhatikan tingkah mereka, lebih tepatnya mereka kurang mengetahui adab. Bisa jadi itu semua dikarenakan seiring majunya zaman, sehingga mereka terpengaruh dengan pergaulan anak zaman sekarang yang kurang akan ilmu pengetahuan dan adab. Karena banyaknya anak zaman sekarang yang lebih condong fokus pada gadget mereka, apalagi di masa pandemi ini yang menyebabkan semua anak lebih sering memantau gadget mereka. Padahal penting bagi kita mengetahui banyak ilmu disertai pula dengan adab.

Karena adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong mendapatkan ilmu, seperti yang dikatakan Abu Zakariya :” Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. Dan juga karena dengan adablah kita akan memahami ilmu.

Sudah banyak seperti yang kita lihat, seorang anak yang kurang adabnya terhadap orang yang lebih dewasa dari dirinya, bahkan seorang santri di zaman sekarang pun juga masih kurang dalam hal beradab. Haruskah kita menghormati atau menghargai orang yang berilmu tanpa adab? Atau sebaliknya, beradab namun tak berilmu?

Dari keduanya, kita seharusnya lebih menghormati atau menghargai orang yang beradab namun tak berilmu, karena adab itu lebih penting dari ilmu.

Alangkah baiknya jika kita menguasai keduanya, yaitu berilmu dan juga beradab. Apalagi kita seorang santri yang seharusnya menerapkan adab dan juga ilmu yang kita dapatkan selama kita menjadi seorang santri. Karena setiap pondok itu pasti mengajarkan tentang adab dan ilmu, namun semua itu tergantung pada santri dalam pandai-pandai memahami dan juga menerapkan ajaran tersebut.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Nurjaya dan Gema Aditya Mahendra, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Kembali Mengukir Berprestasi

Semarang (22/11/2020), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang  memenangkan kompetisi lomba karya tulis ilmiah bertajuk Chemical Engineering Paper (CEPTION) tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang. Perlombaan tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 19,21, dan 22 november 2020 dengan tema besar “Inovasi Gen Z Dalam Riset Dan Teknologi Kreatif Untuk Mencapai Suistanable Development Goals (SDGs) 2030”.

Mahasiswa dengan nama Gema Aditya Mahendra dan Nurjaya yang kemudian tergabung dalam tim Deadliner berhasil menyisihkan puluhan peserta dari berbagai daerah dengan mendapat predikat best poster dalam ajang tersebut. Adapun pesaing dari acara ini yaitu Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Pertamina, dan universitas lainnya yang ada di Indonesia.

Gema Aditya Mahendra mengungkapkan bahwa “Harapan kedepanya semoga bisa lebih aktif dan kreatif lagi, bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (N/GAM)

Catatan Harian : Membayangkan Hidup Tanpa Kuliah

Oleh Gema Aditya Mahendra

Selalu terbayang oleh saya mengenai bagaimana jika saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Gambaran bayangan ini muncul sebenarnya sebelum saya ingin masuk ke dunia perkuliahan, hipotesa saya saat itu dengan kuliah hanya akan menghambat saya untuk berkembang lebih cepat. Tepat ketika lulus tes tertulis ujian masuk perguruan tinggi negeri, dilema untuk tidak ingin kuliah pun hadir. Di satu sisi, saat itu saya sudah membayangkan kedepan bagaimana jika nanti saya
berkuliah, yaitu sama seperti mahasiswa pada umumnya, mencoba untuk lulus dengan predikat yang terbaik, mencoba memperluas koneksi antar sesama civitas akademika, mencoba mempertajam pola pikir dan kedewasaan dalam bertindak. Ketika lulus kuliah, ada dua opsi yang ada di gambaran saya pada saat itu, ambil S2 jika ada kesempatan, atau mencari pekerjaan dengan taraf multi nasional. Itu lah yang ada di gambaran saya ketika lulus kuliah, tentu realitanya bisa saja berkata lain. Gambaran saat di perkuliah dan ketika lulus itu muncul sebagai akibat dari keinginan saya untuk mencapai misi-misi tertentu dalam hidup. Seperti menjadi kaya raya, menjadi seorang akademisi, serta misi-misi lainnya yang berhubungan dengan tanggung jawab sosial. Ada banyak misi-misi saya dalam hidup yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang mana dapat dilakukan dengan pertimbangan mengikuti kuliah. Itu yang saya pikirkan saat itu.

Namun di sisi yang lain, kala itu saya mulai mempertimbangkan opsi untuk tidak kuliah dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Opsi ini muncul berawal dari sebuah pertanyaan mendasar yang saya tanyakan kepada diri sendiri, yaitu “mengapa harus melalui kuliah?”. Untuk menjawab ini, saya harus mencari terlebih dahulu seperangkat hal yang pasti saya lakukan dalam mewujudkan misi-misi saya itu dan kaitannya dengan kuliah. Pertama, saya harus tetap hidup. Ini jelas karena jika saya mati tentu misi-misi tersebut tidak akan terlaksana. Kedua, saya telah menyadari bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut, hal yang paling pasti yang harus saya lakukan adalah dengan belajar. Tidak mungkin saya mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, kalau saya sendiri tidak belajar sama sekali. Dengan belajar, peluang misi-misi saya untuk terlaksana menjadi lebih besar. Maka keberadaan belajar tidak bisa dilepaskan dari hidup saya. Ketiga, efek globalisasi dan perkembangan teknologi yang membuat informasi semakin mudah terakses, sehingga kuliah bukan lagi menjadi satu-satunya tempat belajar untuk saya.

Dari kepastian ini lalu pertanyaan tersebut terjawab, bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut tidak harus melalui kuliah. Lalu saya melakukan perbandingan analisa sendiri mengenai informasi kemampuan saya jika saya kuliah, dengan tidak kuliah sama sekali. Untuk menguji hal tersebut tentu paling tidak saya harus mengikuti kuliah, paling tidak satu tahun lamanya. Hasilnya, saya menganggap bahwa melalui kuliah sebenarnya tidak memperbesar peluang saya dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup tersebut. Hasil ini diperkuat oleh fakta yang saya rasakan dan tidak bisa saya pungkiri bahwa hampir seluruh pengetahuan yang saya peroleh saat ini berasal dari kegiatan di luar perkuliahan (dari internet). Sementara proporsi saya memperoleh pengetahuan ketika perkuliahan itu terlalu sedikit (bukan berarti jumlah pengetahuan yang saya
terima di perkuliahan itu terlalu sedikit, melainkan proporsinya terhadap pengetahuan di luar perkuliahan/dari interent itu yang terlalu sedikit).

Program belajar yang diadakan perkuliahan hanya berfungsi sebagai starting point dalam mengembangkan pengetahuan saya, sementara sisanya adalah inisiatif saya sendiri dalam mengeksplor dengan cara saya sendiri yang mana bisa dilakukan tanpa saat kuliah. Padahal fungsi starting point itu juga bisa saya peroleh di luar kegiatan perkuliahan. Kemudian lagi, dalam program belajar yang diadakan di perkuliahan banyak manfaat yang tidak saya peroleh, padahal setiap tugas yang saya kerjakan di perkuliahan terlaksana dengan baik. Hal ini bukan karena program belajar dari perkuliahan itu yang tidak menyediakan manfaat, melainkan karena pikiran saya menolak untuk mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai, apalagi
dipaksa diselesaikan dalam tempo waktu tertentu, sehingga manfaat yang didapat pun tidak maksimal/ tidak seprogresif saya belajar dengan cara saya sendiri.

Tapi kan dengan kuliah kita tidak hanya memperoleh pengetahuan saja, namun juga memperoleh legitimasi berupa gelar yang tentunya memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, benar? Belum tentu. Meskipun punya banyak gelar belum tentu memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi itu ketimbang saya benar-benar tidak kuliah sama sekali. Justru saya membayangkan bahwa dengan tidak kuliah, malah saya dapat lebih mengembangkan diri saya, saya bisa lebih berfokus kepada apa yang ingin saya wujudkan dengan cara-cara saya sendiri tanpa perlu adanya instruksi dari program belajar yang diadakan diperkuliahan. Jadwal perkuliahan yang menuntut harus terselesaikan suatu proyek tertentu justru menghambat daya kreativitas saya untuk berkembang lebih cepat (bukan berarti tidak berkembang). Sebaliknya, belajar sesuatu dari apa yang saya inginkan dengan cara-cara saya sendiri justru membuat saya lebih berkembang lebih cepat, lebih efektif, dan lebih signifikan. Meskipun banyak yang bilang track record saya sangat bagus dalam bidang akademik maupun prestasi. Tidak menunjukkan bahwa kuliah itu sangat bagus juga terhadap kecepatan perkembangan saya. Malah saya membayangkan dengan tidak berkuliah, saya bisa lebih dari apa yang saya lakukan ketika kuliah.

Jadi ada kesimpulan yang harus saya tulis agar jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pertama, belajar itu merupakan kepastian yang harus saya lakukan untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Kedua, saya menolak untuk kuliah bukan berarti saya menolak untuk belajar, melainkan karena anggapan dengan tidak kuliah justru membuat saya lebih mudah, lebih cepat, lebih signifikan dalam belajar dan itu akan memperbesar peluang misi-misi saya terlaksana. Ketiga, bukan karena program belajar yang diberikan perkuliahan yang tidak bagus, melainkan hanya karena saya menolak suatu program belajar yang tidak saya sukai, karena itu akan berimplikasi kepada signifikan atau tidaknya manfaat yang diperoleh dari belajar per satuan waktunya. Dari tulisan ini, asumsi saya sebagian pembaca akan menilai saya terlalu angkuh, sombong, dan terlalu percaya diri. Tapi itu tidak masalah. Apa yang saya tulis memang apa yang saya rasakan dan pikirkan berdasarkan analisa-analisa dari peristiwa masa lalu, apa yang saya lakukan kedepan atau di kemudian hari adalah apa yang saya butuhkan, dan apa yang saya butuhkan itu sesungguhnya saya sendiri yang lebih tahu.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Publikasikan Karya Ilmiah Melalui Jurnal

Semarang (1/11), Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada, saudara Siti Zakiyatul Fikriyah, Indra Dwi Jayanti, dan Siti Mu’awanah berhasil mempublikasikan karya ilmiah yang berjudul “Akulturasi Budaya Jawa Dan Ajaran Islam Dalam Tradisi Popokan”. Publikasi yang berhasil dilakukan oleh ketiga mahasantri tersebut melalui Jurnal Penelitian Budaya Volume 5 Nomor 2 (Oktober 2020) Hal 77-88.

Karya ilmiah ini membahas mengenai tradisi popokan (saling melempar lumpur)  di Dusun Sendang, Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Tradisi yang didasari oleh kepercayaan masyarakat Desa Sendang dengan tradisi popokan yang didalamnya juga terdapat ziarah kubur dan doa-doa kepada Allah SWT. Tradisi Popokan dilaksanakan setiap tahun.

Siti Zakiyatul Fikriyah berharap bahwa karya ilmiah yang berhasil dipublikasikan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas. Sementara itu, Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dr. Dani Muhtada  mengatakan bahwa “Prestasi yang telah dicapai oleh mahasantri Siti Zakiyatul Fikriyah, Indra Dwi Jayanti, Siti Mu’awanah sangat membanggakan”.(DWK)

SANTRI, DIPLOMASI DAN TUGAS MEMODERASI ISLAM & DEMOKRASI

Semarang, (25/10), “Diplomat adalah sebuah jabatan yang tak mempunyai senjata seperti angkatan militer, namun memiliki senjata dalam bentuk lain, yakni mulut” ujar pak Haji Rahmat Hindiartha Kusuma dalam seminar dalam jaringan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, Tanggal 24 Oktober pukul 19.00 hingga pukul 20.40 WIB. Seminar dalam jaringan (selanjutnya disebut Webminar) yang dilaksanakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada ini, mengangkat tema Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober dengan judul “Santri dan Peran Diplomasi Luar Negeri”.

Acara Webminar Hari Santri yang diselenggarakan oleh Pesantren Riset Al-Muhtada pada malam minggu ini diikuti oleh 66 orang termasuk pemateri dan narasumber via Zoom Cloud Meeting. Tak hanya itu, acara Webminar kali ini juga diselenggarakan dengan fitur live streaming youtube yang telah ditonton sebanyak 127 kali lewat channel youtube official Pesantren Riset Al-Muhtada.

Rangkaian acara dimulai oleh MC dengan membacakan rundown serta dilanjut dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh santri. Setelah tilawah, Ustadz Dani Muhtada selaku Pengasuh Pondok memberikan kata sambutan kepada para peserta dan narasumber. Acara dilanjut oleh moderator yang membacakan tata tertib Webminar serta CV narasumber lalu, moderator memberikan salam hangat kepada bapak Hindiartha selaku narasumber. Acara inti dimulai ketika bapak Hindiartha menjelaskan materi mengenai apa yang dapat dilakukan seorang santri dalam tugas diplomasi.

Bapak Hindiartha merupakan seorang santri yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren dan mendalami ilmu-ilmu agama yang sekarang menjadi seseorang yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington DC sebagai sekertaris tingkat 1. Penjelasan Webminar dimulai dengan stereotip orang indonesia yang bekerja di luar negeri yang erat dengan gaji besar, jalan-jalan ke tempat wisata serta berbelanja yang tidak sepenuhnya benar, sebab tugas seorang diplomat terkadang tidak memungkinkan untuk melakukan hal-hal diatas.

Selanjutnya bapak Hindiartha memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan oleh seorang duta di negara orang yang dimuat dalam Konvensi Wina Tahun 1961 Tentang Hubungan Diplomatis, yang menurut bapak Hindiartha adalah “kitab suci para diplomat”. Tugas tersebut dimuat dalam pasal 3 konvensi diantaranya adalah ; 1). Representasi, 2). Melindungi, 3). Bernegosiasi, 4). Melaporkan dan 5). Mempromosikan.

Selanjutnya, bapak Hindiartha mengatakan bahwa sebagai seorang santri serta seorang diplomat, tidaklah kemudian membuat beliau kesulitan dalam melaksanakan tugas namun, justru menimbulkan tantangan yang menurut beliau sangat menarik untuk dilewati. Lebih lanjut beliau juga mengataka bahwa santri khususnya di Indonesia merupakan peran yang strategis dalam melakukan tugas moderasi keberagaman dengan mengedepankan inklusifitas dan musyawarah yang merupakan potongan dari keseluruhan ajaran agama Islam.

Menjadi seorang diplomat yang ditempatkan di KBRI Washington DC serta seorang santri menurut bapak Hindiartha merupakan salah satu tantangan nmaun bukan hambatan. Beliau bercerita bahwa dengan ditempatkan disana, beliau memilki kesempatan dalam menerapkan ilmu fiqh minoritas yang sangat mempermudah beberapa ritus agama. Dengan menjadi seorang diplomat dan ditempatkan di daerah bonafide, membuat beliau memiliki pandangan global serta berkesempatan mengenalkan dan mempromosikan Indonesia ke kancah internasional.

Setelah memberikan materi yang kurang lebih berdurasi 30 menit, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Peserta diskusi diperkenankan untuk menyerahkan pertanyaan lewat fitur chat yang ada di aplikasi Zoom Cloud Meeting agar menghindari kemungkinan lagging saat berbicara lewat mikrofon. Sesi pertanyaan dibuat menjadi dua kloter yang masing-masing kloter diisi oleh tiga pertanyaan.

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah kesulitan apa saja yang dialami oleh beliau ketika sedang bertugas. Beliau menjawab bahwa bukanlah hal eksternal yang membuat tugas beliau menjadi rumit, melainkan konstelasi politik dan pelaksanaan serta koordinasi lembaga dalam negeri lah yang membawa kesulitan. Sebab menurut beliau, ketika beliau hendak menjelaskan keunggulan dan mempromosikan keunggulan indonesia, orang-orang luar yang hadir mengatakan atau menimpali dengan keburukan yang membuat mereka justru enggan untuk datang sebagai turis karena tempat manajemen tempat wisata yang buruk, enggan investasi karena birokrasinya rumit serta ada “pemalakan” dan banyak lagi.

Tantangan kedua berasal dari faktor eksternal, yakni konstelasi politik di tempat beliau bekerja sebagai diplomat serta kestabilan politik. Mengenai kestabilan politik, beliau menimpali bahwa ketika ditempatkan di negara berkonflik seperti Yaman, beliau kesulitan melaksanakan kelima tugas dari diplomat kecuali tugas melindungi. Beliau bercerita bahwa di Yaman ada sekitar 12.000 WNI yang kuliah atau menjadi tenaga kerja disana. Beliau berusaha untuk memulangkan semua WNI di daerah yang dekat atau merupakan yempat terjadinya konlik.

Menurut beliau, sebagai seorang santri serta seorang diplomat, ada dua hal yang setidaknya bisa dilakukan untuk membantu Indonesia dalam menjalin hubungan dengan negara lain sebagai salah satu bagian masyarakat internasional yakni ikut serta dengan aktif membantu menyelesaikan kesalahpahaman di Timur Tengah, stigmatisasi Islam sebagai agama teroris serta eskalasi hubungan AS-Tiongkok. Keduanya dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang akuntabel serta law enforcement dan lain-lain.

Setelah sesi tanya jawab selesai, acara dilanjutkan dengan foto bersama dengan narasumber lalu Ustadz Dani Muhtada menyampaikan ramah-tamah dan berterimakasih sekali lagi kepada narasumber yang telah menyempatkan waktu disela kesibukannya untuk mengisi acara Webminar. MC kembali mengambil alih acara serta dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh seorang santri Al-Muhtada. Rangkaian acara Webminar ditutup oleh MC dan selesai pada pukul 20.40 WIB. (RAK)

Tiktok sebagai Media Edukasi Covid-19

Oleh: Dian Fatimatus Salwa

Internet merupakan salah satu sarana komunikasi yang banyak diminati oleh masyarakat. Semua kalangan mulai dari remaja, dewasa, bahkan anak kecil sekalipun turut menggunakannya. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan persentasi pengguna internet sebesar 64,8%. Dengan angka yang tidak bisa dikatakan sedikit tersebut tentunya menjadi boomerang tersendiri. Akan mendapatkan berbagai macam manfaat apabila dapat menggunakannya dengan bijak namun juga akan memberi dampak yang luar biasa apabila menyalahgunakannya. Saat ini internet tidak hanya sebagai sarana bertukar informasi saja, kini sosial media bisa menjadi platform untuk menyebarkan edukasi kepada orang awam. Berbagai macam platform sosial media dengan berbagai fitur diciptakan dengan sangat menarik salah satunya yakni Tiktok.

Pada tahun 2020 Tiktok menjadi salah satu platform yang banyak diminati oleh berbagai kalangan, karena selain menyediakan konten hiburan, juga terdapat berbagai macam konten edukatif yang tentunya dapat menjadi poin plus tersendiri bagi pengguna yang memanfaatkannya. Tiktok berkembang pesat ketika masa pandemi datang, adanya kebijakan work from home tentunya membuat berbagai masyarakat melakukan segala rutinitas dirumah. Untuk mengisi waktu luang dikala pandemi banyak sekali masyarakat yang memilih Tiktok sebagai sarana hiburan. Utamanya untuk generasi millenial saat ini yang tak bisa dipungkiri lagi jika hampir semua remaja pengguna gawai memakai aplikasi Tiktok.

Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media untuk menyebarkan konten edukatif perihal covid-19. Para pengguna Tiktok dikalangan remaja utamanya lebih tertarik dengan konten edukatif yang dikemas dengan kreatif, ringan, dan tanpa ada unsur paksaan dibandingkan membaca berita yang menurut mereka terkesan monoton. Untuk kalangan anak kecil video edukatif tiktok yang dikemas dengan lagu yang menarik akan membantu mereka dalam memahaminya karena mudah dicerna. Faktor selebriti juga menjadi salah satu faktor penting dalam penyebaran informasi edukatif di tiktok karena selebriti yang memiliki nama besar dan pengikut banyak mampu mempermudah penyaluran informasi.

Untuk menarik minat masyarakat agar tidak hanya menonton saja namun juga mengimplementasikannya maka dapat ditempuh dengan mengadakan challenge di tiktok seperti gerakan mencuci tangan atau gerakan memakai masker dengan benar. Dengan mengadakan challenge membuat video tersebut maka secara tidak langsung masyarakat telah mengamalkan salah satu gerakan germas. Challenge tiktok tersebut bahkan dapat diikuti oleh semua kalangan, tidak hanya remaja atau orang dewasa saja, anak kecilpun dapat berkontribusi. Hal ini menunjukan bahwa tiktok sangat berperan penting dalam penyebaran informasi edukatif mengenai Covid-19. Terlebih lagi di dalam tiktok tidak hanya terdapat orang biasa dengan basic pendidikan rendah, namun juga terdapat orang dengan latar belakang pendidikan yang tinggi serta wawasan dan pengalaman yang banyak pula, apabila orang berpendidikan ini membuat konten informatif yang dikemas secara menarik, ringan, serta menghibur maka pelajaran mengenai covid-19 yang bahasanya terkadang sulit dicerna orang awam maka mampu dipahami oleh semua kalangan.

Oleh karena itu, pemanfaatan tiktok sebagai media penyebaran informasi covid-19 perlu diperhatikan serta dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tiktok sebagai media populer sangat ideal untuk melakukan kampanye germas untuk menghentikan kasus penyebaran covid-19.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan  mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Sebatas Titipan

Oleh : Khikmatul Laili Desiyani

Setiap dari kita memiliki kemampuan masing masing. Tentu saja kemampuan yang terbatas. Setiap dari kita pasti akan menghadapi kesulitan. Akan ada masa dimana semua terasa berat. Akan ada masa dimana seolah kehidupan kita sangat gelap. Sabar adalah hal penting, sabar adalah hal yang sangat penting.

Dunia adalah tempat singgah sementara. Dunia hanyalah tempat persinggahan. Jangan sampai lupa bahwa suatu hari pasti kita akan pulang, pulang ke tempat yang abadi. Dunia bukan segalanya, tak apa jika ada satu, dua, atau banyak urusanmu yang kacau. Tak apa jika ada banyak hal hal duniawimu tak sesuai ekspektasimu. Sungguh tak masalah jika alurmu tak terlihat seanggun kisah yang lainnya.

Tak apa jika yang lain telah sampai di puncak sedang kau masih bergegas, pastikan saja bahwa kau akan terus melangkah. Sesekali berhenti sejenak dan beristirahat bukanlah sebuah masalah. Setiap dari kita punya kapasitasnya. Setiap dari kita punya kemampuan yang berbeda beda. Setiap dari kita punya garisnya masing-masing. Tak akan pernah bisa disamakan.

“Jangan terlalu”, itulah kata temanku yang ternyata memiliki makna yang sangat dalam . Hidup sewajarnya, melangkah semampunya, jangan dipaksa. Bersyukur atas apa yang ada. Saat duniamu kacau, saat hatimu berantakan, saat fikirmu bertanya tentang banyak hal yang tak karuan, ingat lagi, hidup ini hanyalah titipan. Sebatas titipan.

Seringkali kau memikirkan dunia secara berlebihan. Seringkali kau menanggapi masalah dunia secara tak karuan. Hey, jangan sampai lupa bahwa semua ini sudah digariskan. Kemampuan kita terbatas bukan? Lalu mengapa kita memikirkan banyak hal diluar kendali kita?

Satu yang paling penting, jangan sampai hancurmu menghancurkanmu. Jangan sampai sedih menghanyutkanmu. Aku, kamu, kita  semua punya Allah. Saat jalanmu gelap, saat hidupmu terasa berat sekali, saat hatimu sangat sunyi, sungguh kau tak pernah sendiri, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun keadaannya yakinlah innallahamaana.

Seburuk apapun keadaan, akan selalu ada harap kebaikan untuk masa depan.

Selambat apapun kau berjalan, tak masalah, pastikan saja untuk terus berjalan.

Jangan terburu-buru, jangan tergesa-gesa, setiap dari kita punya alur cerita yang berbeda.

Apapun yang kau miliki saat ini, terima seutuhnya semua ini, jalani dengan sepenuh hati, dan syukuri apapun yang terjadi.

Allah selalu bersama kita, percayalah kita mampu melewati semuanya.

Bismillah, semoga kita mampu melewati semuanya dengan maksimal, semoga kita tidak lupa tujuan akhir kita, semoga Allah memberikan kelancaran, kemudahan, kekuatan, ketabahan, pertolongan dan juga keberkahan kepada kita semua dalam menjalankan titipan kehidupan dunia yang sementara ini.

Aamiin..

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.