Musyawarah Akbar Pesantren Riset Al-Muhtada Berhasil Digelar, Gema Aditya Mahendra Presiden Mahasantri 2021-2022.

Ket. In’am Zaidi Presiden Mahasantri Periode 2019-2021 (Kiri) dan Gema Aditya Mahendra Presiden Mahasantri Periode 2021-2021 (Kanan)

Semarang, 4/4/2021- Pesantren Riset Al-Muhtada kembali menyelanggarakan agenda “Musyawarah Akbar”. Acara ini dilaksanakan secara tatap muka di Asrama Putra Pesantren Riset Al-Muhtada dan Virtual pada aplikasi meeting. Musyawarah Akbar merupakan salah satu agenda tahunan sebagai forum pertanggungjawaban pengurus aktif dan reformasi kepengurusan.

Kegiatan Musyawah Akbar digelar hari Rabu, 3 April 2021 dimulai pukul 09.00 WIB dengan sambutan pengurus dari Presiden  Pesantren Riset Al-Muhtada periode 2019-2021, saudara In’amZaidi dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka acara oleh Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag., MA., Ph.D, kemudian dilanjutkan dengan serangkaian acara musyawarah akbar.

“Jangan pernah bertanya apa yang telah pesantren berikan kepada kita. Tapi, tanyakan apa yang telah kita berikan kepada pesantren” pesan In’am Zaidi Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada 2019-2020 kala sambutan pembukaan acara.

Pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag., MA., Ph.D juga memberikan apresiasi yang kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras dalam menyiapkan acara dengan sangat baik, kepada seluruh Mahasantri yang telah mengikuti acara dari awal sampai akhir, kepada seluruh pengurus demisioner yang telah mengabdi tak kenal lelah selama ini, serta terkhusus kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang semoga sukses dan amanah dalam mengelola Pesantren Riset Al-Muhtada.

Musyawarah akbar yang dilaksanakan dihadiri oleh seluruh Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada baik angkatan 2018, 2019 maupun 2020, selain membahas mengenai laporan pertanggung jawaban pengurus periode 2019-2021, dalam musyawarah ini menentukan Presiden serta Wakil Presiden untuk periode selanjutnya sebagai penerus estafet kepengurusan dari Pengurus PesantrenRiset Al-Muhtada sebelumnya.

Hasil dari Musyawarah Akbar menetapkan saudara Gema Aditya Mahendra sebagai Presiden Mahasantri dan saudari Eka Erni Nurrohmah sebagai Wakil Presiden Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Periode 2021-2022.

Musyawarah Akbar selesai Mingu 4 April 2021 pukul 00.33 WIB, dilanjutkan dengan sesi penyerahan secara simbolis kepemimpinan pesantren  dari Presiden Pesantren Riset Al-Muhtada 2019-2021 kepada Presiden  Pesantren Riset Al-Muhtada 2021-2022, acara ditutup dengan sesi foto bersama (MNA/DWK).

Semhas Penelitian: Berkarya di Tengah Pandemi, Pengasuh Beri Apresiasi

Dokumentasi Seminar Hasil Penelitian Mahasantri Tahun 2021 Melalui Aplikasi Zoom Meeting

28/03/2021 – Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi covid-19 memang sedikit banyak mengalami hambatan. Meskipun demikian, kegiatan tersebut harus tetap dilanjutkan demi keberlangsungan pendidikan.

Demikian juga kegiatan belajar di Pesantren Riset Al-Muhtada. Pesantren yang terletak di wilayah Banaran Kampus Unnes Gunungpati tetap melangsungkan berbagai kegiatan secara virtual. Salah satu kegiatannya yakni Seminar Hasil Penelitian Mahasantri yang rutin digelar sebagai kegiatan tahunan sekaligus kegiatan yang mendorong Mahasantri untuk berlatih menjadi seorang peneliti.

Seminar Hasil Penelitian merupakan bagian akhir dari serangkaian kegiatan pembelajaran metodologi penelitian mahasantri. Seminar hasil merupakan acara untuk melaporkan hasil dari temuan penelitian yang telah dilaksanakan dari bulan Januari sampai Maret.

Tema penelitian yang diangkat pada tahun ini yakni aspek budaya, pendidikan, dan keagamaan. Dimana Mahasantri melakukan penelitian di beberapa bidang yang terkait dengan tema penelitian, sebagai contoh ada yang melaksanakan penelitian mengenai BumDes sebagai pemersatu umat beragama, Model pendidikan di Panti Asuhan saat Pandemi Covid-19, Tradisi rabu wekasan dikalangan millenial, Tradisi perlon unggahan pada Masyarakat Bonokeling Cilacap, dan penelitian kelompok mahasantri lainnya yang mengangkat judul yang menarik.

Seminar Hasil Penelitian tahun 2021 Pesantren Riset Al-Muhatada dilaksanakanpada 28 Maret 2021 secara virtual mengingat keadaan pandemi covid-19 yang belum usai, bertepatan pada hari Minggu, 14 Sya’ban 1442 H.

Kegiatan berjalan dengan lancar yang dimulai pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan sekaligus membuka acara Seminar Hasil dari pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada, M.Ag. M.A., M.P.A kemudian dilanjutkan acara inti yaitu pemaparan hasil penelitian dari tiap mahasantri yang tergabung dalam 13 kelompok. Selanjutnya setiap kelompok yang memaparkan hasil penelitian, menjawab pertanyaan yang diajukan baik dari pengasuh dan reviewer Bapak Ayon Diniyanto, S.H., M.H.

Saya sangat mengapresiasi semua santri yang sudah bekerja keras melakukan penelitian” ungkap pengasuh pesantren, Bapak Dr. Dani Muhtada M.Ag., MA., Ph.D kala sesi terakhir sebelum penutupan acara.

Alhamdulillah, rasa lelah itu akan terganti dengan bahagia” begitu ungkap Azkia, salah satu mahasantri yang turut merasakan tegang dan gugup saat hendak memaparkan hasil penelitian.

Seminar Hasil Penelitian diikuti pula oleh peserta dari kalangan umum. Acara ini berakhir pukul 12.27 dan ditutup dengan sesi foto bersama. (FM/DWK).

Negeri Semu

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Hamparan perkebunan dan sawah terbentang di segala penjuru wilayah. Lautan biru yang jernih mengelilingi pulau-pulau yang terpisah. Bentangan alam yang elok dan alami menjadikan negeri ini seperti surga yang tersembunyi. Tidak hanya itu, negeri ini juga memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah yang menjadi suatu berkah dan anugerah tersendiri bagi penduduknya. Negeri ini bernama Indonesia. Secara sekilas saja, dapat dikatakan bahwa negeri ini memiliki keistimewaan lebih dibandingkan dengan negeri-negeri yang lain. Oleh karena itu, seharusnya negeri ini mampu menjadi suatu negeri yang besar dan makmur. Tetapi dengan melihat kondisi negeri saat ini, rasanya masih cukup jauh untuk mewujudkan harapan tersebut.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Kekayaan yang dimiliki mencakup kekayaan sumber daya alam dan kekayaan sosial. Kekayaan sumber daya alam tersebut meliputi sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati di Indonesia terdiri atas keanekaragaman flora dan fauna yang melimpah yang tersebar di berbagai daerah dan termasuk keanekaragaman terbesar di dunia. Sedangkan sumber daya alam non hayati yang dimiliki Indonesia misalnya gas alam, minyak bumi, dan berbagai jenis hasil tambang lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sosial berupa keberagaman penduduk meliputi keberagaman etnik, suku, agama, maupun budaya. Dengan melihat berbagai potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia.

Tampaknya, impian untuk menjadi negara super power ataupun “Macan Asia” masih cukup jauh dari kenyataan. Hingga saat ini, Indonesia masih betah dengan status sebagai negara berkembang. Status tersebut akan terus melekat jika tidak ada semangat perubahan untuk negeri oleh seluruh rakyatnya. Masih banyak “pekerjaan rumah” yang harus segera dibenahi dan diselesaikan. Sistem birokrasi dan pemerintahan belum terstruktur dengan baik dan terkesan amburadul. Seakan-akan Pancasila dan UUD 1945 hanya menjadi simbol negara demokratis belaka. Banyak pejabat negara yang mampu menghipnotis rakyat dengan menebar janji-janji manis ketika kampanye berlangsung. Tetapi ketika sudah terpilih, mereka sudah lupa untuk menunaikan janjinya tersebut. Pemerintah meminta rakyatnya untuk lebih kritis terkait kebijakan publik saat ini, tetapi pemerintah membentengi diri dengan menaruh UU ITE sebagai tameng sehingga masyarakat merasa ketakutan dan memilih untuk bungkam.

Hukum di negeri ini masih terlihat “Tumpul ke Atas dan Tajam ke Bawah”. Entah mengapa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sangat sulit ditegakkan di negeri ini. Para pejabat dan kerabat dekat pemerintah terkesan lebih kebal hukum bahkan hukum cenderung menyengsarakan rakyat biasa. Bahkan para pejabat negara tidak merasa takut jika berbuat korupsi. Seakan-akan korupsi adalah suatu tindakan yang lumrah dan dianggap sebagai “budaya bangsa” di negeri ini. Selain itu, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia harus segera diperbaiki dan ditata kembali. Potensi munculnya perpecahan bangsa semakin jelas dan nyata. Dimana-mana masih terjadi konflik dan pergolakan daerah yang tak kunjung usai. Tindakan diskriminasi yang dilatarbelakangi ras, suku, agama, ataupun budaya juga masih sering terjadi. Bahkan tindakan diskriminasi tersebut dilakukan secara terbuka dan blak-blakan di depan khalayak ramai misalnya di media sosial. Sungguh ironi melihat semua permasalahan tersebut terjadi di negeri ibu pertiwi ini. Semuanya terlihat semu, tetapi terasa nyata dan dapat dirasakan.

Indonesia adalah negeri yang indah dan memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Dengan memanfaatkan potensi tersebut, Indonesia pasti mampu menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia. Tetapi, negeri ini masih kesulitan untuk mewujudkan impian tersebut. Masih banyak permasalahan negeri ini yang harus dihadapi dan dituntaskan sesegera mungkin oleh semua elemen bangsa. Mulai dari sistem pemerintahan hingga jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri harus segera diperbaiki dan ditata kembali dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, semua elemen bangsa harus segera bangkit dan bergerak untuk melakukan perubahan dengan cara saling bahu-membahu, tolong-menolong, serta memiliki rasa prihatin dan kepedulian terhadap nasib bangsanya. Bangsa Indonesia juga harus mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan berbagai potensi yang telah dimiliki dengan sebaik mungkin. Selain itu, rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong juga harus selalu dipupuk dan dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat dalam bersama-sama menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di negeri ini. Bukan tidak mungkin, impian untuk membawa negeri ini menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia dapat segera terwujud di kemudian hari.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Menyikapi Bencana Alam dan Menjaga Hubungan dengan Allah di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh Muhammad Miftahul Umam

Dalam satu tahun terakhir ini, bangsa Indonesia menghadapi cobaan yang luar biasa. Pada awal Maret tahun 2020 lalu, bangsa Indonesia menghadapi pandemi virus corona (covid-19). Akibat dari adanya pandemi covid-19 tersebut, sebagian besar aspek dalam berbagai bidang kehidupan manusia mengalami perubahan. Dalam bidang pendidikan misalnya para siswa dirumahkan dalam artian kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring atau tidak bertatap muka secara langsung. Dalam bidang ekonomi misalnya banyak pekerja/buruh yang di PHK, hingga pembatasan aktivitas di ruang publik. Hingga saat ini, pandemi covid-19 telah mengakibatkan puluhan ribu orang meninggal dunia. Data sebaran Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan bahwa pertanggal 23 Januari 2021, telah terdapat 977.474 orang yang terkonfirmasi positif covid-19, 791.059 orang dinyatakan sembuh, dan 27.664 orang meninggal dunia.

Selain pandemi covid-19 yang masih belum berakhir hingga pergantian tahun saat ini, pada periode awal Januari 2021 saja bangsa Indonesia mengalami bencana alam yang luar biasa yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dilansir dari inews.id, dengan artikel yang berjudul “BNPB: 185 Bencana Alam Terjadi di Indonesia 1-21 Januari 2021”, menyebutkan bahwa pada tanggal 1 hingga 21 Januari 2021 saja, sudah terdapat 185 bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dari total 185 bencana alam tersebut, 127 diantaranya merupakan bencana alam banjir, 30 diantaranya tanah longsor, 21 diantaranya puting beliung, 5 diantaranya gelombang pasang, dan 2 diantaranya adalah gempa bumi.
Selain itu, pada hari sabtu, tanggal 9 Januari 2021 lalu, bangsa Indonesia harus kembali berduka karena terjadinya kecelakaan pesawat, yakni jatuhnya pesawat komersial Sriwijaya Air dengan kode penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu. Diduga tidak ada penumpang yang berhasil selamat dari peristiwa tersebut, mengingat badan pesawat dan tubuh penumpang yang ditemukan telah hancur dan menjadi serpihan-serpihan dan potongan-potongan. Dilansir dari kompas.com (10/1), dalam penerbangan tersebut, pesawat mengangkut 43 penumpang dewasa, 7 penumpang anak, 3 penumpang bayi, dan 12 kru pesawat.

Berbagai bencana yang terjadi tersebut tentunya membawa duka yang sangat mendalam bagi bangsa Indonesia. Di tengah pandemi covid-19 yang belum juga usai hingga saat ini, bahkan hampir memasuki usia satu tahun, berbagai bencana alam yang turut hadir diawal tahun 2021 menambah duka bagi bangsa Indonesia. Meski demikian, tentu kita tidak boleh putus asa dan harus terus berikhtiar dengan meminimalisasi dampak dari pandemi dan bencana alam yang telah terjadi, serta senantiasa berusaha menyelesaikannya.
Sebagai seorang muslim kita harus yakin bahwa segala sesuatu, baik dan buruk (dalam pandangan manusia) merupakan atas kehendak Allah SWT, sebagaimana bencana alam juga datang atas kehendak Allah. Meskipun bencana yang diturunkan oleh Allah SWT kepada manusia dapat berpotensi sebagai ujian atau pun azab, akan tetapi kita tidak boleh terburu menjustifikasi bahwa setiap bencana yang diturunkan kepada manusia merupakan azab dari Allah. Dalam salah satu kesempatan, KH. Ahmad Baha’udin Nursalim atau yang lebih akrab disapa Gus Baha’ menjelaskan bahwa Allah memang memiliki kuasa untuk mengazab seseorang. Akan tetapi, azab itu sifatnya potensial dalam arti Allah mampu mengazab, tetapi tidak harus. Yang tahu bencana alam yang terjadi itu sebagai azab atau tidak hanyalah Allah SWT.

Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim kita jangan sampai melampaui batas kewenangan manusia dengan merasa lebih tahu daripada Allah SWT. Ketika terdapat bencana alam di suatu daerah tertentu misalnya, kita jangan terburu menjustifikasi bahwa itu adalah azab dari Allah dan menuduh orang-orang di daerah tersebut banyak melakukan dosa, kedzaliman. Kemusyrikan, dan sebagainya. Ketika berbicara tentang bencana alam maka kita hanya berbicara bahwa itu berpotensi sebagai azab saja, jangan sampai menjustifikasi bahwa itu benar-benar azab, karena hal tersebut adalah urusan Allah.
Ketika terjadi bencana alam, maka sikap kita sebagai seorang muslim adalah meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Segala sesuatu yang datang dari Allah pasti memiliki hikmah tersendiri. Oleh sebab itu, lebih baik kita mencoba menggali sisi-sisi hikmah dari sebuah peristiwa tersebut, melakukan intropeksi diri, dan meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah, karena bencana alam bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja.

Intropeksi diri merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan melakukan intropeksi diri, maka akan membawa kepada pola pikir dan perilaku yang lebih rasional. Misalnya ketika terjadi banjir, mungkin karena kurang menjaga kebersihan lingkungan, sehingga dengan demikian akan menumbuhkan semangat kita untuk menantiasa menjaga lingkungan. Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya soal agar tidak terjadi banjir semata, tetapi juga merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah karena hal tersebut termasuk salah satu menaati perintah Allah. Atau dengan adanya banjir kemudian menggugah hati orang lain untuk turut mengulurkan tangan untuk membantu satu sama lain.

Kaitannya dengan pandemi covid-19, jika kita rasakan memang sudah cukup lama, dan banyak dari kita menganggapnya sebagai cobaan atau ujian. Akan tetapi jika kita bandingkan dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sebelumnya, maka lama dari ujian yang berupa pandemi tidak seberapa. Gus Baha’ mencontohkan ujian yang dihadapi oleh nabi Ayyub ra, dimana setelah cukup lama menjalani masa ujian yang berupa penyakit, kemudian istrinya mulai mengeluh. Melihat hal tersebut kemudian nabi Ayyub bertanya kepada istrinya, “kamu sehat sudah berapa puluh tahun?”. Istrinya menjawab kurang lebih sudah 60 tahun. Nabi Ayyub bertanya lagi kepada istrinya, “kita sakit baru berapa tahun?”, Kemudian istrinya menjawab sudah 1 tahun. Nabi Ayyub kemudian berkata, “ya sudah, kamu harus ingat betapa Allah memberikan kesehatan itu jauh lebih lama daripada kita menghadapi penyakit”.

Gus Baha’ juga menjelaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk selalu mengingat sisi-sisi nikmat daripada penderitaan, sebagaimana dalam firman Allah, “… Fadzkuruu aala allaahi la’allakum tuflihuun (QS. Al-A’raf:69)”, yang artinya “… maka ingatlah akan nikmat Allah agar kamu beruntung”. Dalam menjalin hubungan dengan Allah, kita harus senantiasa lebih mengingat sisi-sisi nikmat, bahwa ujian yang kita hadapi sekarang jauh lebih ringkas dibanding saat kita diberi kebaikan. Sejak dahulu, kita juga telah mengalami berbagai masalah dan kita selalu bisa melewatinya dengan baik. Hal tersebut karena tawakkal dan ikhtiar secukupnya. Ikhtiar dan tawakkal merupakan upaya agar iman kita tetap stabil, karena hubungan Allah dengan kita jauh lebih banyak memberi nikmat ketimbang ujian-ujian, seperti pandemi ini. Kita wajib berikhtiar, tapi tidak perlu cemas untuk menghadapi covid karena sebetulnya nikmat yang dikasih allah itu jauh lebih besar.
Wallaahu a’lam

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang .

Gema Aditya Mahendra Raih Best Presenter Konferensi Internasional

Semarang (22/01/2021), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang meraih penghargaan best presenter dalam ajang konferensi internasional “The First International Conference on Goverment Education Management  and Tourism (ICoGEMT) 2021” yang diselenggarakan oleh Loupias Event Organizer, Can Tho University Vietnam, dan Radboud Universiteit. Konferensi internasional tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 9 Januari 2021 dengan tema besar “Challenging researchers, Academics and Educators in Contributing to Achieving Sustaibable Development Goals in the Digital Age : Critical and Holistic Thinking”.

Mahasiswa Teknik Kimia dengan nama Gema Aditya Mahendra atau akrab disebut ‘Igam’ berhasil mendapatkan penghargaan best presenter dalam ajang tersebut diantara puluhan presenter lain dari beberapa negara dunia.. Adapun presenter lain dari acara ini yaitu  University Malaysia Sarawak, Can Tho University Vietnam, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Kementrian Pariwisata, serta presenter lain di berbagai negara.

Igam mengungkapkan bahwa harapan kedepannya bisa lebih aktif dan kreatif lagi, serta bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan ilmiah agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (GAM)

Hari Ini Milik Anda

Oleh : Amanatul Khomisah

Hari ini saat matahari menyinari bumi, dan siangnya yang menyinari dengan ceria. Inilah hari anda. Saat pagi hari telah datang jangan menunggu sore datang pula menjelang. Detik ini,pagi ini, hari ini dan saat ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari lalu apalagi hari esok yang masih menjadi misteri.

Umur anda,tak ada yang mengetahui. Mungkin hari ini adalah hari terakhir anda.  Maka pada hari ini pula. Sebaiknya anda mencurahkan seluruh jiwa dan raga untuk lebih peduli,perhatian dan lebih bekerja keras. Pergunakan waktu anda dengan bijak. Tanamlah kebaikan sebanyak banyaknya pada hari ini. Tekadkan dengan sepenuh hati,untuk selalu mendekatkan diri dengan Sang Illahi Rabbi. Mempersembahkan ibadah yang indah nan khusu’, kecantikan akhlak dan keseimbangan dalam segala hal.

Tersenyumlah, jalani hari ini tanpa kesedihan, kemarahan, kegalauan, kedengkian, kegundahan dan kebencian. Percayalah pada diri sendiri,bahwa anda mampu menjalani dengan semangat dan tekad yang kuat. Sibukkanlah diri anda dengan prinsip bahwa ” anda hanya hidup hari ini”. Maka anda akan menyibukkan diri untuk selalu memperbaiki keadaan,mengembangkan bakat dan potensi, dan mensucikan setiap amalan.

Katakan pada masa lalu ” wahai masa lalu aku tak menangisi kepergianmu,tenggelamlah kamu bersama mentari, dan berjanjilah untuk tak kembali, biarkan aku hidup hari ini untuk menuju masa depan datang.karena hari ini adalah milik aku pribadi ”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Aku Butuh

Oleh: Azkia Shofani Aulia

 

Ketika ku terpuruk

Hariku memburuk

Hatiku tersaruk

Gelisah makin menumpuk

 

Aku ini apa?

Aku siapa?

Aku bisa apa?

Aku punya apa?

 

Bukankah rasa itu selalu hadir?

Dan memang sulit tersingkir?

 

Aku selalu…

Mengadu

 

Aku kembali…

Meminta lagi dan lagi

 

Atas semua pedih yang ada

Atas jatuh yang berkali-kali terasa

Atas semua salah yang tersesali

Dan atas semua rasa butuh ini

 

Ku pinta, tuk berhasil melewati cobaannya

Ku pinta, tuk mampu menjaga amanahnya

Ku ingin, selalu diarahkan ke jalan yang sama

Ku ingin, selalu dijaga pada poros yang sama

 

Tangan ini menengadah

Bibir meluapkan semua gundah

Hati merintih

Suaraku terdengar lirih

 

Tak pernah dapat lepas

Terlepas? Justru ku terhempas

 

Pada yang berkehendak, aku takut

Pada yang berkuasa, aku berlutut

Bukan dzat yang menakutkan

Namun akan selalu memberi kedamaian

 

Tempatku berhenti setelah berlari

Tujuan sujudku yang tak pernah henti

 

Aku butuh

Selalu butuh

Selamanya butuh

Dan rasa butuh ini akan selalu utuh

 

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Zaman Semakin Modern Adab Menjadi Berkurang

Oleh : Zahrotuz Zakiyah

Semakin terlihat majunya zaman sekarang, bisa terlihat dari fashion-fashion sekarang, barang-barang yang semakin canggih, hingga gadget yang terus meluncurkan merek dan model terbaru, bahkan ilmu pun kita bisa mendapatkan secara canggih, seperti melalui internet atau referensi lainnya. Mungkin sejenak kita dapat berpikir bahwa semua itu, pentingkah?

Atau hanya membuat kita bertanya-tanya tentang kemajuan semua itu. Mungkin menurut kita mengikuti alur zaman yang semakin maju itu mudah, namun bukankah itu menjadikan sulit bagi kita untuk mendapatkan ilmu yang mendalam?

Banyak di antara kita atau di sekeliling kita orang yang berilmu, misalnya orang tersebut memiliki prestasi atau orang tersebut memang mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan ilmu. Namun kebanyakan dari mereka di zaman modern ini, mereka sering kali tidak memperhatikan tingkah mereka, lebih tepatnya mereka kurang mengetahui adab. Bisa jadi itu semua dikarenakan seiring majunya zaman, sehingga mereka terpengaruh dengan pergaulan anak zaman sekarang yang kurang akan ilmu pengetahuan dan adab. Karena banyaknya anak zaman sekarang yang lebih condong fokus pada gadget mereka, apalagi di masa pandemi ini yang menyebabkan semua anak lebih sering memantau gadget mereka. Padahal penting bagi kita mengetahui banyak ilmu disertai pula dengan adab.

Karena adab dalam menuntut ilmu adalah sebab yang menolong mendapatkan ilmu, seperti yang dikatakan Abu Zakariya :” Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh”. Dan juga karena dengan adablah kita akan memahami ilmu.

Sudah banyak seperti yang kita lihat, seorang anak yang kurang adabnya terhadap orang yang lebih dewasa dari dirinya, bahkan seorang santri di zaman sekarang pun juga masih kurang dalam hal beradab. Haruskah kita menghormati atau menghargai orang yang berilmu tanpa adab? Atau sebaliknya, beradab namun tak berilmu?

Dari keduanya, kita seharusnya lebih menghormati atau menghargai orang yang beradab namun tak berilmu, karena adab itu lebih penting dari ilmu.

Alangkah baiknya jika kita menguasai keduanya, yaitu berilmu dan juga beradab. Apalagi kita seorang santri yang seharusnya menerapkan adab dan juga ilmu yang kita dapatkan selama kita menjadi seorang santri. Karena setiap pondok itu pasti mengajarkan tentang adab dan ilmu, namun semua itu tergantung pada santri dalam pandai-pandai memahami dan juga menerapkan ajaran tersebut.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Nurjaya dan Gema Aditya Mahendra, Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada Kembali Mengukir Berprestasi

Semarang (22/11/2020), Kabar prestasi kembali diukir oleh mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada yang  memenangkan kompetisi lomba karya tulis ilmiah bertajuk Chemical Engineering Paper (CEPTION) tahun 2020 yang diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Teknik Kimia Universitas Negeri Semarang. Perlombaan tersebut dilaksanakan melalui media online berupa zoom meeting yang berlangsung pada tanggal 19,21, dan 22 november 2020 dengan tema besar “Inovasi Gen Z Dalam Riset Dan Teknologi Kreatif Untuk Mencapai Suistanable Development Goals (SDGs) 2030”.

Mahasiswa dengan nama Gema Aditya Mahendra dan Nurjaya yang kemudian tergabung dalam tim Deadliner berhasil menyisihkan puluhan peserta dari berbagai daerah dengan mendapat predikat best poster dalam ajang tersebut. Adapun pesaing dari acara ini yaitu Seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, UPN “Veteran” Jawa Timur, Universitas Pertamina, dan universitas lainnya yang ada di Indonesia.

Gema Aditya Mahendra mengungkapkan bahwa “Harapan kedepanya semoga bisa lebih aktif dan kreatif lagi, bisa ikut event-event besar terkait dengan kepenulisan agar bisa mengasah keterampilan yang dimiliki dan memberikan sumbangsih ide atau gagasan untuk Indonesia yang lebih baik” pungkasnya. (N/GAM)

Catatan Harian : Membayangkan Hidup Tanpa Kuliah

Oleh Gema Aditya Mahendra

Selalu terbayang oleh saya mengenai bagaimana jika saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Gambaran bayangan ini muncul sebenarnya sebelum saya ingin masuk ke dunia perkuliahan, hipotesa saya saat itu dengan kuliah hanya akan menghambat saya untuk berkembang lebih cepat. Tepat ketika lulus tes tertulis ujian masuk perguruan tinggi negeri, dilema untuk tidak ingin kuliah pun hadir. Di satu sisi, saat itu saya sudah membayangkan kedepan bagaimana jika nanti saya
berkuliah, yaitu sama seperti mahasiswa pada umumnya, mencoba untuk lulus dengan predikat yang terbaik, mencoba memperluas koneksi antar sesama civitas akademika, mencoba mempertajam pola pikir dan kedewasaan dalam bertindak. Ketika lulus kuliah, ada dua opsi yang ada di gambaran saya pada saat itu, ambil S2 jika ada kesempatan, atau mencari pekerjaan dengan taraf multi nasional. Itu lah yang ada di gambaran saya ketika lulus kuliah, tentu realitanya bisa saja berkata lain. Gambaran saat di perkuliah dan ketika lulus itu muncul sebagai akibat dari keinginan saya untuk mencapai misi-misi tertentu dalam hidup. Seperti menjadi kaya raya, menjadi seorang akademisi, serta misi-misi lainnya yang berhubungan dengan tanggung jawab sosial. Ada banyak misi-misi saya dalam hidup yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, yang mana dapat dilakukan dengan pertimbangan mengikuti kuliah. Itu yang saya pikirkan saat itu.

Namun di sisi yang lain, kala itu saya mulai mempertimbangkan opsi untuk tidak kuliah dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Opsi ini muncul berawal dari sebuah pertanyaan mendasar yang saya tanyakan kepada diri sendiri, yaitu “mengapa harus melalui kuliah?”. Untuk menjawab ini, saya harus mencari terlebih dahulu seperangkat hal yang pasti saya lakukan dalam mewujudkan misi-misi saya itu dan kaitannya dengan kuliah. Pertama, saya harus tetap hidup. Ini jelas karena jika saya mati tentu misi-misi tersebut tidak akan terlaksana. Kedua, saya telah menyadari bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut, hal yang paling pasti yang harus saya lakukan adalah dengan belajar. Tidak mungkin saya mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, kalau saya sendiri tidak belajar sama sekali. Dengan belajar, peluang misi-misi saya untuk terlaksana menjadi lebih besar. Maka keberadaan belajar tidak bisa dilepaskan dari hidup saya. Ketiga, efek globalisasi dan perkembangan teknologi yang membuat informasi semakin mudah terakses, sehingga kuliah bukan lagi menjadi satu-satunya tempat belajar untuk saya.

Dari kepastian ini lalu pertanyaan tersebut terjawab, bahwa dalam mewujudkan misi-misi saya tersebut tidak harus melalui kuliah. Lalu saya melakukan perbandingan analisa sendiri mengenai informasi kemampuan saya jika saya kuliah, dengan tidak kuliah sama sekali. Untuk menguji hal tersebut tentu paling tidak saya harus mengikuti kuliah, paling tidak satu tahun lamanya. Hasilnya, saya menganggap bahwa melalui kuliah sebenarnya tidak memperbesar peluang saya dalam mewujudkan misi-misi saya dalam hidup tersebut. Hasil ini diperkuat oleh fakta yang saya rasakan dan tidak bisa saya pungkiri bahwa hampir seluruh pengetahuan yang saya peroleh saat ini berasal dari kegiatan di luar perkuliahan (dari internet). Sementara proporsi saya memperoleh pengetahuan ketika perkuliahan itu terlalu sedikit (bukan berarti jumlah pengetahuan yang saya
terima di perkuliahan itu terlalu sedikit, melainkan proporsinya terhadap pengetahuan di luar perkuliahan/dari interent itu yang terlalu sedikit).

Program belajar yang diadakan perkuliahan hanya berfungsi sebagai starting point dalam mengembangkan pengetahuan saya, sementara sisanya adalah inisiatif saya sendiri dalam mengeksplor dengan cara saya sendiri yang mana bisa dilakukan tanpa saat kuliah. Padahal fungsi starting point itu juga bisa saya peroleh di luar kegiatan perkuliahan. Kemudian lagi, dalam program belajar yang diadakan di perkuliahan banyak manfaat yang tidak saya peroleh, padahal setiap tugas yang saya kerjakan di perkuliahan terlaksana dengan baik. Hal ini bukan karena program belajar dari perkuliahan itu yang tidak menyediakan manfaat, melainkan karena pikiran saya menolak untuk mengerjakan sesuatu yang tidak saya sukai, apalagi
dipaksa diselesaikan dalam tempo waktu tertentu, sehingga manfaat yang didapat pun tidak maksimal/ tidak seprogresif saya belajar dengan cara saya sendiri.

Tapi kan dengan kuliah kita tidak hanya memperoleh pengetahuan saja, namun juga memperoleh legitimasi berupa gelar yang tentunya memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup, benar? Belum tentu. Meskipun punya banyak gelar belum tentu memperbesar peluang saya untuk mewujudkan misi-misi itu ketimbang saya benar-benar tidak kuliah sama sekali. Justru saya membayangkan bahwa dengan tidak kuliah, malah saya dapat lebih mengembangkan diri saya, saya bisa lebih berfokus kepada apa yang ingin saya wujudkan dengan cara-cara saya sendiri tanpa perlu adanya instruksi dari program belajar yang diadakan diperkuliahan. Jadwal perkuliahan yang menuntut harus terselesaikan suatu proyek tertentu justru menghambat daya kreativitas saya untuk berkembang lebih cepat (bukan berarti tidak berkembang). Sebaliknya, belajar sesuatu dari apa yang saya inginkan dengan cara-cara saya sendiri justru membuat saya lebih berkembang lebih cepat, lebih efektif, dan lebih signifikan. Meskipun banyak yang bilang track record saya sangat bagus dalam bidang akademik maupun prestasi. Tidak menunjukkan bahwa kuliah itu sangat bagus juga terhadap kecepatan perkembangan saya. Malah saya membayangkan dengan tidak berkuliah, saya bisa lebih dari apa yang saya lakukan ketika kuliah.

Jadi ada kesimpulan yang harus saya tulis agar jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pertama, belajar itu merupakan kepastian yang harus saya lakukan untuk mewujudkan misi-misi saya dalam hidup. Kedua, saya menolak untuk kuliah bukan berarti saya menolak untuk belajar, melainkan karena anggapan dengan tidak kuliah justru membuat saya lebih mudah, lebih cepat, lebih signifikan dalam belajar dan itu akan memperbesar peluang misi-misi saya terlaksana. Ketiga, bukan karena program belajar yang diberikan perkuliahan yang tidak bagus, melainkan hanya karena saya menolak suatu program belajar yang tidak saya sukai, karena itu akan berimplikasi kepada signifikan atau tidaknya manfaat yang diperoleh dari belajar per satuan waktunya. Dari tulisan ini, asumsi saya sebagian pembaca akan menilai saya terlalu angkuh, sombong, dan terlalu percaya diri. Tapi itu tidak masalah. Apa yang saya tulis memang apa yang saya rasakan dan pikirkan berdasarkan analisa-analisa dari peristiwa masa lalu, apa yang saya lakukan kedepan atau di kemudian hari adalah apa yang saya butuhkan, dan apa yang saya butuhkan itu sesungguhnya saya sendiri yang lebih tahu.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.