Negeri Semu

Oleh : Mohammad Khollaqul Alim

Hamparan perkebunan dan sawah terbentang di segala penjuru wilayah. Lautan biru yang jernih mengelilingi pulau-pulau yang terpisah. Bentangan alam yang elok dan alami menjadikan negeri ini seperti surga yang tersembunyi. Tidak hanya itu, negeri ini juga memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah yang menjadi suatu berkah dan anugerah tersendiri bagi penduduknya. Negeri ini bernama Indonesia. Secara sekilas saja, dapat dikatakan bahwa negeri ini memiliki keistimewaan lebih dibandingkan dengan negeri-negeri yang lain. Oleh karena itu, seharusnya negeri ini mampu menjadi suatu negeri yang besar dan makmur. Tetapi dengan melihat kondisi negeri saat ini, rasanya masih cukup jauh untuk mewujudkan harapan tersebut.

Indonesia adalah negeri yang kaya. Kekayaan yang dimiliki mencakup kekayaan sumber daya alam dan kekayaan sosial. Kekayaan sumber daya alam tersebut meliputi sumber daya alam hayati dan sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati di Indonesia terdiri atas keanekaragaman flora dan fauna yang melimpah yang tersebar di berbagai daerah dan termasuk keanekaragaman terbesar di dunia. Sedangkan sumber daya alam non hayati yang dimiliki Indonesia misalnya gas alam, minyak bumi, dan berbagai jenis hasil tambang lainnya. Selain itu, Indonesia juga memiliki kekayaan sosial berupa keberagaman penduduk meliputi keberagaman etnik, suku, agama, maupun budaya. Dengan melihat berbagai potensi tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia.

Tampaknya, impian untuk menjadi negara super power ataupun “Macan Asia” masih cukup jauh dari kenyataan. Hingga saat ini, Indonesia masih betah dengan status sebagai negara berkembang. Status tersebut akan terus melekat jika tidak ada semangat perubahan untuk negeri oleh seluruh rakyatnya. Masih banyak “pekerjaan rumah” yang harus segera dibenahi dan diselesaikan. Sistem birokrasi dan pemerintahan belum terstruktur dengan baik dan terkesan amburadul. Seakan-akan Pancasila dan UUD 1945 hanya menjadi simbol negara demokratis belaka. Banyak pejabat negara yang mampu menghipnotis rakyat dengan menebar janji-janji manis ketika kampanye berlangsung. Tetapi ketika sudah terpilih, mereka sudah lupa untuk menunaikan janjinya tersebut. Pemerintah meminta rakyatnya untuk lebih kritis terkait kebijakan publik saat ini, tetapi pemerintah membentengi diri dengan menaruh UU ITE sebagai tameng sehingga masyarakat merasa ketakutan dan memilih untuk bungkam.

Hukum di negeri ini masih terlihat “Tumpul ke Atas dan Tajam ke Bawah”. Entah mengapa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sangat sulit ditegakkan di negeri ini. Para pejabat dan kerabat dekat pemerintah terkesan lebih kebal hukum bahkan hukum cenderung menyengsarakan rakyat biasa. Bahkan para pejabat negara tidak merasa takut jika berbuat korupsi. Seakan-akan korupsi adalah suatu tindakan yang lumrah dan dianggap sebagai “budaya bangsa” di negeri ini. Selain itu, jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia harus segera diperbaiki dan ditata kembali. Potensi munculnya perpecahan bangsa semakin jelas dan nyata. Dimana-mana masih terjadi konflik dan pergolakan daerah yang tak kunjung usai. Tindakan diskriminasi yang dilatarbelakangi ras, suku, agama, ataupun budaya juga masih sering terjadi. Bahkan tindakan diskriminasi tersebut dilakukan secara terbuka dan blak-blakan di depan khalayak ramai misalnya di media sosial. Sungguh ironi melihat semua permasalahan tersebut terjadi di negeri ibu pertiwi ini. Semuanya terlihat semu, tetapi terasa nyata dan dapat dirasakan.

Indonesia adalah negeri yang indah dan memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Dengan memanfaatkan potensi tersebut, Indonesia pasti mampu menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia. Tetapi, negeri ini masih kesulitan untuk mewujudkan impian tersebut. Masih banyak permasalahan negeri ini yang harus dihadapi dan dituntaskan sesegera mungkin oleh semua elemen bangsa. Mulai dari sistem pemerintahan hingga jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri harus segera diperbaiki dan ditata kembali dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, semua elemen bangsa harus segera bangkit dan bergerak untuk melakukan perubahan dengan cara saling bahu-membahu, tolong-menolong, serta memiliki rasa prihatin dan kepedulian terhadap nasib bangsanya. Bangsa Indonesia juga harus mampu mengoptimalkan dan memanfaatkan berbagai potensi yang telah dimiliki dengan sebaik mungkin. Selain itu, rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong juga harus selalu dipupuk dan dijunjung tinggi oleh seluruh masyarakat dalam bersama-sama menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di negeri ini. Bukan tidak mungkin, impian untuk membawa negeri ini menjadi “Macan Asia” bahkan negara super power di dunia dapat segera terwujud di kemudian hari.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.

Saintis dan Pendidik

Oleh:

Fafi Masiroh

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa di antara saintis dan pendidik memiliki perbedaan yang sangat kontras. Tidak sedikit orang berargumen bahwa saintis adalah seorang yang sudah terjun dalam suatu lingkup ilmu pengetahuan, atau bahkan sudah menjadi ahli dalam suatu rumpun ilmu. Dalam hal ini misalnya, seseorang yang memiliki kemampuan mendalam terkait disiplin ilmu seperti fisika, biologi, geografi, dan disiplin ilmu lainnya baik mendalami secara material ataupun melalui riset. Sedangkan pendidik merupakan seseorang yang mendidik, yakni membagikan ilmunya kepada orang lain secara kontinu dan berkesinambugan. Dalam hal ini, pendidik berkaitan dengan guru, dosen, konselor dan lainnya. Dari argumen tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa saintis cenderung berpeluang untuk dianggap sebagai seorang ilmuwan, yang disertifikasi mampu untuk menciptakan pengetahuan baru. Lain halnya dengan pendidik, yang hanya sekedar membagikan atau memberikan ilmu pengetahuan yang sudah berkembang dan mereka mampu menguasainya. Hal demikianlah yang membuat di antara saintis dan pendidik memiliki perbedaan yang kontras.

Melihat dari sudut pandang secara luas, bahwa di antara saintis dan pendidik, mereka sebenarnya juga memiliki persamaan. Tentu pastinya, karena setiap kali terdapat perbedaan juga terdapat persamaan. Montessori, seorang doktor wanita pertama dari Italia yang berperan sebagai seorang saintis sekaligus pendidik. Ia merupakan seorang saintis yang berjiwa pendidik, seta seorang pendidik yang selalu memperdalam ilmu. Menurutnya, jika ia menjadi saintis, maka ia seorang pendidik. Mengapa demikian? Karena pendidik, bukanlah hanya semata-mata sebagai sebuah profesi. Pendidik selalu memiliki spirit dalam berbagi ilmu, berkontribusi dalam bidang pendidikan, serta saintis sangatlah perlu memiliki jiwa tersebut. Jiwa untuk membagi ilmu. Bagaimana jika saintis tidak memiliki jiwa pendidik? Lantas bagaimana bisa ilmu pengetahuan yang telah mereka temukan dapat diketahui dan dipahami oleh khalayak umum? Jika demikian, untuk apa mereka menciptakan ilmu pengetahuan baru? Oleh karen itu, saintis, ialah juga pendidik. Demikian juga, menurut Montessori jika ia pendidik, maka ia juga saintis. Seorang pendidik perlu memiliki karakter sebagai saintis, yaitu mereka selalu memiliki semangat dan keinginan besar dalam mengggali dan mendalami ilmu. Jika pendidik menguasai penuh serta mendalami ilmu pengetahuan secara lebih luas, tidak menutup kemungkinan bahwa pendidik akan membagikan ilmu lebih luas da lebih dalam. Bagaimana jika pendidik tidak semangat dalam menggali dan mendalami ilmu? Lantas apa yang akan mereka bagikan jika ilmunya tidak dalam? Oleh karena itu, pendidik pun perlu disebut sebagai saintis.

Lepas dari penjelasan tersebut, baik saintis dan pendidik merupakan tokoh yang sebenarnya penting dalam kehidupan ini, terlebih terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan kemjuan suatu bangsa serta dalam melahirkan generasi bangsa yang berkualitas.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang