almuhtada.org – Berulang kali hati manusia dipenuhi rasa gelisah, terutama saat memikirkan hari kemarin, hari ini, dan hari selanjutnya yang belum tentu benar-benar datang. Di dalamnya terdapat rasa insecure terhadap pencapaian orang lain. Misalnya, teman yang mendapatkan beasiswa, prestasi orang lain yang lebih melimpah, teman yang lulus lebih dahulu, bahkan teman yang telah memiliki pekerjaan tetap. Akibatnya, manusia menjadi pribadi yang terus beranggapan bahwa dirinya hanya bisa berjalan di tempat. Padahal, setiap manusia memiliki garis waktunya masing-masing.
Allah tidak menjadikan hidup seseorang sama dengan yang lain. Ada kalanya Allah mempercepat satu urusan seseorang, tetapi memperlambat urusan yang lainnya. Ada yang berhasil di usia muda, ada pula yang berhasil setelah berjuang bertahun-tahun lamanya.
Sering kali kita hanya melihat hasil akhir kehidupan seseorang tanpa mengetahui proses panjang yang telah dilaluinya. Kita mengagumi keberhasilan yang tampak di depan mata, tetapi lupa bahwa di baliknya ada ujian, penantian, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat. Salah satu contoh terbaik tentang hal ini dapat kita temukan dalam kisah Nabi Yusuf a.s.
Kembali pada kisah Nabi Yusuf a.s. Sewaktu kecil, beliau dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya. Ketika berhasil ditemukan, ternyata beliau ditemukan oleh segerombolan musafir dan kemudian dijual kepada pembesar Mesir. Setelah dibeli, beliau dipekerjakan. Tidak sampai di situ, pada suatu waktu beliau mendapatkan fitnah sehingga terjerumus ke dalam penjara.
Jika dilihat secara sepintas, cerita Nabi Yusuf a.s. terasa tidak memiliki alur yang jelas. Justru, alurnya seakan terus mengalami kemunduran. Namun, Nabi Yusuf tidak berhenti berbuat baik dan tidak pernah luntur keimanannya kepada Allah. Hingga akhirnya tiba waktu beliau dibebaskan dan dimuliakan dengan jabatan baru di istana.
Dari kisah tersebut, kita belajar bersama bahwa tidak semua kehidupan manusia berjalan dengan lancar dan cepat. Ada kalanya Allah membawa seseorang melewati rute yang panjang sebelum bertemu dengan tujuan terbaiknya. Bisa jadi Allah membawa kita melewati rute tersebut karena sedang mempersiapkan sesuatu yang memang belum saatnya diberikan.
Mengutip dari lirik lagu Perunggu, “Hidup memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.” Namun, bukan berarti setiap keterlambatan adalah kegagalan. Bisa jadi, apa yang kita anggap terlambat hanyalah bagian dari proses yang sedang Allah siapkan untuk membawa kita menuju tempat yang tepat pada waktu yang tepat. [] LAILIA LUTFI FATHIN











