Bagaimana Jika Nanti Aku Tidak Jadi Apa-apa?

Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami quarter life crisis (pexels.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Di umur yang rasanya hampir menginjak kepala orang ini, maksudnya menginjak kepala dua kita sering kali harus bergelut dengan kabar keberhasilan orang lain di media sosial. Si A sudah selesai kuliah dan kerjanya mapan, Si B menang lomba ini-itu, lalu Si C punya penghasilan sendiri. Kita yang sama-sama sedang berjuang pun terkadang merasa tertekan dan overthinking, “Aku sudah capek-capek begini, sudah berjuang sana-sini, nanti kalau nggak jadi apa-apa gimana, ya?”.

Ternyata perasaan semacam itu adalah hal yang wajar. Dalam dunia psikologi, pikiran cemas akan masa depan ini sering disebut future anxiety dan sering kambuh di fase Quarter Life Crisis. Perasaan ini biasanya dipicu dari kebiasaan membandingkan diri ke atas saat melihat pencapaian orang lain. Namun sebenarnya, kita cemas karena kita tidak bisa mengendalikan masa depan sedangkan kita hanya ingin merasa aman atas sesuatu yang belum tentu terjadi.

Lalu, bagaimana pandangan Islam terkait hal ini? Islam memandang kecemasan sebagai emosi yang wajar, namun melarang kita tenggelam dalam kekhawatiran. Kita sering takut tidak mendapat jatah kesuksesan di dunia, padahal Islam telah memberikan jaminan bahwa rezeki setiap makhluk sudah ditakar.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Malaikat Jibril pernah membisikkan ke dalam hati beliau: “Tidaklah suatu jiwa akan mati sampai ia menyempurnakan ajal dan rezekinya“. Nabi Muhammad SAW juga melarang keras kita meratapi keadaan dengan kata “seandainya”, karena ucapan itu dinilai sebagai bentuk penolakan terhadap takdir yang akan membuka celah bagi setan untuk menanamkan kegelisahan.

Baca Juga:  Hadapi Ujian Dengan DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal)

Jika perasaan hal ini wajar, namun dalam islam diajarkan untuk tidak berlarut-larut, maka apa yang bisa kita lakukan agar perasaan ini tidak menenggelamkan diri kita? Hal pertama adalah membatasi pemicu utamanya. Seringkali perasaan ini akan kambuh ketika kita berselancar di media sosial, maka kurangi pengguanaan media sosial karena ia adalah pemicu utamanya.

Daripada menguras tenaga memikirkan lima tahun ke depan bakal jadi apa, lebih baik fokus pada hal-hal yang bisa kita kerjakan hari ini. Saat overthinking mulai melanda, segera alihkan dengan memperbanyak dzikir dan doa. Kita bisa melafalkan doa yang Rasulullah SAW ajarkan, yaitu doa penawar gelisah: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan).

Selalu bungkus usaha kita dengan prasangka baik dan tawakal kepada Allah Swt. Jika pada akhirnya nanti kita merasa tidak menjadi “apa-apa” berdasarkan standar kesuksesan duniawi, percayalah bahwa kita akan baik-baik saja. Selama kita terus melakukan yang terbaik hari ini dan menyandarkan masa depan pada Sang Penulis Skenario Terbaik, kita sejatinya sudah memenangkan kehidupan ini. Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini].

Related Posts

Latest Post