Manifestasi Berkah Melalui Perumpamaan Kambing dan Anjing

Ilustrasi anak anjing yang dijaga sekawanan kambing (Pinterest.com - Almuhtada.org)

almuhtada.org – Secara harfiah, “berkah” atau “barakah” memiliki arti bertambah atau berkembang. Berkah diartikan sebagai ziyadatul khair, yakni bertambahnya suatu kebaikan. Namun, datangnya keberkahan dalam kehidupan tidaklah sesederhana pengertiannya.

Makna berkah lebih dalam dari apa yang kita sebut “bertambah”. Dalam agama Islam, keberkahan tidak selalu identik dengan jumlah yang besar, harta yang melimpah, atau sesuatu yang tampak menguntungkan di mata dunia. Keberkahan bisa hadir dari sesuatu yang kecil, dari kebaikan yang terus menetap, dan dari arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya.

Analogi tentang berkah dapat kita cermati melalui perumpamaan dua makhluk hidup, yakni kambing dan anjing. Sepintas, jika melihat angka kelahirannya, mungkin kita akan mengira populasi anjing akan jauh lebih banyak daripada kambing. Namun faktanya, secara global populasi kambing justru lebih besar.

Pada umumnya, induk kambing melahirkan satu sampai tiga anak dalam satu kelahiran. Sementara itu, induk anjing biasanya melahirkan sekitar lima sampai sembilan anak, bahkan pada beberapa jenis tertentu bisa lebih banyak lagi. Jika hanya dilihat dari jumlah anak yang lahir, tentu anjing tampak lebih unggul dalam berkembang biak. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian.

Anak anjing memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi, terlebih pada anjing liar yang hidup tanpa perawatan. Sedangkan kambing dikenal sebagai hewan yang kuat bertahan hidup. Ia mampu beradaptasi di daerah kering, pegunungan, hingga pedesaan yang sederhana sekalipun. Kambing juga termasuk hewan ternak yang mudah dipelihara oleh masyarakat kecil.

Baca Juga:  Dalamnya Makna Surat Al-Ikhlas yang Sering Kita Baca

Kambing adalah hewan yang hampir setiap hari disembelih untuk kebutuhan pangan. Tidak terkecuali di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sedangkan anjing “hanya” disembelih oleh mereka yang meyakini bahwa anjing boleh dikonsumsi. Negara seperti Indonesia bahkan tidak menjadikan anjing sebagai konsumsi umum. Namun demikian, populasi kambing tetap lebih besar daripada populasi anjing.

Setiap tahun, umat Islam merayakan Idul Adha dengan berkurban hewan ternak, termasuk kambing. Tidak hanya seekor, tetapi bisa mencapai ratusan bahkan ribuan ekor di berbagai daerah. Dan itu tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di hampir seluruh negeri kaum muslimin di dunia.

Tidak hanya itu, kambing juga menjadi hewan yang disembelih untuk aqiqah bagi anak muslim yang lahir ke dunia, bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan satu ekor kambing. Sedangkan anjing tidak memiliki posisi seperti itu dalam syariat Islam. Kendati demikian, populasi kambing tetap lebih besar daripada populasi anjing.

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa keberkahan bukan hanya tentang “berapa banyak” yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana sesuatu itu memberi manfaat, bertahan, dan terus menghadirkan kebaikan.

Betapa banyak manusia yang hartanya melimpah, tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang hartanya sederhana, tetapi hidupnya terasa cukup, tenang, dan penuh manfaat bagi sesama. Ada ilmu yang sedikit tetapi bermanfaat luas, dan ada pula ilmu yang banyak namun tidak membawa perubahan apa-apa. Ada umur yang pendek tetapi penuh amal kebaikan, dan ada umur panjang yang berlalu tanpa makna.

Baca Juga:  Bolehkah Menjamak Sholat Ketika Sudah Sampai Tempat Tujuan? Yuk Simak

Kisah sederhana tentang kambing dan anjing ini mengajarkan bahwa keberkahan adalah rahasia Allah Swt. Terkadang keberkahan hadir bukan pada jumlah. Keberkahan adalah ketika sesuatu yang tampak kecil mampu menghadirkan manfaat dan terus mengalir. Keberkahan adalah ketika Allah menjaga kebaikan pada sesuatu, meskipun menurut ukuran dunia hal itu tampak biasa saja.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya mencari isi dunia, tetapi juga mencari keberkahan dalam setiap rezeki, umur, ilmu, keluarga, dan amal yang Allah titipkan kepada kita. Wallahu a’lam bisshawab. [] Nihayatur Rif’ah

Related Posts

Latest Post