almuhtada.org – Pernah ngerasa hidup itu tidak adil? Merasa orang lain hidupnya terlihat berlimpah, sementara kita masih jalan di tempat. Tanpa sadar, kita jadi punya “hobi baru” membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Padahal kita sedang lupa satu hal sederhana, bahwa standar “cukup” tiap orang itu berbeda-beda. Apa yang terlihat sempurna di luar, belum tentu benar-benar utuh di dalam.
Kita terlalu sering fokus pada apa yang belum kita miliki. Menghitung kegagalan, mengingat hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana, bahkan merasa seolah-olah keberuntungan selalu melewati alamat kita. Lama-lama, hati jadi penuh dengan iri dan kecewa. Hari terasa berat, bukan karena hidup benar-benar seburuk itu, tapi karena cara kita memandangnya yang perlahan menjadi gelap.
Coba kita renungkan kisah dari Surah Al-Kautsar. Surat ini turun saat Nabi Muhammad Saw. sedang berada di titik yang sangat menyakitkan. Beliau kehilangan putra-putranya, dan di saat yang sama, kaum Quraisy mencemoohnya dengan sebutan “Abtar” atau orang yang terputus keturunannya. Bayangkan, mengalami kehilangan yang begitu dalam, ditambah hinaan dari lingkungan sekitar.
Namun, yang menarik adalah bagaimana Allah Swt. merespons keadaan itu. Dalam ayat pertama dan kedua, Allah Swt. tidak menjanjikan pengganti atas kehilangan putranya tersebut. Tidak ada janji bahwa akan digantikan dengan sesuatu yang serupa atau bahkan lebih baik. Justru pada ayat tersebut Allah Swt. mengingatkan satu hal penting: “Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
Seolah-olah Allah Swt. berkata, “Aku tahu kamu sedang sedih. Tapi coba lihat lagi, betapa banyak yang sudah Aku berikan.” Fokusnya bukan pada apa yang hilang, tapi pada apa yang masih ada. Bukan pada kekurangan, tapi pada keberlimpahan yang sering luput dari perhatian.
Dari sini, kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi tentang menyadari apa yang sudah kita punya. Kita sering terjebak dalam kesedihan karena kehilangan, sampai lupa masih ada begitu banyak hal yang layak disyukuri, seperti diberikan kesehatan, kesempatan, orang-orang yang peduli, bahkan hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa saja.
Allah Swt. tidak langsung memberi pengganti atas kehilangan Rasulullah Saw. Sebaliknya, Allah Swt. mengarahkan beliau untuk salat dan berkurban, yang mana merupakan dua bentuk ibadah yang memiliki makna syukur dan penghambaan. Ini seperti pengingat halus bahwa cara terbaik menghadapi kehilangan bukan selalu dengan mencari pengganti, tapi dengan memperdalam rasa syukur.
Mungkin kita memang tidak bisa mengontrol apa yang terjadi dalam hidup. Kehilangan, kegagalan, dan rasa kecewa akan tetap datang silih berganti. Tapi kita selalu punya pilihan, mau terus fokus pada yang kurang, atau mulai belajar melihat suatu hal dari sisi yang baik-baik saja.
Jadi, yuk pelan-pelan kita biasakan hati untuk melihat yang masih ada, bukan yang sudah pergi. Karena sering kali, kebahagiaan itu bukan tentang hidup yang sempurna, tapi tentang cara kita mensyukuri yang sederhana. [] Aisyatul Latifah











