Mendapat Cemooh atau Hinaan dari Orang Lain? Yuk Jadikan Ladang Pahala!

Ilustrasi seseorang yang sedang menghina (Gemini.AI - almuhtada.org)

almuhtada.org – Dalam kehidupan, kita tak pernah terlepas dari dinamika sosial.

Tidak semua orang pasti akan menyukai kita, dan itu adalah hal yang wajar.

Meski hal ini dapat terjadi dengan orang-orang terdekat yang seharusnya support kita, seperti dalam lingkar pertemanan, tempat belajar, pekerjaan, bahkan dari orang yang kita kenal dekat.

Secara manusiawi, tentu hati kita akan tersenggol. Sakit.

Kita pasti merasa ingin membalas, menjelaskan, atau bahkan membela diri.

Namun sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas.

Kita tahu bahwasanya setiap ujian memiliki makna, dan setiap kesabaran bernilai pahala kebaikan si sisi Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an;

“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang0orang yang bersabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa ujian dalam hidup bukan hanya berbentuk kesulitan fisik, tetapi juga ujian hati termasuk ketika kita dihina atau diremehkan, di situlah kesabaran menjadi kunci utamanya.

Hati kita mungkin terasa sempit. Hati kita mungkin terasa resah.

Tapi percayalah, Allah Maha Mengetahui dan tidak akan menelantarkan hamba-Nya. Allah juga berfirman;

“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (Al-Hijr: 97)

Kemudian Allah memberikan keteguhan dan menjelaskan suatu hal kepada beliau untuk menghilangkan keresahan ini. Allah berkata;

Baca Juga:  Makna Dibalik Gigi Sakit Dalam Pandangan Islam Terkait Solidaritas Muslim yang Ideal Menurut Ustadz Abdullah Zaen, MA

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau diantara orang yang bersujud (salat). Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (Al-Hijr: 98-99)

Ayat ini mengingatkan bahwa ujian dalam hidup bukan hanya berbentuk kesulitan fisik semata, tetapi juga ujian hati, termasuk ketika kita di hina atau diremehkan atau bahkan mendapatkan perkataan yang menyakitkan.

Rasulullah Saw. adalah teladan baik dalam menghadapi hinaan.

Beliau pernah dicaci maki, dilempari kotoran, bahkan disakiti oleh kaumnya sendiri.

Namun, beliau tidak pernah membalas dengan keburukan. Justru bahkan  beliau mendoakan mereka dengan penuh kasih.

Hal tersebut merupakan pelajaran yang sangat penting dari kita, bahwa tidak semua hinaan, celaan, dan keburukan harus dibalas.

Terkadang diam, sabar, dan senantiasa mengingat Allah adalah bentuk kekuatan yang paling besar, apa lagi jika kita mendoakan yang baik terhadap orang yang telah mencaci maki kita.

Kesabaran bukan berarti lemah.

Dengan kesabaran, kita dapat lebih mampu menahan diri dari reaksi yang buruk, menjaga hati agar tidak dipenuhi kebencian, serta berlatih merespon keburukan dengan suatu kebaikan.

Hal tersebut adalah suatu kekuatan yang tidak semua orang bisa memilikinya.

Allah Swt. telah berfirman;

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” (Q.S. Fusilat: 34)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa respon terbaik terhadap suatu keburukan bukanlah keburukan yang sama, tetapi kebaikan.

Baca Juga:  Ujian Kehidupan: Makna dan Hal yang Harus Dilakukan

Mungkin tidak mudah, tetapi di situlah letak kemuliaan seorang muslim.

Oleh karena itu, mari kita kembali memperbaiki apa-apa yang mestinya bisa kita perbaiki.

Karena ketika kita memuliakan orang lain dan senantiasa bersikap sabar, bahkan ketika orang lain mencemooh, menghina, dan berbuat keburukan terhadap kita, tentu Allah Swt. menyaksikan dan kita tidak perlu membela diri apa lagi menghakimi.

Wallahu a’lam bissawab.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dimudahkan Allah untuk senantiasa bersikap sabar dan senantiasa mengingat-Nya selalu. Aamiiin. [] Rosi Daruniah.

Related Posts

Latest Post