almuhtada.org – Ketika kita sudah tumbuh dewasa, dapat tidur di siang hari merupakan kenikmatan yang tiada taranya. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan kenikmatan tidur di siang hari ketika kita sudah bertumbuh dewasa.
Lalu, pernahkah kalian membayangkan jika seandainya dunia ini tidak pernah berhenti, maksudnya tidak ada waktu tidur. Apa yang akan terjadi? Bagaimana jika kita melihatnya dari sudut pandang seorang muslim?
Tidur adalah Fitrah dan Tanda Kekuasaan
Dalam Al-Qur’an, tidur disebutkan sebagai salah satu nikmat dan bukti eksistensi Sang Pencipta.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari…” (QS. Ar-Rum: 23)
Jika kemampuan tidur dicabut, manusia kehilangan salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah. Tidur adalah pengingat bahwa manusia itu lemah dan terbatas, berbeda dengan Allah yang tidak mengantuk dan tidak tidur. Tanpa tidur, manusia berisiko menjadi sombong karena merasa memiliki kendali penuh atas waktunya tanpa henti.
Sisi Gelap Dunia Tanpa Tidur
Islam membagi waktu secara proporsional antara malam untuk istirahat dan siang untuk bekerja. Ini bukanlah sekedar pernyataan manusia, namun tertera jelas dalam firman-Nya, yaitu pada surat An-Naba ayat 9-10.
Malam dalam Islam adalah waktu yang sakral untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui sholat malam. Jika tidak ada tidur, maka tidak ada “bangun tidur” untuk menghadap-Nya di sepertiga malam. Kedalaman hubungan hamba dengan Rabb-nya yang lahir dari kesunyian malam bisa memudar karena dunia tetap bising 24 jam.
Secara sosiologis, tanpa tidur, kapitalisme bisa menjadi lebih kejam. Manusia mungkin dipaksa bekerja lebih lama, dan tidur dapat dianggap sebagai pemborosan ekonomi, bukan hak tubuh. Hal ini tentu saja sangat menghancurkan kehidupan manusia.
Sisi gelap lainnya adalah tidak berhentinya aktivitas dosa. Saat tidur, lisan kita berhenti dari ghibah, tangan berhenti dari maksiat, dan mata berhenti melihat hal yang dilarang. Jika manusia terjaga 24 jam tanpa kontrol iman yang kuat, frekuensi kemaksiatan secara statistik akan meningkat pesat karena tidak ada jeda “istirahat dari dosa”.
Produktivitas: Khairu Naas vs Syahwat Dunia
Kita bisa mengisi waktu kosong itu untuk menuntut ilmu seperti menghafal Al-Quran, mempelajari Bahasa Arab atau melakukan riset, Bahkan manusia secara teori sebenarnya bisa beribadah terus menerus tanpa henti.
Namun, Islam juga mengajarkan bahwa tubuh memiliki hak. Tanpa tidur, keseimbangan mental bisa terganggu. Rasulullah SAW bahkan pernah menegur sahabat yang ingin shalat semalam suntuk tanpa tidur. Teguran Rasul tersebut dapat dimaknai bahwa Islam mengedepankan keseimbangan. Beribadah terus menerus tanpa henti, tanpa memberikan tubuh kita hak berisitirahat pun tidak sepenuhnya baik.
Kesimpulan
Dalam kacamata Islam, dunia tanpa tidur mungkin terlihat “produktif” secara fisik, namun sebenarnya rapuh di dalam. Tidur adalah bentuk nikmat yang menjaga kewarasan, kerendahhatian, dan ritme biologis yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Tanpa tidur, dunia akan berubah menjadi mesin raksasa yang terdiri dari rutinitas-rutinitas tak bermakna. Maka syukurilah bahwa sampai saat ini kita masih diberikan nikmat tidur. Wallahu a’lam bisshowab [Pranita Wulan Andini].











