Almuhtada.org – Hidup terasa penuh, tapi anehnya kosong. Aktivitas banyak, kesibukan padat, bahkan mungkin secara materi tidak kekurangan. Namun, ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Seolah-olah semua yang dimiliki tidak benar-benar memberi ketenangan. Perasaan ini bukan hal yang jarang terjadi, dan dalam Islam, kondisi seperti ini bisa jadi berkaitan dengan satu hal yang sering terlupakan yaitu keberkahan.
Berkah atau barokah atau barakah berasal dari kata bahasa Arab yang sama (al-barakah), sehingga keduanya merujuk pada makna yang sama yaitu bertambahnya kebaikan (ziyadatul khair) atau karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan.
Barakah bukan sekadar banyaknya sesuatu, tetapi kebaikan yang Allah letakkan di dalamnya. Sesuatu yang sedikit bisa terasa cukup, dan sesuatu yang sederhana bisa membawa ketenangan. Sebaliknya, sesuatu yang banyak belum tentu terasa cukup jika tidak ada keberkahan di dalamnya. Karena itu, ukuran kebahagiaan dalam Islam tidak selalu terletak pada jumlah, tetapi pada nilai keberkahan yang menyertainya. Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf : 96)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan erat kaitannya dengan iman dan ketakwaan. Ketika seseorang dekat dengan Allah, maka Allah akan menghadirkan keberkahan dalam hidupnya, baik dalam waktu, rezeki, maupun ketenangan hati.
Sering kali kita mengira bahwa rasa kosong dalam hidup disebabkan oleh kurangnya sesuatu di dunia. Padahal, bisa jadi yang kurang bukanlah jumlah, melainkan keberkahan. Kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi lupa menjaga hubungan dengan Allah. Kita fokus menambah, tapi lupa memperbaiki. Akibatnya, apa yang kita miliki terasa tidak cukup, meskipun secara lahir terlihat banyak.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati (jiwa).” (HR. Bukhari No: 6446)
Hadits ini menegaskan bahwa rasa cukup dan ketenangan hati adalah bentuk keberkahan yang paling nyata. Seseorang bisa memiliki banyak harta, tetapi tetap merasa kurang. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun hatinya tenang dan merasa cukup, itulah tanda adanya barakah dalam kehidupan.
Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan amalan sederhana yang menjadi sebab turunnya keberkahan, seperti memulai sesuatu dengan menyebut nama Allah. Hal ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi justru dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan kesadaran kepada Allah.
Keberkahan juga bisa berkurang karena hal-hal yang sering dianggap sepele, seperti melalaikan shalat, jarang berdzikir, atau terlalu sibuk dengan hal yang tidak bermanfaat. Tanpa disadari, semua itu bisa menjauhkan kita dari ketenangan yang sebenarnya kita cari. Sebaliknya, ketaatan yang konsisten, meskipun sederhana, justru menjadi jalan hadirnya keberkahan. Sedikit amal, tapi dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus, sering kali lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan amal besar yang tidak istiqamah.
Pada akhirnya, hidup yang penuh bukanlah hidup yang memiliki segalanya, tetapi hidup yang terasa cukup dengan apa yang ada. Dan rasa cukup itu tidak datang dari dunia, melainkan dari keberkahan yang Allah berikan. Maka jika suatu hari kita merasa hidup terasa kosong, mungkin bukan karena kita kekurangan sesuatu, tetapi karena kita belum menemukan keberkahan di dalamnya. Dan keberkahan itu selalu dekat, selama kita mau kembali mendekat kepada Allah.
Penulis: [Fitri Novita Sari]











