Konsep Perempuan sebagai Tiang Utama dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Ilustrasi Perempuan yang dihakimi (Pinterest.com - almuhtada.org)

almuhtada.org – Perempuan masih memiliki stereotip negatif bagi beberapa orang. Sebagian orang beranggapan bahwa kodrat perempuan hanyalah macak, manak, dan masak. Artinya, peran perempuan dianggap terbatas pada pekerjaan domestik untuk mengurus rumah tangga dan menuruti keinginan suami.

Dalam budaya Jawa, terdapat pula ungkapan yang masih melekat, yaitu surga nunut, neraka katut. Ungkapan ini sering dimaknai sebagai bentuk kesetiaan seorang istri kepada suaminya, yakni mengikuti kemanapun suaminya pergi baik itu surga maupun neraka. Namun, dalam pemahaman yang lebih luas, ungkapan ini kerap dipandang sebagai simbol inferioritas perempuan dalam rumah tangga. Posisi istri seolah digambarkan tidak memiliki kuasa atas diri dan pilihannya sendiri.

Padahal, perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan. Dalam sebuah ceramah Ning Khilma Anis di NU Online, beliau menjelaskan bahwa sejatinya, perempuan adalah seorang “sutradara”. Meskipun peran sutradara berada di belakang layar, namun dialah yang menentukan baik atau tidaknya sebuah film. Sutradara yang pintar akan membuahkan film yang bagus, begitu pula sebaliknya.

Begitupun dengan perempuan, perannya sering kali tidak tampak secara langsung, tetapi ia menjadi penggerak dan pendorong dalam berbagai aspek kehidupan—baik dalam rumah tangga maupun di ranah yang lebih luas.

Dalam ceramah, Ning Khilma Anis menjelaskan perempuan bukanlah sosok yang remeh atau lemah. Menurut Ki Hajar Dewantara, ada tiga hal yang perlu disiapkan oleh perempuan untuk menjadi tiang utama, yaitu tutur, uwur, dan sembur.

Baca Juga:  Jangan Ragu, Kamu Bisa Lebih dari yang Kamu Pikirkan

Tutur. Seorang perempuan harus bisa berkata-kata baik, terutama kepada anaknya. Kata-kata baik akan membawa tuah (energi positif), sedangkan kata-kata buruk dapat membawa tulah (energi negatif). Ucapan seorang ibu adalah doa bagi anaknya. Oleh karena itu, penting bagi seorang ibu untuk menjaga tutur kata agar tidak menyakiti hati anak.

Uwur. Seorang ibu berkewajiban memenuhi kebutuhan anak, baik kebutuhan materi seperti sandang, pangan, biaya pendidikan, maupun kebutuhan nonmateri seperti kasih sayang dan perhatian.

Sembur. Seorang ibu juga harus senantiasa mendoakan yang terbaik bagi anaknya, karena doa adalah salah satu kekuatan utama dalam membentuk masa depan anak.

Selain itu, terdapat empat sikap yang perlu dimiliki oleh seorang perempuan, khususnya yang telah menjadi ibu, yaitu ngandel, kendel, bandel, dan kandel.

Ngandel. Seorang ibu harus percaya (ngandel) kepada Allah bahwa sang anak akan senantiasa berada dalam penjagaan-Nya, yaitu Allah Yang Maha Kuasa.

Kendel. Perempuan harus punya keberanian (kendel) untuk mengambil keberuntungan dan menentukan jalan hidupnya. Imam Al-Ghazali pernah berpesan bahwa jika seseorang bukan anak seorang ulama besar atau bukan dari keturunan bangsawan, maka menulislah. Pesan ini menegaskan bahwa menulis adalah salah satu cara untuk meninggalkan jejak intelektual dan membangun nama baik di dunia keilmuan, yang berarti kalau kita mau menulis, kita akan mendapat kemuliaan dan cinta kasih sebagaimana yang didapatkan oleh keturunan bangsawan

Baca Juga:  Kenapa Harus Aku, Ya Allah?

Bandel. Perempuan harus menjadi sumur sinaga, yaitu tempat bertanya bagi anak, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu, air sumur tersebut harus jernih dengan cara mempunyai ilmu yang bermanfaat. Jangan menjadi sumur gemuling yaitu terlalu banyak berbicara tanpa dasar yang jelas (over sharing).

Kandel. Bekal seorang perempuan harus banyak agar menjadi sosok ibu yang memiliki value. Menjadi ibu jangan mudah marah, mengeluh, selalu berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak kepada putra-putrinya.

Di masa kini, sudah saatnya kita mendobrak berbagai stigma negatif terhadap perempuan. Setiap perempuan dapat membuktikan perannya melalui caranya masing-masing. Perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan tiang utama dalam kehidupan. [ ] Nihayatur Rif’ah

Related Posts

Latest Post