almuhtada.org – Sejumlah penelitian menyebut pola ini sebagai segmented sleep, atau tidur yang terbagi dalam dua bagian utama. Orang biasanya tidur lebih awal (beberapa jam setelah matahari terbenam), bangun selama satu atau dua jam setelah tengah malam, lalu kembali terlelap dalam “tidur kedua” hingga pagi tiba.
Sejarawan A. Roger Ekirch menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pembacaan ulang tentang tidur malam ini. Ia menelusuri ribuan dokumen berupa buku harian, surat, catatan pengadilan, dan teks liturgi. Temuannya konsisten: malam praindustri adalah waktu yang hidup, bukan sekadar jeda gelap yang panjang dan kosong.
“The Watch”: Aktivitas di Antara Dua Tidur
Jeda terjaga di tengah malam ini sering disebut sebagai periode “the watch”. Alih-alih berguling-guling dengan perasaan cemas karena tidak bisa tidur, orang-orang di masa lalu memanfaatkan waktu ini secara produktif maupun kontemplatif. Ada yang menggunakannya untuk menyulam, membelah kayu, atau mengerjakan tugas rumah tangga ringan dalam keheningan.
Bagi yang lain, waktu ini adalah momen spiritual yang paling intim. Banyak agama menyarankan doa malam dilakukan pada jam-jam ini karena suasananya yang sunyi. Bahkan secara biologis, beberapa penelitian menunjukkan bahwa selama periode terjaga ini, tubuh memproduksi hormon prolaktin dalam kadar tinggi. Hormon yang menciptakan perasaan tenang dan rileks, sangat berbeda dengan rasa cemas yang kita rasakan saat terbangun di era modern.
Keragaman Pola Tidur Global
Namun, bukti sejarah tidak berarti semua masyarakat di seluruh dunia tidur dengan pola yang identik. Studi pada masyarakat pemburu-pengumpul modern seperti suku Hadza, San, dan Tsimane menunjukkan bahwa tidur mereka sangat dipandu oleh cahaya alami, suhu lingkungan, dan dinamika kelompok.
Mereka tidur beberapa jam setelah matahari terbenam dan cenderung tidur secara terkonsolidasi (menyambung), meskipun tetap memiliki fleksibilitas tinggi.
Temuan ini penting karena menolak gagasan bahwa satu pola tidur (baik itu delapan jam tanpa putus maupun tidur tersegmentasi) selalu berlaku untuk seluruh umat manusia secara universal.
Tidur manusia bukanlah sebuah mesin seragam, melainkan kebiasaan lentur yang menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, ketersediaan cahaya, kebutuhan sosial, dan perubahan musim.
Revolusi Industri dan Standarisasi Malam
Perubahan radikal terjadi ketika cahaya buatan mulai merembes ke dalam ruang-ruang privat. Penemuan lampu minyak yang lebih terang, lampu gas, dan puncaknya listrik, secara efektif “menjajah” malam. Aktivitas manusia menjadi lebih panjang, dan sinyal alami tubuh untuk beristirahat mulai terganggu.
Seiring dengan meledaknya revolusi industri, muncul standarisasi waktu kerja. Pabrik membutuhkan buruh yang bugar dalam satu blok waktu yang tetap. Akibatnya, tidur pun ikut “diindustrialisasi” menjadi satu blok delapan jam yang padat demi efisiensi.
Dari sinilah tidur terkonsolidasi perlahan menjadi norma baru. Norma ini tertanam begitu kuat dalam diri kita, sehingga ketika kita terbangun di jam 2 pagi, kita langsung merasa “rusak” atau menderita insomnia.
Mengubah Perspektif terhadap Malam
Meski demikian, artikel ini bukan ajakan untuk meromantisasi setiap gangguan tidur. Jika terbangun di malam hari disertai rasa cemas yang hebat, nyeri fisik, atau membuat Anda sangat kelelahan di siang hari, pemeriksaan medis tetap merupakan langkah bijak.
Namun, bagi banyak orang, memahami sejarah ini bisa mengurangi beban mental. Yang perlu diubah adalah rasa bersalah yang berlebihan.
Dengan kacamata sejarah, malam yang terputus tidak selalu berarti kegagalan sistem tubuh. Bisa jadi, itu adalah sisa-sisa pola lama saat manusia masih merayakan keheningan di sela-sela mimpinya. Bangun di tengah malam mungkin lebih manusiawi daripada yang pernah kita ajarkan pada diri sendiri. [] Ikmal Setiawan











