almuhtada.org – Dalam kehidupan bermasyarakat terkadang terdapat umat Islam yang bersemangat apabila menampakkan ibadahnya, biasanya dengan rajin shalat berjamaah, aktif berdakwah, atau terlibat dalam kegiatan sosial.
Semua itu tentu baik. Namun, ada ibadah lain yang justru sangat ditekankan tetapi jarang dibahas secara mendalam, yaitu ibadah atau amal secara sembunyi-sembunyi (al-a‘māl al-khafiyyah).
Ibadah yang Tidak Ditampakkan Sebagai Fondasi Keikhlasan
Islam sangat menekankan rasa keikhlasan. Namun, praktik menjaga amal agar tetap tersembunyi sering kali kurang disadari sebagai bentuk jihad melawan riya.’ Allah SWT berfirman:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu…”(QS. Al-Baqarah: 271)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah yang dilakukan secara terang-terangan memang boleh dan baik, tetapi yang dilakukan secara tersembunyi justru lebih baik lagi karena lebih menunjukkan rasa keikhlasan kita. Dalam hadits yang sangat terkenal tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, Rasulullah SAW bersabda:
“…dan seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya bukan secara harfiah tangan kiri tidak tahu, tetapi menunjukkan betapa serius orang tersebut menyembunyikan sedekahnya, karena ingin beribadah murni karena Allah.
Menjaga Amal dari Pujian Manusia
Terdapat hal yang jarang dibahas mengenai ibadah umat Islam, yaitu bahaya ketergantungan pada apresiasi manusia. Tidak sedikit orang yang semangat beramal hanya ketika dilihat atau dipuji, namun melemah ketika tidak ada yang mengetahui. Allah SWT telah memperingatkan kita dalam firman nya:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Mempersekutukan dalam ibadah di sini termasuk riya’, yaitu melakukan amal karena ingin dilihat atau dipuji manusia. Riya’ disebut juga oleh Rasulullah sebagai “syirik kecil.” Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa ancaman riya’ sangat serius, bahkan lebih dikhawatirkan oleh Nabi daripada hal-hal lain yang tampak besar.
Ibadah di Saat Tidak Ada yang Melihat
Salah satu bentuk kesalehan yang jarang dibahas adalah terkait menjaga ibadah ketika sendirian. Seseorang mungkin terlihat baik di hadapan manusia, tetapi terkadang berbeda ketika ia sedang sendiri. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”(QS. Al-Mulk: 12)
Kata takut kepada Allah “dalam keadaan tidak terlihat” disini menunjukkan keimanan yang kokoh. Orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, atau mereka takut kepada-Nya walau mereka itu sendirian dan tidak terlihat oleh siapa pun akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Rasulullah Saw juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapat naungan Allah:
“Dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’” HR. Bukhari dan Muslim)
Keistimewaan orang dalam hadis ini bukan karena situasinya terlihat publik, tetapi justru karena ia menolak maksiat saat ada kesempatan dan tidak ada yang mengetahui selain Allah.
Sering kali kita mengejar amal besar yang terlihat menarik untuk dikerjakan, padahal Islam lebih menghargai konsistensi yang mungkin kecil dan tidak terlihat. Rasulullah Saw bersabda:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu (terus-menerus), walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist ini mengajarkan bahwa kualitas amal bukan pada besarnya perhatian manusia, tetapi pada ketekunan dan keikhlasan amal itu kepada Allah Swt.
Menghidupkan Kembali Semangat Beramal Saat Sunyi
Dalam era media sosial, tantangan riya’ semakin besar. Banyak amal mudah dipublikasikan dan diapresiasi. Walaupun niat bisa tetap lurus, risiko tercampurnya motivasi juga meningkat.
Oleh karena itu, seorang Muslim perlu memiliki “tabungan rahasia” dengan Allah, yaitu amal yang tidak diketahui siapa pun: shalat malam yang tidak diumumkan, sedekah tanpa identitas, doa untuk orang lain tanpa sepengetahuan mereka, dan istighfar di saat sunyi.
Kesalehan sejati bukan hanya yang terlihat, tetapi yang tetap hidup saat tidak ada yang memuji. Amal-amal tersembunyi inilah yang menjadi penopang keikhlasan dan penguat hubungan hamba dengan Rabb-nya. [Dani Hasan Ahmad]











