almuhtada.org – Olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan proses adaptasi biologis yang terbentuk melalui konsistensi. Kebugaran adalah hasil dari stimulus yang terus-menerus.
Tubuh yang rutin dilatih akan menyesuaikan diri. Efeknya dapat meningkatkan kekuatan otot, kapasitas jantung-paru, hingga daya tahan metabolik. Namun, ketika latihan dihentikan secara sengaja maupun karena keadaan tertentu, proses adaptasi tersebut tidak berhenti begitu saja.
Lantas, perubahan apa saja yang terjadi pada tubuh saat aktivitas fisik tidak lagi dilakukan?
- Hari ke-5: Penurunan Sistem Energi Anaerobik dan Kecepatan Maksimal
Sistem anaerobik sangat penting untuk aktivitas berdurasi singkat dan intensitas tinggi, seperti sprint dan gerakan eksplosif. Pada sekitar hari kelima setelah berhenti berlatih, efek pertama yang dilihat adalah penurunan pada sistem energi anaerobik dan kecepatan maksimal.
Ketika latihan berhenti, kemampuan otot untuk menghasilkan energi secara cepat melalui sistem ATP-PC mulai menurun. Akibatnya, kecepatan dan daya ledak otot berkurang, yang menyebabkan kinerja lebih buruk dalam aktivitas cepat. Saat atlet tetap berlatih secara rutin, mereka sering merasa tubuh mereka “kurang responsif” dan mereka tidak bergerak secepat sebelumnya.
- Hari ke-15: Penurunan Strength Endurance (Daya Tahan Kekuatan)
Memasuki hari ke-15 tanpa latihan, penurunan mulai terlihat pada strength endurance, yaitu kemampuan otot untuk melakukan kontraksi berulang dalam waktu tertentu. Otot menjadi lebih cepat lelah ketika digunakan untuk aktivitas yang membutuhkan kekuatan berulang, seperti angkat beban ringan dengan repetisi banyak atau aktivitas fisik berkelanjutan.
Penurunan ini terjadi akibat berkurangnya adaptasi otot terhadap kelelahan, menurunnya efisiensi kerja serabut otot, serta berkurangnya aktivitas enzim metabolik. Akibatnya, aktivitas yang sebelumnya terasa ringan mulai terasa lebih berat dan cepat menimbulkan kelelahan.
- Hari ke-18: Penurunan Sistem Energi Glikolisis
Sistem energi glikolisis anaerobik mengalami penurunan yang cukup besar pada hari ke-18. Sistem ini berfungsi untuk olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berlangsung sekitar tiga puluh hingga dua menit. Misalnya, lari jarak menengah atau permainan olahraga dengan intensitas tinggi.
Setelah berhenti berolahraga, otot tidak dapat mengubah glukosa menjadi energi, sehingga tubuh lebih cepat lelah saat melakukan aktivitas intensitas menengah hingga tinggi. Selain itu, kemampuan untuk berpartisipasi dalam olahraga permainan atau latihan interval juga menurun.
- Hari ke-30: Penurunan Daya Tahan Aerobik
Setelah 30 hari tanpa latihan, dampak yang paling jelas terlihat adalah penurunan daya tahan aerobik. Daya tahan aerobik berkaitan dengan kemampuan jantung, paru-paru, dan sistem peredaran darah dalam menyuplai oksigen ke otot selama aktivitas berlangsung lama.
Penurunan ini ditandai dengan berkurangnya kapasitas VO₂ max, penurunan efisiensi jantung, serta meningkatnya rasa lelah saat melakukan aktivitas ringan seperti jogging atau naik tangga. Individu yang berhenti berolahraga akan merasa lebih cepat ngos-ngosan, meskipun melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan.
- Hari ke-30: Penurunan Kekuatan Maksimal
Pada hari ketiga puluh, selain daya tahan aerobik, kekuatan maksimal, yang merupakan ukuran otot yang dapat menghasilkan gaya terkuat dalam satu kontraksi, mulai mengalami penurunan yang signifikan.
Atrofi otot adalah penurunan ukuran dan fungsi serabut otot tanpa latihan. Selain itu, sistem saraf menjadi kurang efektif dalam memperoleh unit motorik. Akibatnya, kemampuan untuk mengangkat beban berat atau menghasilkan tenaga yang besar secara substansial menurun. [Muhammad Ikhsanudin]











