almuhtada.org – Rezeki yang diberikan oleh kepada makhluknya bisa melalui berbagai cara, sebab ataupun wasilah (wasilah). Karena allah adalah Maha Memberi dan Maha Kaya.
Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Q.S Ar-Rum ayat 40
“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”
Rezeki juga dibagi menjadi 2 yaitu: berupa materi dan non materi. Rezeki yang berupa materi seperti harta yang bisa dirasakan oleh panca indera sedangkan rezeki yang berupa non materi adalah kesehatan, kebahagiaan, kedamaian, kecerdasan dan lain sebagainya, Rezeki dapat diperoleh kapanpun dan dengan cara apapun asal dengan cara yang halal.
Beriku 4 cara Allah swt memberikan rezeki kepada manusia
- Melalui Usaha dan Pekerjaan
Bekerja adalah usaha yang dilakukan manusia untuk mendapat penghasilan supaya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya yang meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dengan pelantara ini maka manusia akan memperoleh rezeki dari allah swt
Sebagaimana Allah memerintahkan manusia untuk mencari rezeki dibumi yang telah dibentangkan oleh-Nya seperti dalam Q.S Al-Mulk ayat 15
“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al-Mulk: 15).”
- Dengan bertawakkal kepada Allah swt
Seperti yang sudah disingggung diatas bahwa manusia diperintahkan untuk mencari rezeki lewat pekerjaan namun perlu digarisbawahi bahwa bertawakal kepada Allah juga hal penting dalam bekerja.
Dengan tawakal kita menyerahkan semua urusan kepada- Nya namun disertakan usaha dan ikhtiar sebelumnya.
Sebagaimana firman Allah dalam Q.S At-Talaq ayat 2
“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan”
- Melalui Silaturahim
Silaturahim berarti menjaga hubungan baik dengan sesama,baik sesama muslim, sesama suku, dan lainnya. meskipun ada kerabat yang berbuat buruk Rasulullah tetap memerintahkan untuk menjaga hubungan silaturahim.
Sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: Dari Ibnu Syihab dia berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahim” (HR Bukhari) [Shahih No.5986 Versi Fathul Bari].
- Sebab Rahasia Allah swt
Allah Swt memiliki rahasia yang tidak selalu dapat dipahami oleh manusia, termasuk dalam hal rezeki. Dalam kehidupan nyata, terdapat perbedaan kadar dan cara perolehan rezeki pada setiap manusia. Ada yang tampak jelas sebabnya, ada pula yang datang tanpa disangka-sangka.
Allah Swt. terkadang menunjukkan kekuasaan-Nya melalui rezeki yang datang secara luar biasa, seperti ketika Allah memberikan makanan kepada Maryam a.s atau mukjizat Nabi Muhammad saw yang mengeluarkan air dari sela-sela jari beliau.
Hal demikian bukanlah sesuatu yang mustahil, karena Allah swt sendiri berfirman di dalam Al-Qur’an surat At-Talaq ayat 3:
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (QS At-Talaq: 3)
[Azizah Fiqriyatul Mujahidah]











